Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Masyarakat di kampung Alaku produksi batu bata merah
  • Senin, 13 November 2017 — 20:10
  • 1424x views

Masyarakat di kampung Alaku produksi batu bata merah

Sejak tahun 2014, masyarakat kampung Alaku, distrik Okaba, kabupaten Merauke menggeluti usaha batu bata. Mereka mencetak dan membakar menjadi batu bata merah serta menjualnya ke pengusaha yang sedang mengerjakan proyek di kampung-kampung.
Masyarakat dari salah satu kampung di distrik Okaba kabupaten Merauke – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dewi Wulandari
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Merauke, Jubi – Sejak tahun 2014, masyarakat kampung Alaku, distrik Okaba, kabupaten Merauke menggeluti usaha batu bata. Mereka mencetak dan membakar menjadi batu bata merah serta menjualnya ke pengusaha yang sedang mengerjakan proyek di kampung-kampung.

Sekretaris Bamuskam kampung Alaku, Klemen S, saat ditemui Jubi di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke, Senin (13/11/2017), menuturkan saat ini masyarakat sedang giat-giatnya memproduksi batu bata karena mereka telah mendapatkan hasil dari kerja kerasnya.

Biasanya, kata dia, setelah batu bata dicetak dan dijemur hingga kering, selanjutnya dioven atau dibakar. Harga batu bata merah dijual ke pengusaha Rp 1.000 per biji. Setiap kepala keluarga bisa menjual sampai 10 ribu batu bata merah.

“Kalau datang musim proyek, sejumlah kontraktor datang di kampung Alaku membeli batu bata merah. Terus terang Pak, kami sangat terbantu dengan mencetak batu bata merah secara manual sekaligus dibakar dan dijual kepada siapa saja yang mau membeli. Tapi pembeli masih di sekitar wilayah distrik Okaba,” tuturnya.

Ditambahkan, biaya yang dikeluarkan mencetak batu bata hampir tidak ada.

“Kami hanya menyewa mobil pick up mengambil kayu saat batu akan dibakar. Biaya sewanya hanya Rp 300 ribu,” ungkap dia.

Dengan pendapatan yang diperoleh, jelasnya, dapat dimanfaatkan membiayai sekolah anak, membeli berbagai kebutuhan hidup, termasuk untuk membeli motor  dan barang elektronik seperti televisi maupun tape recorder bersama perangkatnya.

Anggota DPRD kabupaten Merauke, Moses Kaibu, ketika dimintai komentarnya mengatakan langkah yang dilakukan masyarakat Alaku yang umumnya orang asli Papua patut diberikan apresiasi karena mereka kreatif mencari peluang usaha sebagai sumber penghasilan dengan mencetak batu bata merah.

“Saya berharap dinas terkait melihat usaha yang sedang digeluti masyarakat Alaku. Minimal ada dukungan dana diberikan sehingga pekerjaan itu bisa dikerjakan berkesinambungan,” pintanya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Masyarakat Kamundu keluhkan jalan rusak di kampungnya

Selanjutnya

Jatah rastra di kampung Kamundu Merauke masih kurang

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Pilihan Editor |— Selasa, 25 September 2018 WP | 9309x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6364x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 6003x views
Berita Papua |— Senin, 24 September 2018 WP | 4490x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe