Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Bono, rocker yang beramal (tapi) mengemplang pajak
  • Kamis, 16 November 2017 — 18:11
  • 1319x views

Bono, rocker yang beramal (tapi) mengemplang pajak

Bono tak sekali ini saja mengemplang pajak.
Bono di tengah konser. Daily Mirror /Jubi
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Selasa, 1 November 2016, Glamour, sebuah majalah wanita di Amerika Serikat, untuk pertamakali mengukuhkan seorang lelaki, bintang rock asal Irlandia, dengan gelar “Man of the Year”.

Lelaki 57 tahun itu, Bono, pentolan band rock U2, jadi pria pertama yang mendapat gelar tersebut bersama daftar tahunan Women of the Year.

Dalam situsnya, majalah Glamour menulis bahwa selama bertahun-tahun mereka tidak memberikan penghargaan pada pria karena "yang kami rayakan adalah perempuan."

Meski demikian, "saat seorang bintang rock pria yang bisa melakukan apa pun dengan hidupnya memutuskan untuk fokus pada hak perempuan di dunia, yah, itu patut dirayakan. Kami bangga menobatkan bintang rock Bono sebagai Man of the Year pertama kami," tulis Glamour.

Pada 2015 silam, Bono membuat kampanye Poverty Is Sexist yang bertujuan membantu perempuan miskin di dunia melalui akses yang lebih baik pada pendidikan, pelayanan kesehatan dan kesempatan bisnis.

Kampanye itu adalah bagian dari organisasi ONE yang dia turut dirikan pada 2004 untuk melawan kemiskinan dan penyakit di Afrika, seperti dilansir Reuters.

Namun bocoran pengemplangan pajak yang menggemparkan baru-baru ini, yang dikenal sebagai Paradise Papers, menyebut nama Bono sebagai satu dari sekian tokoh dunia yang main kongkalikong guna menghindari pajak.

Dokumen berisi lebih dari 13 juta berkas ini diungkap pada Minggu (5/11/2017) lalu oleh surat kabar asal Jerman Süddeutsche Zeitung, pihak yang pertama kali memperoleh dokumen itu. Mereka lantas membagikannya dengan International Consortium of Investigate Journalist (ICIJ).

Kebocoran berkas tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah dengan melibatkan banyak pihak; mulai dari politisi, perusahaan terkemuka, sampai selebriti kaya.

Untuk kasus Bono sendiri, ia diduga menghindari pajak keuntungan dari investasi yang ditanamkannya di salah satu pusat perbelanjaan di Lithuania.

Nilai pajak yang dihindari sejumlah $54 ribu. Seperti dilansir BBC, Bono menanam saham di pusat perbelanjaan Aušra yang terletak di Utena, melalui perusahaan Nude Estates yang berbasis di Malta. Sesaat setelah Paradise Papers dipublikasikan, pemerintah Lithuania langsung menyelidiki Aušra.

Dalam sebuah pernyataan, Bono mengatakan bahwa dia akan "sangat gelisah jika [namanya] terlampir dalam laporan itu kendati posisinya hanya investor minoritas yang pasif." Ia menambahkan, "Saya menanggapi hal [laporan] ini dengan sangat serius. Saya sudah berkampanye agar kepemilikan perusahaan lepas pantai [offshore] menjadi lebih transparan."

Di samping itu, Bono menegaskan dirinya "menyambut baik pelaporan tersebut" seperti yang tertera dalam Paradise Papers. "Seharusnya kejadian seperti ini [kebocoran berkas pajak] tidak perlu terjadi asalkan ada transparansi antara publik, pers, dan pemerintahan," ungkapnya seperti dikutip Rolling Stone.

Bono tak sekali ini saja mengemplang pajak. Pada 2006, Bono dituduh mengakali sistem pajak dalam negeri dengan memindahkan sebagian bisnis U2 ke Belanda, negeri yang dikenal menerapkan pajak pendapatan royalti yang lebih menguntungkan untuk para musisi.

Filantropi Bono

Bono dikenal publik lewat aktivitas amalnya. Pada 2006, bersama mantan petinggi EMI/Capitol Records Bobby Shriver, Bono mendirikan organisasi nirlaba bernama (Red) yang bertujuan mengakhiri penyebaran AIDS bagi para bayi yang baru saja lahir dengan memberikan bantuan obat-obatan. Menurut catatan (Red) yang dibuat pada 2005, lebih dari 1.200 bayi lahir terjangkit HIV setiap harinya.

Seperti dikabarkan Business Insider, perusahaan dan yayasan kaya yang didekati (Red) mulai berpartisipasi dengan menanggung ongkos pengobatan yang tak terjangkau penduduk setempat.

Beberapa rekan (Red) bukan lembaga atau orang sembarangan. Ada Gates Foundation yang didirikan Bill dan Melinda Gates hingga Marc-Lynne Benioff dari perusahaan piranti lunak Salesforce. Mereka menyumbang hingga jutaan dolar untuk mendukung keberhasilan misi amal (Red).

Bono juga aktif berkampanye melalui badan ONE Campaign. Badan menyandang misi serupa dengan (Red). Dalam laman resminya, ONE merupakan kampanye dan organisasi advokasi yang bergerak untuk mengakhiri kemiskinan dan persebaran penyakit berbahaya di Afrika.

Tapi kenyataannya, organisasi ini justru diisi oleh dewan direksi yang sebagian besar adalah jutawan, priyayi korporat, dan pejabat negara.

Pada ONE Campaign, publik akan menjumpai orang seperti Condoleezza Rice, Menlu AS era George W. Bush yang gencar mempromosikan perang Irak, memerintahkan agar CIA melakukan penyiksaan, dan mengintimidasi negara-negara lemah untuk tunduk pada kepentingan AS.

Organisasi amal itu, ternyata diisi orang-orang yang gemar menyerukan hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan.(*)

Sumber: Tempo.co/Tirto.id
 

loading...

#

Sebelumnya

Militer ambil alih pemerintahan Zimbabwe

Selanjutnya

Mengenal Mugabe, “Soehartonya Zimbabwe”

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe