Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Legislator Papua ingin bukti penyanderaan di Banti
  • Selasa, 20 November 2017 — 07:44
  • 832x views

Legislator Papua ingin bukti penyanderaan di Banti

"Kami ingin bukti, misalnya rekaman video yang menunjukkan warga di Banti dan Kimbeli benar-benar disandera, dan apa tuntutan pihak yang menyatakan diri sebagai TPN/OPM dalam masalah ini," kata Kadepa ketika menghubungi Jubi via teleponnya, Minggu (19/11/2017) malam.
Evakuasi warga sipil dari Kampung Banti dan Kimbeli, pekan lalu - IST 
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi - Legislator Papua, Laurenzus Kadepa, menyatakan pihaknya ingin bukti penyanderaan terhadap warga di Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, seperti yang dikatakan aparat keamanan di berbagai media selama ini.

"Kami ingin bukti, misalnya rekaman video yang menunjukkan warga di Banti dan Kimbeli benar-benar disandera, dan apa tuntutan pihak yang menyatakan diri sebagai TPN/OPM dalam masalah ini," kata Kadepa ketika menghubungi Jubi via teleponnya, Minggu (19/11/2017) malam.

Menurutnya, sejak awal ia tidak sepakat jika warga di Banti dan Kimbeli disebut disandera, karena warga di wilayah itu bisa berkomunikasi dengan dunia luar menggunakan telepon genggam atau cara lain.

"Kalau warga disebut terisolasi, saya sepakat karena mereka kabarnya tidak bisa keluar dari Kampung Banti dan Kimbeli karena sepanjang jalan kekuar dikuasi kelompok yang menyatakan diri sebagai OPM. Siang hari, warga mengaku beraktivitas seperti biasa. Hanya ada malam hari mereka was-was," ujarnya.

Katanya, kalau penyanderaan, tentu warga tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Mereka akan dikumpulkan di suatu lokasi dan dijaga ketat pihak penyandera, tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar, tanpa seizin kelompok yang menyandera.

Ia juga mempertanyakan, mengapa hanya 300 lebih warga yang dievakuasi keluar dari Banti dan Kimbeli. Mereka ini semuanya adalah warga non-Papua. Sedangkan warga asli Papua yang ada di dua kampung memilih tetap tinggal. 

"Kalau saja situasi di Banti dan Kimbeli seperti yang diberitakan selama ini, tentu warga asli Papua juga akan memilih meninggalkan kampung itu. Tapi ini mereka tetap memilik tinggal. Berarti situasinya masih terkendali," katanya.

Warga asli Papua yang memilih tinggal lanjut Kadepa, bukan hanya penduduk asli Banti dan Kimbeli, tapi ada warga asli Papua dari daerah lain.

"Setelah berhasil mengevakuasi 300 lebih warga non-Papua, Panglima TNI memimpin upacara kenaikan pangkat luar biasa di Banti, untuk 57 prajurit TNI. Ini ada apa, saya mempertanyakan ini," ujarnya. 

Sebanyak 57 prajurit TNI yang bertugas di Papua mendapatkan kenaikan pangkat, setelah berhasil mengevakuasi 300 lebih warga non-Papua yang terisolasi di Kampung Banti dan Kimbeli, wilayah kelompok bersenjata di Mimika, yang menyatakan diri sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, sebanyak 62 personel TNI terlibat membebaskan warga yang terisolasi itu. Namun lima perwira TNI yang memimpin operasi gabungan menolak kenaikan pangkat.

Menurutnya, dalam operasi senyap evakuasi warga, pasukan gabungan dari Kopassus, Batalion 751 Rider, dan Taipur Kostrad bergerak sejauh 4,5 km selama tiga hingga empat hari dan diakhiri dengan baku tempat di dua lokasi hingga kelompok bersenjata mundur.

"Sebelum evakuasi, saya perintahkan agar kiri dan kanan jalan harus aman. Kalau ada tembakan, jauh itu," kata Gatot.

Menurutnya, warga asli Papua tetap memilih bertahan di kampung itu dengan penjagaan aparat TNI dan Polri, sedangkan yang bukan berasal dari kampung tersebut telah diungsikan.

Komandan Operasi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) III Timika, Hendrik Wanmang membenarkan kontak senjata terjadi sebelum proses evakuasi warga sipil di Banti dan Kimbeli.

“Dua anggota kami terluka dalam kontak tembak pagi kemarin,” ujar Hendrik Wanmang singkat kepada Jubi melalui sambungan telepon, Sabtu (18/11/2017).

Sumber lain menyebutkan dua anggota TPN-PB tewas dalam kontak tembak Jumat pagi, ketika aparat keamanan akan mengevakuasi warga. Keduanya bernama Ilame Tabuni  dan Yuliana Waker.

Di pihak TNI/Polri tidak ada korban tewas maupun luka tembak. Demikian juga warga yang dievakuasi dari Kampung Banti dan Kimbeli.

"Tidak ada satu masyarakat pun yang menjadi korban, ya," ucap Kapolda Papua, Irjenpol Boy rafli Amar dalam video resmi yang dirilis Humas Polri, Jumat (17/11/2017). 

Proses evakuasi warga sipil berlangsung hingga pukul 12.00 waktu setempat. Evakuasi dilakukan sejak pukul 09.30 setelah dua kampung tersebut dikuasai oleh Satgas penanggulangan kelompok bersenjata pukul 07.00 waktu setempat. (*) 

loading...

Sebelumnya

Raperdasi kepegawaian proteksi OAP dan non-OAP

Selanjutnya

SAMNP apresiasi sikap Wali Kota Sorong memberantas miras

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe