Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Mamta
  3. Kepala daerah yang izinkan penjualan minol dinilai seperti pembunuh
  • Selasa, 21 November 2017 — 17:39
  • 872x views

Kepala daerah yang izinkan penjualan minol dinilai seperti pembunuh

“Kepala-kepala daerah macam ini aktor-aktor pembunuh orang Papua,” kata Surabut dalam seminar pemberantasan minuman beralkohol, yang diselenggarakan Solidaritas Anti Miras dan Narkoba Papua (SAMNP) di auditorium Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Senin (20/11/2017).
Persiapan Seminar Anti Miras dan Narkoba di auditorium Uncen - Jubi/Benny
Benny Mawel
frans@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Dewan Adat Papua hasil konferensi luar biasa di Lapago, Dominikus Surabut, menyebut para kepala daerah yang mengizinkan penjualan minuman beralkohol (minol) sebagai pembunuh.

“Kepala-kepala daerah macam ini aktor-aktor pembunuh orang Papua,” kata Surabut dalam seminar pemberantasan minuman beralkohol, yang diselenggarakan Solidaritas Anti Miras dan Narkoba Papua (SAMNP) di auditorium Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Senin (20/11/2017).

Lanjutnya, di Provinsi Papua sendiri, ada beberapa wilayah seperti Kabupaten Jayawijaya, Timika, Biak, Jayapura, dan Kota Jayapura yang telah menerbitkan peraturan daerah (perda) tentang penjualan minol, namun angka peredaran minol di daerah ini lebih tinggi dari daerah lain.

"Para pejabat ini tidak pernah melihat kenyataan banyaknya masalah akibat rakyat konsumsi miras. Kenyataannya misal, kehancuran keluarga, keributan dalam masyarakat, hingga kematian orang Papua yang jumlahnya tidak sedikit," katanya.

Tambahnya, kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa korban, rata-rata karena pengendaranya dalam keadaan mabuk. 

“Kematian ini berujung kepada genosida. Kita lihat dan bandingkan jumlah penduduk Papua New Guinea (PNG) dengan Papua saat ini. Pada 1969, penduduk Papua berjumlah 8.000 dan PNG 6000 jiwa. Tetapi kini terbalik, PNG berkembang luar biasa daripada Papua," sampainya.

Menurutnya, data itu terungkap dalam hasil penelitian Universitas Yale Amerika Serikat dan para peneliti Australia. Para peneliti menyimpulkan di Papua Barat sedang terjadi genosida melalui kekerasan militer, hingga sistem pemerintahan yang tidak berpihak.

"Penduduk Papua Barat bersama NKRI selama 45 tahun berkembang lambat, hanya 1,5 juta jiwa. Sementara penduduk asli PNG berjumlah 7,5 juta jiwa sekarang. Itu karena genosida. Dan ditambah korban yang meninggal karena minol," katanya.

Sementara Koordinator SAMNP, Yulianus Mabel, mengatakan pihaknya tidak akan main-main dengan pejual minol, karena mereka merusak generasi emas Papua.

“Kita akan datanggi para penjual miras itu. Kita akan minta pemerintahnya mencabut perizinannya. Karena miras dan narkoba betul-betul mengancam. Kita tidak boleh main-main,” tegasnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Gubernur Papua dan Wali Kota Jayapura, dipastikan hadir di seminar SAMNP

Selanjutnya

Setiap hujan kondisi terminal angkot di Pasar Youtefa memprihatinkan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe