Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Pengikut Kristus Vietnam: tumbuh dan dipersekusi
  • Selasa, 21 November 2017 — 18:25
  • 1507x views

Pengikut Kristus Vietnam: tumbuh dan dipersekusi

Jika ada kelompok kepercayaan yang melakukan perlawanan. Pemerintah meresponnya dengan represi.
Kegiatan misa di sebuah gereja di Hanoi, Vietnam. REUTERS/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Vietnam, Jubi - Natal Desember 2003. Katedral Notre Dame di Hanoi, penuh sesak oleh peserta misa. Namun, tidak ada perayaan berlebihan di jalanan luar katedral itu.

Dalam usahanya mengelak tudingan Amerika Serikat yang menuding pemerintah Vietnam mengekang kehidupan beragama, sebuah delegasi Partai Komunis yang berkuasa mengunjungi Kardinal Vietnam Pham Dinh Tung dan wakil gereja Protestan, sebelum perayaan Natal.

Tapi agama Kristen dinilai pemerintah Vietnam sebagai produk imperialisme Barat. Perlu diawasi pergerakannya.

Pemerintah Vietnam pernah melancarkan propaganda anti-Kristen di wilayah konsentrasi tinggal umat Kristiani.

Kebebasan menjalankan keyakinan bagi umat Kristiani di Vietnam belum terwujud sepenuhnya, sebab doktrin agamanya dianggap mengancam pemerintah komunis.

Duong Van Minh, seorang Kristen di negara merah itu, tiga tahun lalu menderita penyakit ginjal serius. Ia pergi untuk berobat ke Hanoi bersama sejumlah kerabatnya.

Berkali-kali Minh mendapat penolakan dari rumah sakit negara tanpa penjelasan yang jelas. Ia dan pihak Gereja Redemtorist yang menampungnya sementara kemudian berkesimpulan: otoritas Vietnam melakukan tindak diskriminasi hanya karena Minh seorang penganut ajaran Kristen.

Minh berasal dari Provinsi Tuyen Quang. Sehari-hari mengajar pendidikan Kristen di Vietnam bagian Utara yang berkontur pegunungan tempat etnis Hmong tinggal.

Dia memang selau memperjuangkan agar penduduk etnis Hmong beragama Kristen bisa mempraktekkan prosedur penguburan kerabat yang meninggal sesuai ajaran agama. Oleh otoritas pemerintahan setempat, Minh dianggap musuh negara.

“Sejak Agustus 1989 kami mewacanakan praktek penguburan sesuai ajaran kami, polisi dan pemerintah mengawasi kami siang dan malam, selalu mencari celah untuk merepresi dan menangkapi kami,” ujarnya kepada Radio Free Asia.

Pemerintah Vietnam melihat orang-orang seperti Minh sebagai ancaman bagi prinsip sosialisme ala Vietnam.

Minh pernah dipenjara selama lima tahun (1990-1995) Pada 2013 ia pernah ditolak juga saat akan mengobati ginjalnya. Tak hanya ditolak instansi kesehatan di Tuyen Quang, ia juga diinterogasi selama empat jam per hari.

Kepolisian Tuyen Quang pernah memaksa Minh agar dirawat di rumah sakit kepolisian. Pemaksaan secara birokrasi dilakukan dengan cara memerintahkan rumah sakit-rumah sakit di daerah tersebut untuk menolak Minh jika datang berobat.

Polisi juga menyatakan siap membayar seluruh biaya pengobatannya. Tapi Minh paham, paksaan itu dimaksudkan agar selama dirawat Minh bisa turut diinterogasi perihal perjuangannya dalam mengadvokasi orang-orang pengikut Kristus di Vietnam.

Menurut data pemerintah Vietnam tahun 2014, ada 7,6 juta penganut Kristen di negara tersebut. Persentasenya mencapai 8,3 persen dibanding total seluruh penganut agama dan kepercayaan lain. 6,2 juta (6,8 persen) di antaranya adalah pengikut Katolik, sementara 1,4 juta (1,6 persen) lainnya penganut Protestan. Angkanya naik dari 7,5 persen pada tahun 2009, di mana 6,6 persen di antaranya Katolik dan 0,9 persen Protestan.

Laporan Seb Rumsby menyebut, sejak 1980-an penganut Kristen (khususnya Protestan) tumbuh pesat di di kalangan Suku Hmong yang tinggal di dataran tinggi Vietnam Utara. Dari sekitar 1 juta warga Suku Hmong di Vietnam, 300.000 di antaranya adalah penganut Protestan atau Katolik.

Saat ini ada sekitar 4 juta penduduk Suku Hmong tersebar di seluruh wilayah perbatasan Cina, Vietnam, Laos, dan Thailand. Akibat pergolakan politik, sejak abad ke-18 dan 19 mereka bermigrasi ke Amerika Serikat dan Australia. Identitas etnis mereka dibangun dalam bahasa dan tradisi yang sama, juga pewarisan nama klan yang sama.

Mirip dengan orang Kurdi di Timur Tengah, etnis minoritas Hmong memiliki rasa persatuan yang signifikan sehingga bermunculan pula suara untuk memperluas otonomi di tempat Suku Hmong tinggal.

Pemerintah Vietnam memperlakukan komunitas Suku Hmong dengan agak keras, terutama untuk kalangan penganut Kristen. Penganut Kristen, khususnya para pemukanya, punya pengaruh yang besar termasuk untuk melancarkan sikap perlawanan.

Dalam sejarah politik Vietnam, Suku Hmong terjebak di antara blok komunis dan blok liberal. Anehnya, tidak ditemukan rekam jejak misionaris asing yang secara fisik hadir di wilayah mereka. Agama Kristen mulai menyebar sejak akhir tahun 1980-an melalui program radio evangelis berbahasa Hmong yang disiarkan dari Manila. Mereka jadi pendengar setia, kemudian terpengaruh.

Konstitusi Vietnam bersifat ateistik hingga awal 1990-an. Namun akhirnya membolehkan pelaksanaan ajaran agama. Buddha menjadi agama paling mudah tumbuh, namun Katolik Roma juga tak kalah pesat. Di Asia Tenggara, penduduk Katolik di Vietnam, terbesar kedua setelah Filipina.

Meski mendapat kebebasan, kelompok agama mesti mendaftarkan dirinya ke otoritas setempat, dan menjalankan praktiknya sesuai dengan garis-garis besar bikinan negara.

Jika ada kelompok kepercayaan yang melakukan perlawanan. Pemerintah meresponnya dengan represi. (*)

Sumber: Tirto.id/Jubi
 

loading...

#

Sebelumnya

Mengenal Mugabe, “Soehartonya Zimbabwe”

Selanjutnya

Kim larang warganya berpesta dan bernyanyi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe