Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Warga Banti : Kami tidak disandera
  • Minggu, 12 November 2017 — 15:39
  • 8269x views

Warga Banti : Kami tidak disandera

"Orang-orang non-papua tidak disandera, mereka bebas. Tapi TPN tidak dapat menjamin keselamatan mereka jika mereka melewati zona pertempuran dan terjebak dalam baku tembak," lanjut Kibak.
Warga Kampung Banti menjemput sembako bantuan Pemerintah Kabupaten Mimika di Tembagapura untuk dibawa naik ke kampung - IST
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Seorang pemimpin suku Amungme yang tinggal di Kampung Banti berhasil diwawancarai oleh Fairfax, jaringan media Australia. Jonathan Kibak, warga yang turun dari Banti ini diwawancarai di Timika, Sabtu (11/11/2017). Ia memastikan semua penduduk di kampung Banti aman.

“Saya ingin menegaskan, bahwa kami tidak disandera. Tidak ada orang di kampung yang berhenti melakukan aktivitas sehari-hari,” kata Jonatan Kibak.

Banti dan Kimbeli, dua kampung memang berada di tengah penjagaan kelompok bersenjata yang menyebut diri mereka sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) dengan aparat keamanan Indonesia.

Pada Kamis (9/11/2017), Kepala Kepolisian RI Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengatakan, kelompok bersenjata yang diduga sebagai pelaku serangkaian tembakan di kawasan PT. Freeport Indonesia telah menahan sekitar 1.300 orang di Desa Kimbely dan Desa Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Tito menuturkan, kelompok tersebut merupakan pemain lama dan sudah ada sejak dirinya menjabat sebagai Kapolda Papua pada 2012.

Tito menjelaskan, kelompok bersenjata ini memanfaatkan para pendulang liar limbah Freeport untuk mencari keuntungan.

"Modus yang paling sering dilakukan adalah para pendulang ini dijadikan tameng. Jadi yang dikatakan penyanderaan itu adalah para pendulang yang kemudian dijadikan tameng," kata Tito di Jakarta.

Sabtu (11/11/2017), tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri dan Pemda Mimika mulai mendirikan posko penampungan warga dari Banti dan Kimbeli yang rencananya akan dievakuasi. Beberapa posko penampungan didirikan di samping gedung Tongkonan di Jalan Sam Ratulangi, Kota Timika.

Jonathan Kibak, kepada Fairfax mengatakan orang asli Papua seperti dirinya, adalah petani yang bisa hidup dari singkong, kedelai dan produk lainnya yang mereka tanam, dan tidak memiliki keinginan untuk dievakuasi dari daerah tersebut. Ia mengatakan mereka takut militer dan polisi Indonesia mungkin akan menganggap mereka salah satu anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat.

Kibak mengatakan bahwa orang-orang non-Papua juga aman.

"Orang-orang non-Papua tidak disandera, mereka bebas. Tapi TPN tidak dapat menjamin keselamatan mereka jika mereka melewati zona pertempuran dan terjebak dalam baku tembak," lanjut Kibak.

Kibak membenarkan bahwa Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat menggeledah toko-toko penduduk desa non-Papua untuk memastikan mereka tidak menyelundupkan barang-barang untuk militer, namun toko-toko itu tidak dibakar sampai habis.

"Mereka aman, mereka tidak diperlakukan secara berbeda, mereka adalah tetangga kita," jelas Kibak mengenai warga non-Papua di Banti.

Kibak bertemu dengan Fairfax Media di kota Timika, sekitar 64 kilometer dari zona konflik di Tembagapura, setelah dia melewati hutan dan kemudian naik helikopter Freeport pada tanggal 2 November.

"Seperti yang bisa Anda lihat, saya di sini, tidak ada yang menghentikan saya, saya akan kembali minggu depan," katanya.

Pemkab dan Polisi bagikan sembako
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Mimika mulai mendistribusikan bantuan sembako untuk warga di Kampung Banti dan Kimbely, sejak Sabtu.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, proses pembagian sembako hanya dapat dilakukan di sekitar Polsek Tembagapura. Sebab akses menuju dua kampung itu masih dihalangi oleh kelompok bersenjata.

"Sebanyak dua kontainer berisi sembako tak bisa didistribuskan langsung ke warga di dua kampung itu. Jadi, bantuan tersebut disalurkan ke warga di sekitar Mapolsek Tembagapura," ujarnya.

Ditambahkan oleh Kamal, polisi tidak meminta satupun warga yang datang mengambil pasokan sembako untuk memberi tahu polisi tentang kondisi di kampung Banti atau Kimbeli karena pihaknya tidak ingin masyarakat dianggap sebagai informan polisi.

"Kampung-kampung terpojok, jadi kita hindari itu. Yang penting bagi kita adalah sisi kemanusiaan. Kami berharap dengan berdatangannya penduduk kampung, informasi bisa sampai ke kampung dan sisanya juga bisa datang kesini,” lanjut Kamal.

Bantahan TPN-PB
Terpisah, Komandan TPN-PB, Hendrik Wanmang menekankan bahwa penduduk kampung Banti dan Kimbeli tidak dijadikan sasaran namun secara efektif terjebak karena desa-desa tersebut berada di dekat zona konflik.

Wanmang membenarkan pernyataan Kibak yang mengatakan orang asli Papua tidak ingin dievakuasi. Menurutnya pihaknya sedang membahas bagaimana cara agar warga non-Papua bisa meninggalkan dua kampung tersebut.

"Saya masih mempertimbangkan bagaimana mengeluarkan mereka dari sini," katanya kepada Fairfax Media melalui telepon. Jika saya mengeluarkan mereka, saya harus mempertimbangkan apa yang akan dilakukan oleh TNI (TNI) dan polisi terhadap orang asli Papua,” ungkap Wanmang.

Wanmang menegaskan ia harus  membuat keputusan secara hati-hati dan harus mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan apapun.

"Saya tidak ingin ada nyawa yang hilang, saya tidak ingin ada masyarakat yang menjadi korban," katanya.

Wanmang mengatakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat adalah pejuang kemerdekaan yang ingin "membebaskan bangsa".

"Tujuan utama perjuangan kami adalah untuk menuntut kedaulatan dan kebebasan bagi orang Papua. Kami menginginkan pengakuan oleh pemerintah Indonesia dan Belanda, Amerika dan PBB, yang merupakan pelaku utama yang mengatur untuk keuntungan Freeport yang mengakibatkan Papua diintegrasikan ke dalam Indonesia, " jelas Wanmang.

Ia juga membantah tudingan aparat keamanan yang menyebutkan TPN-PB berada di balik kasus kekerasan – seperti pemerkosaan, pembakaran kios dan perampasan uang di wilayah tersebut. Menurutnya, tudingan-tudingan tersebut hanyalah upaya aparat keamanan Indonesia untuk mendiskreditkan perjuangan bersenjata yang dilakukan TPN-PB

“Media-media harus turun ke lapangan baru bisa membuat kesimpulan apakah hal-hal itu benar dilakukan TPN-PB. Itu (berita-berita) adalah pembohongan publik,” kata Wanmang.

Polisi keluarkan daftar 21 DPO
Polisi telah mengeluarkan daftar sebanyak 21 orang yang diduga terlibat dalam penembakan tersebut dan memiliki senjata api ilegal. Hukuman maksimal untuk dua tuntutan potensial adalah hukuman mati.

"Kami meminta kelompok tersebut untuk segera menyerah untuk menghindari korban karena kami tidak menginginkan hal itu terjadi. Papua membutuhkan kondisi damai terutama untuk Natal yang akan datang,” ungkap Kabidhumas Kamal.

Kapolres Mimika AKBP Victor Dean Mackbon dikutip Kantor Berita Antara mengatakan 21 orang tersebut diduga kuat terlibat berbagai aksi teror penembakan terhadap kendaraan dan fasilitas milik PT Freeport Indonesia, kasus penembakan terhadap anggota Brimob, kasus penembakan terhadap warga sipil, kepemilikan senjata api dan lainnya sejak 2015 sampai sekarang.

Kapolres memastikan ke-21 DPO tersebut kini menguasai sejumlah perkampungan di dekat Kota Tembagapura seperti Utikini Lama, Kimbeli hingga Banti.

Identitas 21 terduga pelaku penembakan di wilayah Tembagapura yang masuk dalam DPO Polres Mimika tersebut adalah : Ayuk Waker, Obeth Waker, Ferry Elas, Konius Waker, Yopi Elas, Jack Kemong, Nau Waker, Sabinus Waker, Joni Botak, Abu Bakar alias Kuburan Kogoya, Tandi Kogoya, Tabuni, Ewu Magai, Guspi Waker, Yumando Waker alias Ando Waker, Yohanis Magai alias Bekas, Yosep Kemong, Elan Waker, Lis Tabuni, Anggau Waker, dan Gandi Waker.

Ketegangan di Papua telah meningkat baru-baru ini di tengah negosiasi antara Freeport dan pemerintah Indonesia mengenai divestasi tambang Grasberg.

Terjadi serangkaian penembakan di daerah dekat tambang dalam beberapa pekan terakhir. Seorang anggota polisi tewas pada 22 Oktober dan sebuah ambulans milik Freeport ditembaki hingga melukai seorang wanita yang baru melahirkan. (*)

loading...

Sebelumnya

Aniaya wartawan, lima anggota Polres Mimika diperiksa

Selanjutnya

Yunus Wonda: Serapan APBD, catatan untuk eksekutif

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe