Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Tradisi pribumi Fiji dapat pulihkan krisis ekologis
  • Jumat, 17 November 2017 — 08:34
  • 616x views

Tradisi pribumi Fiji dapat pulihkan krisis ekologis

Solesolevaki adalah salah satu tradisi terbaik Taukei untuk saling membantu, terutama dalam hal bertani. Masyarakat merotasikan dan melakukan bersama pekerjaan mereka di antara anggota desa lainnya misalnya membersihkan lahan pertanian atau menanam.
Paus Fransiskus saat menerima Presiden Fiji, Jioji Konousi Konrote – Vatican Radio/ AP
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Oleh Uskup Agung Peter Loy Chong*

Fiji memiliki sebuah bahasa yang dapat menggerakkan semua orang untuk memulihkan krisis (ekologis) yang telah terjadi.

Paus Fransiskus dan yang lainnya telah menunjukkan bahwa hilangnya hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan manusia dan penciptaannya, adalah akar penyebab krisis ekologis.

Model pembangunan yang digunakan selama ini bertujuan untuk menggunakan semua sumber daya bumi, memaksimalkan manfaatnya dan meminimalisir biaya dan waktu.

Model pembangunan ini adalah salah satu penyebab utama hilangnya keterhubungan manusia dengan Tuhan. Akibatnya bumi mulai kehabisan semua sumber dayanya; tanah, air, laut, udara, dan semua makhluk hidup.

Paus Fransiskus berpendapat bahwa krisis ekologis bukan hanya tentang penyusutan ekosistem bumi, melainkan juga krisis spiritual dan agama.

Mitos pembangunan ekonomi adalah penyebab utama dari kemiskinan, pemiskinan, dan penghancuran bumi secara meluas. Kita perlu mengkaji proyek-proyek pembangunan ekonomi yang seperti itu di Fiji seperti industri ekstraktif, pertambangan, penebangan hutan, pabrik air kemasan, dll.

Kita perlu mengajukan pertanyaan: Siapakah yang paling mendapatkan keuntungan dari skema pembangunan ini? Bagaimana perkembangan ini akan mempengaruhi lingkungan, makanan, air, udara, dan penghidupan masyarakat?

Visi iTaukei  (pribumi Fiji) mengenai bumi memberi kita sebuah alternatif dari paradigma ekonomi yang merusak itu. Kerangka kerja vanua (vanua adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan tanah, masyarakat, atau tradisi pribumi Fiji) dari iTaukei melihat dunia sebagai jaringan hubungan antara dunia roh, manusia, dan tanah (termasuk semua makhluk hidup).

Seperti budaya pribumi lainnya, mereka melihat kehidupan manusia sebagai bagian dari keseluruhan jaring kehidupan yang lebih besar.

Turaga atau pemimpin dari vanua adalah simbol utama yang menggambarkan jaringan antara semua hubungan dan simbol vanua lainnya.

Identitas, peran, dan status masyarakat semuanya didefinisikan dalam kaitannya dengan hubungan seseorang dengan turaga. Selama ritual pemilihan turaga ni vanua, turaga baru tersebut membuat sumpah untuk melindungi vanua, tempat-tempat suci roh leluhur, manusia, tanah dan semua makhluk hidup.

Vanua juga menawarkan panduan moral kepada masyarakat pribumi iTaukei. Oleh karena itu, bencana di vanua seolah meminta masyarakat untuk merenungkan hubungan tiga elemen, dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan tanah.

Ada sejumlah praktik budaya iTaukei yang menunjukkan tiga hubungan diatas.

1. Totemisme: Klan-klan iTaukei mengasosiasikan identitas mereka dengan makanan suci, hewan dan pepohonan. Totem itu adalah suci, oleh karena itu sebuah klan dapat menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang mengucapkan nama totem suci mereka.

Orang iTaukei  tahu ini sebagai hal yang penting, artinya, saya menjatuhkan hukuman pada Anda. Dewasa ini pembayaran atas hukuman dilakukan dengan cara yang lebih ringan, seperti memberi mangkuk yaqona untuk meminum kava atau menuntut agar dia memberi hadiah (tabua).

2. Sevu atau persembahan buah pertama dari hasil kebun dan tanah masyarakat kepada para kepala klan. Saat ini beberapa komunitas Kristen juga memberikan sevu ke pendeta-pendeta gereja.

3. Solesolevaki adalah salah satu tradisi terbaik Taukei untuk saling membantu, terutama dalam hal bertani. Masyarakat merotasikan dan melakukan bersama pekerjaan mereka di antara anggota desa lainnya misalnya membersihkan lahan pertanian atau menanam.

Terkadang praktik ini masih diterapkan untuk mengumpulkan uang untuk biaya sekolah atau kebutuhan moneter lainnya.

4. Menggali ubi liar: Tetua-tetua mengingatkan bagian masyarakat yang lebih muda untuk menguburkan kembali akar ubi setelah mengambil ubi jalar. Ini adalah praktik penghidupan sederhana yang menjamin tersedianya ubi jalar di musim depan.

5. Tabu ni wai: Beberapa klan memberlakukan larangan memancing di tempat pancing mereka saat seseorang meninggal. Larangan itu kemudian dicabut setelah seratus malam. Pada malam keseratus, semua masyarakat akan pergi menangkap ikan dilokasi itu untuk dikonsumsi dalam sebuah pesta bersama yang menandai berakhirnya masa berkabung.

Seratus malam juga memberi waktu sejenak bagi populasi ikan dan organismen laut dan air lainnya untuk tumbuh dan berkembang.

6. Bulu ni buto ni gone (Mengubur tali pusar): Saat tali pusar bayi dipotong, itu lalu dikuburkan dengan pohon yang memiliki buah-buahan. Masyarakat klan dan sesepuh sering mengeluarkan pernyataan ini pada anak-anak hiperaktif dengan mengatakan: “Tali pusar anak ini tidak dikuburkan.”

Menurut saya bulu ni buto ni gone adalah menjadi simbol yang sempurna mengenai hubungan keibuan Taukei yang sangat baik dengan bumi. Tali pusar melambangkan pemberian nafas kehidupan antara seorang ibu dan anaknya.

Walaupun tali pusar dipotong saat melahirkan, sebuah simbol kehidupan baru diperkenalkan, yaitu tanah. Anak bayi itu diperkenalkan kepada ibu bumi.

Kerangka dan praktik vanua masyarakat iTaukei  memberikan paradigma yang mendukung kehidupan alternatif daripada model pengembangan ekonomi yang merusak. Budaya dan spiritualitas Taukei didasarkan pada tiga keterhubungan mendasar; hubungan dengan Tuhan, dengan manusia yang lain, dan keseluruhan ciptaan.

Paus Fransiskus mengatakan: “Masyarakat adat pribumi memiliki nilai-nilai yang memberikan tanggung jawab yang lebih besar untuk merawat Bumi. Masyarakat pribumi memiliki rasa komunitas yang kuat, kesiapan untuk melindungi orang lainnya, semangat kreativitas, dan cinta yang mendalam terhadap tanah. Mereka juga khawatir tentang warisan apa yang akan mereka tinggalkan kepada anak dan cucu mereka.”

Sejalan dengan itu, Laporan dari The Pacific Centre for Environment and Sustainable Development (Pusat Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan Pasisik) pada tahun 2008 menyoroti pentingnya melindungi pengetahuan dan kearifan pribumi masyarakat sebagai sebuah inisiatif untuk pendidikan bagi pembangunan yang berkelanjutan.

Fiji, dan komunitas pribumi dan kepercayaan lainnya, memiliki apa yang dibutuhkan dunia saat ini, jalur untuk hubungan antara tiga elemen penting, Tuhan, manusia, dan alam.

“Ini yang kita tahu: bumi bukan milik manusia, manusia adalah milik bumi. Segala sesuatu di atas bumi ini berhubungan, seperti darah yang menyatukan kita semua. Manusia tidak menenun sendiri jaring-jaring kehidupan, ia hanyalah satu untaian di dalamnya,“ ujar Kepala Suku Seathl.(Fiji Times/Elisabeth C.Giay)

*Uskup Agung Peter Loy Chong adalah kepala Gereja Katolik setempat. Pandangan yang diungkapkannya melalui tulisan ini adalah miliknya dan bukan dari media ini.

loading...

Sebelumnya

Persiapan KTT APEC, Kepolisian Indonesia latih Kepolisian PNG

Selanjutnya

PM baru Kepulauan Solomon janji berantas korupsi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe