Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Indonesia akan kirim ulama ke Marawi
  • Senin, 13 November 2017 — 17:38
  • 489x views

Indonesia akan kirim ulama ke Marawi

Keberhasilan Filipina dalam membebaskan kota Marawi penting bagi kawasan dan mengirimkan pesan kuat tentang kekuatan kita dalam melawan terorisme dan ekstrimisme melalui kerja sama
Menlu Retno Marsudi (kiri) bersama Menlu Filipina Alan Peter Cayetano (kanan). Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manila, Jubi - Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan Indonesia siap mengirim ulama ke Marawi, Filipina, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pembangunan kembali kota tersebut setelah sempat dikuasai ISIS selama lima bulan pada Mei lalu.

Pernyataan itu disampaikan Retno usai pertemuan trilateral dengan Malaysia dan Filipina, di sela-sela KTT ASEAN di Manila, Filipina, Minggu (12/11).

Selain mendukung rekonstruksi infrastruktur, Retno menuturkan Indonesia siap membantu memulihkan dan merehabilitasi sejumlah sektor lainnya terutama penguatan pendidikan deradikalisasi demi mengantisipasi terulangnya kembali kekerasan ekstremisme dan radikalisme di wilayah itu.

“Selain rekonstruksi infrastruktur, salah satu fokus dukungan Indonesia adalah terkait sektor pendidikan dan deradikalisasi. RI sampaikan kesiapan membantu pengembangan kurikulum pendidikan agama, pengiriman ulama, untuk menyebarkan nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin melalui madrasah, serta menyediakan lebih banyak beasiswa untuk para pelajar dan mahasiswa asal Marawi,” kata Retno melalui rilis kementeriannya pada Senin (13/11).

Pernyataan tersebut diutarakan Retno dalam pertemuan trilateral bersama Menlu Filipina dan Menlu Malaysia di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-31 di Manila. Dalam pertemuan itu, ketiganya fokus membahas perkembangan situasi Marawi dan langkah selanjutnya memulihkan kota di selatan Filipina tersebut.

Marawi sempat dikuasai pemberontak Maute yang berbaiat kepada ISIS sekitar akhir Mei lalu, hingga memicu Presiden Rodrigo Duterte mendeklarasikan darurat militer di wilayah itu.

Sejumlah pihak pun merasa khawatir bahwa Marawi bisa menjadi basis baru kelompok teroris itu di kawasan seiring dengan kemunduran kekhalifahan pemimpinnya, Abu Bakr al-Baghdadi, di Timur Tengah.

Retno menuturkan bebasnya Marawi dari cengkraman ISIS merupakan awal perjalanan mewujudkan pembangunan dan perdamaian yang berkelanjutan di kota berpenduduk mayoritas Muslim tersebut. Mantan duta besar RI di Belanda itu merasa optimistis bahwa rekonstruksi, rehabilitasi, dan re-integrasi kota Marawi bisa sukses tercapai dengan penguatan kerja sama antara Jakarta, Kuala Lumpur, dan Manila.

“Keberhasilan Filipina dalam membebaskan kota Marawi penting bagi kawasan dan mengirimkan pesan kuat tentang kekuatan kita dalam melawan terorisme dan ekstrimisme melalui kerja sama,” kata Retno.

“Rekonstruksi dan rehabilitasi adalah tugas yang sangat berat. Namun dengan dukungan dan kerja sama, termasuk melalui Trilateral, maka tugas ini akan bias diselesaikan,” kata dia menambahkan.

Selain pengiriman ulama, Retno mengatakan Indonesia siap membantu memperkuat pembangunan kapasitas kota Marawi, terutama dalam hal sumber daya manusia di kota tersebut. Dia menuturkan RI siap memberikan pelatihan bagi para aparat penegak hukum di Marawi melalui Jakarta Centre for Law Enfocement Cooperation (JCLEC).

"Pelatihan dengan kurikulum yang didesain sesuai kebutuhan," kata Retno.

Retno juga menuturkan Indonesia telah berinisiatif menyampaikan usulan Rencana Aksi dan Peta Jalan yang memuat aktivitas jangka pendek hingga panjang kerja sama ketiga negara agar bisa dilaksanakan secara maksimal.

Sejak awal perjanjian trilateral terbentuk, ketiga negara terfokus pada peningkatan efektivitas penanganan kejahatan terorganisir lintas negara, terutama terorisme, khususnya di Laut Sulu dan Sulawesi.

Retno mengikuti rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (KTT ASEAN) yang digelar di Manila, Filipina pada 10-14 November 2017. Menlu RI itu juga mendampingi Presiden Joko Widodo yang menghadiri rangkaian KTT ASEAN dan KTT Asia Timur.

Sementara itu, Minhati Madrais, istri pemimpin kelompok Maute, Omarkhayam Maute, saat ini masih berada di Iligan City, Filipina. Dia ditangkap oleh anggota kepolisian nasional Filipina, Minggu (5/11). Berbagai proses dijalani Minhati selama di Iligan, salah satunya pengecekan kewarganegaraan yang dia miliki. Pasalnya, Minhati memiliki dwi kewarganegaraan, yaitu Indonesia dan Filipina.

KJRI Davao mengatakan proses pertama identifikasi, yaitu identifikasi biometrik wajah dan sidik jari, Jumat (10/11).

Hasil identifikasi menunjukkan adanya kesamaan data paspor Minhati yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi Karawang pada Januari 2012.

"Dari hasil identifikasi itu, Minhati masih menjadi WNI. Hanya saja paspor yang dia gunakan sudah habis masanya," kata Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal di Bogor, Sabtu (11/11).

Sebelumnya, Minhati ditangkap bersama 6 orang anaknya. Kini, KJRI Davao memberikan perhatian pada perlindungan untuk anak-anak Minhati.

"Kita akan berikan perhatian untuk anak-anak Minhati terlebih dahulu, selama Minhati menjalani proses hukum," kata Iqbal.

Kini Minhati menghadapi tuduhan pelanggaran terhadap undang-undang No. 9516 tentang Kepemilikan, Pembuatan, Penguasaan Senjata, Amunisi, dan Bahan Peledak. (*)

Sumber: CNN Indonesia/Merdeka.com
 

loading...

#

Sebelumnya

Amerika, si raja ekspor senjata (makan tuan)

Selanjutnya

Saling ejek ala pemimpin dunia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe