Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Pahlawan Indonesia, asal, gender dan agamanya
  • Kamis, 16 November 2017 — 18:13
  • 1229x views

Pahlawan Indonesia, asal, gender dan agamanya

Secara keseluruhan, Jawa masih mendominasi.
iIlustrasi. Tempo.co/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Baru-baru ini, bangsa Indonesia ketambahan empat pahlawan nasional. Keempatnya masing-masing TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid asal Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati (Keumalahayati) asal Nanggroe Aceh Darussalam, Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau, dan Lafran Pane asal Daerah Istimewa (DIY) Yogyakarta.

Penganugerahan gelar pahlawan dilakukan di Istana Negara, Kamis (9/11) lalu. Penganugerahan ini diputuskan melalui Kepres RI No 115/TK/tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, dengan penganugerahan keempat Pahlawan Nasional baru tersebut, maka jumlah Pahlawan Nasional Indonesia saat ini menjadi 173 orang. Para pahlawan berasal dari sipil dan juga TNI/Polri.

Di Indonesia, gelar pahlawan telah dikenalkan pada 1959.Di masa Sukarno (1945-1966), sebanyak 49 orang ditetapkan sebagai pahlawan. Sedangkan semasa Soeharto (1966-1998), 55 orang ditetapkan sebagai pahlawan.

Presiden Habibie (1998-1999) memberikan rutinitas tahunan gelar pahlawan kepada Tjilik Riwut (Dayak), Sultan Syarif Kasim Syarifuddin (Siak), Adam Malik (Batak Mandailing), dan La Maddukelleng (Wajo).

Sedangkan Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) memberi gelar pahlawan kepada empat orang. Pada 1999, ia menetapkan tiga pahlawan. Pada 2000, ia juga menetapkan Fatmawati sebagai pahlawan.

Sementara itu, ada delapan orang yang ditetapkan sebagai pahlawan oleh Presiden Megawati (2001-2004); serta 24 orang dan 15 orang semasa dua periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014).

Dari total 173 pahlawan nasional, perbandingan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan sangat jomplang. Hanya ada 12 perempuan yang ditetapkan sebagai pahlawan; sebaliknya, ada 161 pahlawan laki-laki.

Selama pemerintahan Yudhoyono, tak satu pun perempuan ditetapkan sebagai pahlawan. Hal sama dilakukan oleh Habibie dan Megawati.

Ditinjau dari asal daerahnya, tempat kelahiran pahlawan yang dianugerahi oleh Presiden Sukarno berasal dari tiga pulau: Sumatera, Sulawesi, dan Jawa. Sebagian besar yang dipilih pun hidup pada akhir abad 19 sampai abad 20, sebuah masa yang dikenal era pergerakan nasional dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pola ini berubah sejak Soeharto berkuasa. Pada 1968, kali pertama Soeharto menetapkan gelar pahlawan, ia menganugerahinya kepada W.Z. Johannes dari Rote (Nusa Tenggara Timur) dan Pangeran Antasari dari Banjar (Kalimantan Selatan).

Pada era Soeharto pula tokoh-tokoh yang lahir pada abad 16 atau abad 17 ditetapkan sebagai pahlawan. Misalnya, Sultan Hasanuddin (Gowa), Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), dan Untung Surapati (Bali).

Tokoh yang hidup pada masa lampau itu tidak ditemukan lagi dalam daftar pahlawan yang ditetapkan oleh presiden setelah Reformasi, kecuali pada era Jokowi yang menetapkan Laksamana Malahayati, pejuang Aceh yang hidup pada akhir abad 16.

Kini hampir setiap provinsi memiliki ikon pahlawannya masing-masing. Jawa Tengah dicatat sebagai tempat kelahiran pahlawan terbanyak, yakni 33 orang, disusul oleh Sumatera Barat (15 orang), dan Yogyakarta (13 orang).

Berdasarkan cacah administratif, hanya provinsi baru seperti Papua Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Barat yang belum ada apa yang disebut "pahlawan nasional". Selain itu, Pemerintah SBY-Jusuf Kalla pada 2004 menetapkan Raja Ali Haji yang lahir di Selangor (kini masuk wilayah administrasi Malaysia) sebagai pahlawan. (Leluhur Ali Haji berasal dari Bugis.)

Namun, secara keseluruhan, Jawa masih mendominasi. Sedikitnya ada 86 "pahlawan nasional" (yang lahir) dari Pulau Jawa.

Meski ada kesan setiap provinsi, dengan pertimbangan etnis tertentu, hanya ada satu orang etnis Tionghoa-Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan. Ia adalah John Lie Tjeng Tjoan, laksamana muda Angkatan Laut Indonesia, yang berperan melawan blokade laut Belanda pada periode 1945-1949.

Presiden Jokowi sendiri sudah memberikan gelar pahlawan sebanyak empat kali untuk 14 orang, 12 orang di antaranya beragama Islam.

Hanya dalam satu kali kesempatan saja, yakni pada 2015, gelar pahlawan diberikan kepada dua tokoh non-muslim. Keduanya I Gusti Ngurah Made Agun (Bali) yang beragama Hindu dan Bernard Wilhelm Lapian (Minahasa) yang beragama Kristen.

Pola berbeda ditemukan dalam pemberian gelar pahlawan pada era SBY-Boediono. Ada 15 orang yang diberikan gelar pahlawan, 8 orang di antaranya tokoh non-muslim. Pada era kedua pemerintahan Yudhoyono, tak semua pahlawan nasional setiap tahun diberikan kepada tokoh beragama Islam.

Bahkan, pada 2010, gelar pahlawan diberikan kepada Johannes Leimena (Maluku) yang beragama Katolik dan Johannes Abraham Dimara (Biak, Papua) yang beragama Kristen.(*)

Sumber: Merdeka.com/Tirto.id

loading...

#

Sebelumnya

Guru kesenian Papua diajak mendalami tari Yosim Pancar

Selanjutnya

Jayawijaya waspada kriminalistas di lingkungan tinggal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe