Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Medsos senjata modern, benar ka?
  • Senin, 13 November 2017 — 03:46
  • 1443x views

Medsos senjata modern, benar ka?

Media sosial ini berkembang pesat tanpa ada rambu-rambu yang dapat mengikat orang dengan hukum apabila melakukan kesalahan dalam mem-posting sesuatu, sehingga dalam perkembangannya digunakan setiap individu sebagai “media” yang lebih elegan dan sejuk.
Ilustrasi - Tempo.co
Hengky Yeimo
yeimohengky@gmail.com
Editor : Timoteus Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Hengky Yeimo

Di Indonesia demam internet mulai dirasakan pada tahun 1995 menyusul perkembangan teknologi komputer yang telah muncul sebelumnya. Media baru atau jejaring sosial (medsos) atau lebih spesifik mulai berkembang pesat tahun 2002. Perkembangan teknologi informasi memasuki era social networking website atau media sosial awalnya digunakan lewat friendster (2002), myspace (2003), facebook (2004), disusul medsos lainnya.

Di Papua internet baru dikenal di kalangan pemerintahan tahun 2000-2003. Di Jayapura, warung internet (warnet) muncul tahun 2000 di sebelah Saga Mall. Warnet pertama kantor pos buka tahun 1999 dan infopapua.com tahun 1999. Masyarakat luas mulai menggunakannya tahun 2004-2005 hingga sekarang beredar luas. Sedangkan facebook baru ramai tahun 2007-2008. Sebelumnya masyarakat menggunakan friendster, email, dan blogspot. Sejak tahun 2010, medsos lainnya, seperti, twitter, Black Berry Mesangger (BBM), Instagram, Wattshap, dan Skype bermunculan. Tidak terbayangkan bagaimana bentuk internet ke depan, seperti blog, facebook yang berkembang pesat.

Media sosial ini berkembang pesat tanpa ada rambu-rambu yang dapat mengikat orang dengan hukum apabila melakukan kesalahan dalam mem-posting sesuatu, sehingga dalam perkembangannya digunakan setiap individu sebagai “media” yang lebih elegan dan sejuk.

Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, para pengguna medsos dapat menyebarkan opininya secara lebih luas, dan berdiskusi secara intens melalui media ini. Mereka saling bertukar informasi dalam bentuk tulisan, foto, rekaman suara dan video, yang terus-menerus difasilitasi medsos—yang tingkat pertumbuhannya begitu pesat. Maka penting untuk selalu hati-hati dalam menggunakannya.

Berikut saya menuliskan sedikit dari banyak fenomena yang kerap terjadi, baik sengaja maupun tidak sengaja pada pengguna medsos, khususnya orang Papua. Jujur saya agak rumit membahasakan prilaku mereka. Bisa dikatakan unik, bisa juga tidak. Karena setiap orang dengan pandangan yang berbeda-beda menuangkan ide/gagasannya di media tersebut tanpa pengontrolan seperti media mainstream (arus utama). Berikut fenomena yang berhasil dicatat:

Pertama, sejak akhir Agustus-Sepetember 2017 orang Papua saling menyerang di facebook soal referendum dan dialog sektoral yang diusung Jaringan Damai Papua (JDP). Kemudian tiap orang menuangkan ide subjektifnya mengenai hal tersebut, tetapi tidak ada solusi yang ditemukan. Malah menebar kebencian dan berlalu begitu saja;

Kedua, ada pengguna facebook yang mengeluh karena dikirim pesan, entah oleh laki-laki atau perempuan untuk meminta “kenalan”, pacaran, bahkan tawar-menawar sampai jutaan rupiah demi mendapatkan nomor HP. Persoalan lainnya, pengguna facebook cenderung membuat status (postingan) untuk mencaci maki, marah-marah, bermusuhan, dan membuat mosi tidak percaya. Padahal melalui media ini kita bisa mendiskusikan banyak hal yang bermanfaat.

Berangkat dari dua fenomena di atas, media massa (cetak, elektronik dan online) dan organisasi profesi (AJI, PWI dan IJTI) seharusnya menjalankan perannya untuk melakukan literasi media. Sebab medsos, sebenarnya wahana hiburan meski tak jarang digunakan sebagai sarana bisnis.

Apabila Anda sudah menggunakan medsos sebagai suatu kebutuhan, maka yang mesti diutamakan ialah “kehati-hatian” dalam meng-update status atau membagikan informasi. Pengguna harus menghindari isu suku, ras, agama dan antargolongan (SARA), komentar yang memancing kemarahan atau menyebut “kebun binatang”, menjatuhkan martabat orang, menghina, dan meremehkan pejabat publik, serta menghindari opini tanpa data. Jika kita terlarut dan hanyut serta menyelaminya, tentu akan menjadi “senjata” bagi sesama untuk saling menyerang. Media baru ini lalu menjadi “senjata modern”.

Pengguna medsos mesti bisa membedakan mana medsos dan media mainstream untuk mengakses informasi. Walaupun demikian, perubahan tidak bisa dibendung, apalagi di era “epen cupen” seperti sekarang ini. Zaman seperti ini mungkin butuh kesadaran pribadi dan kecerdasan dalam menggunakan medsos.

Penulis menyadari, bahwasannya semakin banyak medsos atau “media baru”, semakin banyak pula ruang-ruang publik yang terbuka luas. Media baru ini juga akan selalu ada ruang-ruang baru. Ruang baru ini bisa berdampak baik dan buruk jika tidak mengidentifikasi persoalan dengan baik. Bukankah ini akan menjadi bumerang bagi orang Papua atau malah sebagai suatu keberuntungan?

Persoalan sindiran dan caci maki di media terbuka seperti facebook dan twitter, antarorang Papua mungkin hanya masalah privat dalam mengekpresikan potensi dirinya. Akan tetapi, itu tidak mewakili semua orang Papua.

Media-media baru ini seolah-olah membawa “petaka” bagi keharmonisan orang Papua, yang telah terjaga baik di dalam kekerabatan, maupun persahabatan dewasa ini.

Kita juga perlu menyadari bahwa medsos bukan satu-satunya ruang kreatif untuk berekspresi di era modern, dan segala yang bersifat pribadi tidak harus diekspresikan di sini, sebab medsos bukan satu-satunya ruang (berkreasi) bagi kita.

Agar tidak terjadi kekeliruan yang fatal, perlu adanya ruang-ruang kebudayaan untuk mengeksplorasi kekayaan yang dimiliki anak-anak Papua, sehingga tidak ada kesan kita hanya “jago” di medsos.

Sadar atau tidak orang akan berhadapan dengan hal-hal seperti di atas tanpa mempertimbangkan efek atau risikonya. Mereka masih menggunakan medsos sebagai sarana yang lebih elegan untuk melakukan segalanya. Itu berarti medsos akan menjadi senjata baru dalam keluarga, kerabat, persahabatan, tetapi juga dapat berdampak positif atau negatif bagi penggunanya meski tergantung penggunanya.  

Menyimak perkembangan teknologi di atas saya dapat menarik benang merahnya. Sepositif-positifnya medsos, semulia-mulianya niat pengguna, tidak pernah berhasil mendapatkan edukasi yang baik ketika menggunakannya. Justru akan dijadikan sebagai media “bebas” yang memperburuk citra dan integritas individu tersebut. Oleh karena itu, harus diwaspadai.

Integritas kita jauh lebih penting daripada hanya sekadar mencari sensasi yang dianggap positif tetapi tidak baik. Oleh karena itu, penting bagi media massa meninjau kembali fungsinya (baca: edukasi), selain memberikan hiburan kepada kahalayak.

Kegagalan lembaga pers atau media massa?

Penguna medsos atau lembaga media harus mewaspadai media baru yang dianggap senjata ampuh ini, dan mengapa harus diwaspadai. Media sosial ini (seolah-olah) tidak mempunyai aturan hukum. Meski UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sudah diberlakukan, pengguna medsos bingung mengaplikasikannya, karena tidak disosialisasikan secara menyeluruh, sehingga tidak semua orang memahami undang-undang ini.

Persoalannya, seolah-olah pengguna medsos tidak mendapatkan edukasi yang baik sehingga integritas dan reputasinya hancur ketika dinilai keburukannya ketimbang melihat hal-hal baik yang dimilikinya. Persoalan di atas menunjukkan bahwa lembaga media gagal dalam melakukan kajian secara cepat berdasarkan pengalaman-pengalaman empiris, dan mengambil langkah-langkah bijak untuk menyikapinya.

Walaupun tidak semua orang menggunakan medsos, saat tertentu mereka menggunakannya sebagai sarana komunikasi. Namun, jika salah menggunakan HP canggih untuk bermedsos, mereka justru menjadi korban berganda.

Kebingungan masyarakat memahami UU ITE dan bermedsos, harus disadari sebagai tamparan bagi media massa. Bahwa ia gagal melakukan literasi media.

Perkembangan media tidak dapat dihentikan kecuali dunia kiamat. Jauh lebih mulia jika media massa melakukan literasi media kepada masyarakat, khususnya guru-guru, dosen, dan mahasiswa yang tidak asing dengan om google.  Literasi media juga harus dilakukan hingga ke masyarakat akar rumput.

Perananan lembaga media, akademisi, relawan-relawan TIK dan Dinas Kominfo, guru, konselor komunikasi, dan masyarakat penting untuk melakukan literasi media. Ketika semua elemen ini bergerak untuk melakukan literasi media, otomatis media baru—senjata baru—perlu diwaspadai dan digunakan secara bijak. (*)

 

Penulis adalah junalis di Koran Jubi dan tabloidjubi.com, serta Koordinator Komunitas Sastra Papua (Kosapa

loading...

Sebelumnya

Masyarakat adat di tengah deru kapitalisasi

Selanjutnya

Urgensi sarana pendidikan di Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe