Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Memprihatinkan, pedagang pasar Sore Nabire jualan di pinggir jalan
  • Jumat, 10 November 2017 — 15:02
  • 1348x views

Memprihatinkan, pedagang pasar Sore Nabire jualan di pinggir jalan

Mereka minta tangungjawab Bupati Nabire agar membangun pasar lebih luas dan bisa menampung mama mama Papua  yang telah berjualan di pingir jalan.
Tampak mama-mama Papua di pasar sore Nabire sedang jajakan dagangannya di tepian jalan raya, Kamis,(9/11/2017) – Jubi/Abeth You
Abeth You
Editor : Edi Faisol
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Nabire, Jubi - Mama-mama pedagang di pasar sore Nabire berjualan di pinggir jalan, mereka mejajakan dagangan di kawasan di KPR Siriwini, distrik Nabire Kota,karena tidak ada mampu membeli lapak resmi di dalam pasar.

“Kami biasa jualan di pinggir jalan ini. Pasar bagian dalam penuh. Jadi, mau tak mau kami taruh jualan di sini saja,”  kata mama Rosa Agapa, saat ditemui Jubi, Kamis, (9/11/2017).

Rosa tak mendapatkan tempat jualan yang layak sejak tahun 1999 sejak zaman bupati A.P.Youw hingga bupati sekarang Isaias Douw. Pantauan Jubi, lokasi pasar sore yang berukuran 120 kali 140 meter ditempati penjual ikan di bagian belakang, sedangkan sisi kanan kios banyak untuk pertokoan, mama-mama Papua menempati tengah hingga depan.

Rosa minta tangungjawab Bupati Nabire agar membangun pasar lebih luas dan bisa menampung mama mama Papua  yang telah berjualan di pingir jalan. “Bapak bupati ini kami yang pilih, kami yang kasih suara. Dia janji mau bikin baik tapi tidak ada,” kata mama Rosa menjelaskan.

Menurut dia, berdagang di pinggir jalan sangat rawan, selain kumuh banyak kendaran lewat sehingga menganggu aktivitas jual beli. Keberadaan  mama mama pedagang itu juga sering menimbulkan kemacetan dan saling senggol.

Pedagang lain, Mama Vinsensia Rumbiak menyatakan, kehidupan para pedagang yang tak mendapatkan tempat itu tak adil, apa lagi keberadaan pasar menggunakan tanah hak ulayat. “Kami hidup dengan banyak keterbatasan di pasar ini. Tidak ada tempat seperti meja jualan yang layak,” kata Rumbiak.

Selain  minim fasilitas, mama mama pedagang yang tak mendapat kios juga terlihat kumuh karena tak ada fasilitas kebersihan.  “Buktinya sampah saja masih tumpukan besar di samping pasar ini, tidak pernah dibersihkan,” katanya.

Kondisi itu memperburuk pasar tradisional tempat perputaran ekonomi kerakyatan.

Petugas retribusi pasar sore Nabre, Anang menyatakan keberadaan mama mama yang tak jualan di pinggir jalan tak dipungut retribusi. Menurut dia, pungutan retribusi hanya untuk pedagang yang memiliki rumah kios “Dalam rangka peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Kami tidak pungut retribusi kepada mama-mama yang jualan di pinggiran jalan," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Okupansi hotel di kota Jayapura terdongkrak kegiatan pemerintah

Selanjutnya

Mitsubishi Xpander resmi mengaspal di Jayapura 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6111x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5713x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3800x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe