Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Amerika, si raja ekspor senjata (makan tuan)
  • Minggu, 12 November 2017 — 17:31
  • 797x views

Amerika, si raja ekspor senjata (makan tuan)

Jika ditotal, AS meraup porsi 33 persen dari keseluruhan ekspor senjata dunia
Salah satu toko penjual senjata di Amarika Serikat. China Daily/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi
 

Texas, Jubi - Senin (6/11) lalu, publik Amerika Serikat kembali dikejutkan peristiwa penembakan massal. Setelah pada 1 Oktober lalu 59 orang tewas di sebuah konser di Las Vegas, kini giliran penembakan massal menyasar sebuah gereja di Sutherland Springs, Texas. Dikabarkan 26 orang tewas.

Freeman Martin, jubir Departemen Keamanan Publik Texas menggambarkan sosok tersangka penembak tersebut sebagai seorang pria kulit putih muda berusia 20-an awal, mengenakan pakaian berwarna hitam dan rompi peluru, serta membawa senapan serbu.

Sebelum masuk ke First Baptist Church, ia menembaki bangunan dari luar lalu masuk ke dalam dan menghamburkan peluru ke seluruh jemaat misa yang tengah berlangsung.

Pendeta First Baptist Church, Frank Pomeroy, mengatakan kepada ABC News bahwa anak perempuannya yang berusia 14 tahun, Annabelle, terbunuh dalam penembakan tersebut.

Pria penembak kemudian melarikan diri dan menabrakkan mobilnya di Guadalupe Contry. Polisi menemukan tersangka tewas di mobil yang sama, sementara belum jelas apakah meninggal karena peluru warga setempat atau bunuh diri.

Peristiwa ini menambah panjang daftar penembakan massal di AS. Merujuk data Mother Jones, penembakan Gereja First Baptist ini adalah penembakan massal ke-79 sejak tahun 1982.

Hukum di AS memperbolehkan tiap warganya memiliki senjata api. Berbagai toko senjata api mudah ditemui di negara ini. Ada kecenderungan permintaan senjata api naik tiap kali insiden penembakan massal terjadi.

Majalah Slate menulis, negara semestinya bisa menekan angka kematian konyol akibat aksi koboi pemilik bedil. Legislatif harus memberlakukan pajak baru untuk dealer dan produsen senjata. Dana pajak ini nantinya dialokasikan khusus untuk membayar tagihan medis korban kekerasan senjata.

“Industri senjata api bertanggung jawab atas krisis senjata api di Amerika. Mereka harus ganti rugi,” tulisnya.

Publik juga masih ingat, ketika seorang Tentara Angkatan Darat Amerika Serikat keturunan Indonesia, Audi Sumilat menjual senjata api ilegal pada anggota pasukan pengamanan presiden (Paspampres) Indonesia.

Otoritas keamanan Amerika Serikat menyebutkan Audi Sumilat bergabung dengan sebuah konspirasi untuk membeli senjata di Texas dan New Hampshire. Penjualan itu ditujukan bagi pasukan pengamanan Presiden (Paspampres) Indonesia.

Paspampres sendiri tidak diperbolehkan memiliki senjata pribadi.Sumilat mengaku, dia dan tiga anggota penjaga datang dengan rencana menjual senjata ketika mereka sama-sama ditempatkan di pelatihan Fort Benning, Georgia.

Sumilat dikenakan hukuman maksimal lima tahun penjara dengan denda sebesar USD 250.000 setara Rp 3,2 miliar. [

Bedil tak hanya mudah dibeli di AS, bahkan sektor bisnis industri senjata api di negeri Paman Sam telah menguasai dunia selama beberapa dekade terakhir.

Menurut data yang dihimpun Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), ekspor AS memenuhi permintaan sistem pertahanan rudal dan pesawat tempur yang persentasenya naik 21 persen dalam kurun waktu 2011 sampai 2016.

Jepang, Kuwait, Polandia, Qatar, Korea Selatan, Arab Saudi, Taiwan dan Uni Emirat Arab adalah sederet negara yang memakai sistem pertahanan rudal Patriot PAC-3 dari AS. Jika ditotal, AS meraup porsi 33 persen dari keseluruhan ekspor senjata dunia selama kurun waktu tersebut.

Timur Tengah adalah kawasan yang paling banyak menerima ekspor senjata dan peralatan militer dari AS sebesar 47 persen, dengan Arab Saudi sebagai negara pengimpor terbanyak (13 persen). Disusul kawasan Asia dan Oceania (35 persen), Eropa (10 persen) dan sisanya (2.3 persen) untuk Afrika.

Pada 2016 sendiri, Amerika masih memuncaki nomor wahid perdagangan senjata yang tercatat senilai $9,9 miliar. Posisi puncak ini sudah dipegang AS sejak tahu 1950 saat SIPRI memulai penghimpunan data.

Rusia membuntuti AS dalam hal perdagangan ekspor senjata dan peralatan militer. Peningkatan selama kurun waktu 2012 sampai 2016 sebesar 4.7 persen. Importir senjata dari Rusia mayoritas didominasi kawasan Asia dan Oceania yang menyumbang 68 persen, disusul Afrika 12 persen, Timur Tengah 8,1 persen dan Eropa 5.9 persen.

India sebagai negara terbanyak yang membeli senjata dengan 38 persen. Disusul Vietnam dan Cina sebesar 11 persen dan negara-negara lainnya seperti Aljazair, Azerbaijan hingga Venezuela. Secara umum, puncak kejayaan ekspor senjata dari Rusia terjadi selama kurun 2011 sampai 2013. Nilai ekspor senjata Rusia pada tahun 2016 sendiri tercatat $6,4 miliar.

Laporan SIPRI 2015 menunjukkan perusahaan senjata dan pertahanan asal AS mendominasi penjualan senjata dunia. (*)

Sumber: Tirto.id/Merdeka.com

 

loading...

#

Sebelumnya

Negara-negara di dunia, yang runtuh dan lahir

Selanjutnya

Indonesia akan kirim ulama ke Marawi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe