Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Kalimantan
  3. Internet, hoax dan penopang ekonomi negara
  • Senin, 13 November 2017 — 17:44
  • 916x views

Internet, hoax dan penopang ekonomi negara

Saat ini, merujuk apa yang dipaparkan Numbeo, rata-rata tarif internet per bulan di Indonesia untuk kecepatan 60 Mbps $31,30 per bulan. Bila dirupiahkan, harga rata-rata internet di Indonesia lebih dari sekitar Rp423 ribu per bulan.
Pabrik smartphone di Tangerang, Banten. Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pontianak, Jubi - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Singkawang, Kalimantan Barat, menggelar Roadshow Internet Sehat di lima SMA/SMK yang ada di Kota Singkawang, Senin ( 13/11/2017).

"Lima sekolah yang kita kunjungi adalah SMAN 1, SMAN 3, SMKN 1, SMKN 2 dan SMKN 3," kata Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Diskominfo Singkawang, Evan Ernanda.

Dimana Roadshow Internet Sehat ini, katanya, bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pengguna media sosial khususnya kepada pelajar SMA/SMK.

Diharapkan para pelajar SMA/SMK ini bisa lebih memahami bagaimana cara pemakaiannya, bagaimana cara membuat status yang baik di media sosial, dan lain sebagainya.

Alasan pihaknya memilih sasaran anak-anak SMA/SMK, lantaran mereka dinilai lebih banyak dan lebih bijak dalam memahami media sosial.

"Sehingga mereka yang kita filter, dengan harapan agar mereka bisa menjadi warga, pelajar dan anak bangsa yang cerdas," ungkapnya.

Menurutnya pula, penggunaan internet sehat diyakini dapat mengantisipasi berita-berita Hoax atau bohong yang sedang marak di media sosial sekarang ini.

"Melalui roadshow ini kita juga memberikan pemahaman-pemahaman seperti apa itu berita Hoax," ujarnya sebagaimana dikutip Antara .

Sepuluh tahun lalu, dengan merogoh Rp1.000, seseorang bisa berselancar internet via ponsel. Kebutuhan internet kala itu memang tak sebanyak sekarang. Opera Mini yang bisa diakses melalui ponsel yang mendukung Java, dan beberapa aplikasi chat sederhana, relatif cukup dipenuhi oleh data 1MB per hari.

Kini, dengan semakin beragamnya layanan dan aplikasi seperti WhatsApp, Instagram, YouTube, dan berbagai aplikasi boros internet lainnya, kebutuhan itu tak lagi mampu dicukupi hanya dengan 1MB per hari. Akibatnya, pengeluaran untuk internet pun meningkat, bahkan hingga ratusan ribu per bulan apalagi adanya pergerakan inflasi setiap tahun.

"Dulu saya dengan paket Rp1.000 untuk 1MB saja sudah cukup, sekarang sebulan harus keluar Rp200 ribu untuk data internet di ponsel," kata Zai kepada Tirto.

Riset yang dilakukan Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (P2EB UGM) bersama Indosat Ooredoo menunjukkan, penambahan pelanggan selular hingga 10 persen, akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 0,4 persen.

Tingkat kenaikan PDB Indonesia dengan besaran 0,4 persen sesuai riset itu, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata di Asia yang rata-rata PDB meningkat 0,3 persen saat pengguna selular meningkat 10 persen. Sedangkan di ASEAN, PDB akan meningkat 0,2 persen bila pengguna selular meningkat 10 persen dalam setahun.

“Semenjak kehadiran jaringan 3G terjadi perubahan perilaku masyarakat di lapangan [...] Ada perubahan di dalam pergerakan ekonomi dan perilaku masyarakat atas kehadiran internet,” kata Deva Rachman, Group Head Corporate Communication Indosat Ooredoo. “Orang Indonesia dalam sehari pakai gadget sampai 16 jam sehari,” katanya.

Pada 2013, dalam laporan berjudul “Indonesia Digital Landscape” yang dimotori oleh Merah Cipta Media, rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk koneksi internet berada di angka Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per bulan.

Saat ini, merujuk apa yang dipaparkan Numbeo, rata-rata tarif internet per bulan di Indonesia untuk kecepatan 60 Mbps $31,30 per bulan. Bila dirupiahkan, harga rata-rata internet di Indonesia lebih dari sekitar Rp423 ribu per bulan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi peningkatan belanja pulsa pada masyarakat Indonesia. Pada 2012, belanja pulsa masyarakat Indonesia hanya berkisar di angka Rp15.009 per kapita. Empat tahun kemudian, angka belanja pulsa masyarakat meningkat signifikan menjadi Rp22.182 per kapita per tahun.

Kajian lain dari Deloitte yang berjudul “The Economic Impact and Distruptions to Internet Connectivity,” terungkap bahwa terhentinya koneksi internet suatu negara akan berbanding lurus dengan penurunan nilai PDB.

Bila suatu negara yang sangat terkoneksi internet mematikan jaringan internet selama satu hari, terdapat kerugian senilai $23,6 juta per 10 juta penduduk pada PDB negeri tersebut. Sementara bagi negara yang kurang terkoneksi internet, matinya jaringan internet selama satu hari berpengaruh terhadap kerugian senilai $0,6 juta hingga $6,6 juta per 10 juta penduduk pada PDB.

Salah satu negara yang pernah merasakan kerugian akibat matinya jaringan internet adalah Mesir. Kondisi politik yang memanas dengan istilah “Arab Spring,” pemerintah Mesir memutuskan koneksi internet selama 5 hari pada 2011. Mesir pun kehilangan perputaran uang $90 juta.

Ini setara dengan potensi pendapatan senilai $18 juta per hari, bila dihitung setahun bisa berdampak pada kurang lebih 3-4 persen PDB Mesir. (*)

Sumber: Antara/Tirto.id
 

loading...

#

Sebelumnya

Menanggulangi kekerasan di lingkungan sekolah

Selanjutnya

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe