Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Saireri
  3. Kontribusi pariwisata perairan Kwatisore pada rakyat dipertanyakan
  • Kamis, 09 November 2017 — 21:03
  • 1109x views

Kontribusi pariwisata perairan Kwatisore pada rakyat dipertanyakan

Kawasan yang diakui Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) sebagai tempat habibat hiu paus itu berada di dua kemilikan wilayah, yakni kampung Sima dan Kwatisore.
Hiu Paus jinak yang berada di perairan Kwatisore, Yaur, Nabire - Ist
Abeth You
Editor : Edi Faisol
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Nabire, Jubi – Kontribusi pariwisata terhadap rakyat Nabire dipertanyakan, khususnya destinasi di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, yang identik dengan satwa Hiu Paus. Kawasan yang diakui International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebagai tempat habibat hiu paus itu berada di dua kemilikan wilayah, yakni kampung Sima dan Kwatisore.

“Keberadaan hiu paus itu membuat wisatawan berbondong-bondong datang, tapi tidak ada kontribusi bagi pemilik hak ulayat,” kata Sekretaris suku besar Yerisiam Gua, Nabire, Robertino Hanebora, Kamis (9/11/20170

Ia menjelaskan informasi perairan Kwatisore, Distrik Yaur dengan hiu paus pemakan plangton itu telah membuka peluang bagi turis dari manca negara datang melihat. Kondisi itu, diyakini menjadi aset daerah mengeruk pemasukan sektor wisata yang besar.

“Namun tak diimbangi dengan pemberdayaan masyarakat lokal yang berada di Sima dan Kwatisore, juga Distrik Yaur agar bisa mendapatkan peran dari sektor pariwisata,” kata Hanebora, menambahkan.

Ia menuding pengakuan lembaga konservasi dunia terhadap hiu paus di wilayah itu hanya menguntungkan pemerintah daerah dan pengusaha. Sedangkan masyarakat lokal hanya menjadi penonton.

Hanebora berharap pemerintah dan masyrakat adat duduk bersama mendesain peluang bisnis wisata agar sama-sama menguntungkan. “Termasuk retribusi  untuk membangun kampung sekitar,” katanya.

Aktivis suku Yerisiam, Gunawan Inggerui  menyatakan siap melarang wisata hiu paus jika kebijakan pemerintah Nabire mementingkan sepihak.

“Intinya rakyat dapat apa dari peluang wisata Hiu Paus ini ? Kalau hanya untuk kepentingan sepihak,” kata Gunawan.

Ia menjelaskan ikan itu tidak bisa diklaim sebagai milik seseorang. “Karena dia bukan bagian dari hak ulayat tapi bagian dari penunjang hak ulayat,” ungkap Gunawan. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Sambut Natal, relawan mama-mama pasar Nabire buat lomba

Selanjutnya

Berdayakan nelayan lokal, Bupati Nabire serahkan sejumlah bantuan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe