TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Harga sejumlah kebutuhan pokok di Okaba dan Kimaam ‘mencekik leher’
  • Rabu, 15 November 2017 — 21:55
  • 1003x views

Harga sejumlah kebutuhan pokok di Okaba dan Kimaam ‘mencekik leher’

“Saya mencontohkan saja, beras per karung isi 15 kg yang dijual pedagang di kampung, harganya Rp 25 ribu. Padahal, di kota harga tidak sampai Rp 100 ribu,” kata Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Merauke, Moses Kaibu.
Masyarakat di kampung Wambi, distrik Okaba, kabupaten Merauke – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Merauke, Jubi – Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Merauke, Moses Kaibu, mengungkapkan dari reses yang dilakukan selama kurang lebih dua minggu di sejumlah kampung di distrik Okaba maupun distrik Kimaam, ditemukan harga barang yang dijual pedagang sangat mahal.

Hal itu disampaikan Moses kepada Jubi, Rabu (15/11/2017).

“Saya mencontohkan saja, beras per karung isi 15 kg yang dijual pedagang di kampung, harganya Rp 25 ribu. Padahal, di kota harga tidak sampai Rp 100 ribu,” katanya.

Selain itu, katanya, bensin dijual hingga Rp 25 ribu/botol. Begitu juga lempengan tembakau dijual Rp 10 ribu/bungkus. Padahal, harganya hanya Rp 3.500/lempeng.

“Belum lagi sejumlah kebutuhan pokok lain. Itulah kondisi yang terjadi di kampung-kampung. Masyarakat merasa harga mencekik leher. Belum lagi, uang juga sulit beredar dan mereka tak memiliki pendapatan pasti tiap hari,” ujarnya.

Kondisi demikian harusnya menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke. Minimal dinas terkait melakukan sidak ke kampung dan mengetahui harga barang yang dijual pedagang.

“Selama ini pemerintah berteriak kalau selalu berpihak kepada masyarakat. Namun, dalam kenyataan dari waktu ke waktu, kehidupan mereka tak pernah maju. Umumnya terjadi kepada orang asli Papua,” tuturnya.

Anggota dewan lain, Tarsisius Awi, membenarkan kalau harga barang di kampung-kampung terutama di daerah pedalaman Kimaam maupun Waan, sangat mahal.

“Sering kali saya menemukan pedagang menaikan harga tanpa memikirkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

“Dari waktu ke waktu, masyarakat di kampung berteriak karena tak memiliki uang. Belum lagi harga barang di tingkat pedagang sangat mahal. Ini perlu keseriusan pemerintah setempat,” pintanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Harry Ndiken pesimis 24 mobil jatah anggota dewan akan dikembalikan

Selanjutnya

Aniaya staf, pejabat di Dispora dan Pariwisata Merauke dipolisikan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4869x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4293x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4158x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3489x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2943x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe