Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bali & Nusa Tenggara
  3. Bersiap menghadapi gunung Agung
  • Rabu, 22 November 2017 — 15:07
  • 1138x views

Bersiap menghadapi gunung Agung

Letusan freatik yang terjadi pada Selasa (21/11) sore, diprediksi tidak hanya sekali pada Gunung api Agung di Karangasem Bali. Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memprediksi letusan seperti itu akan sering terjadi.
Gunung Agung. Merdeka.com/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Bali, Jubi - Letusan freatik yang terjadi pada Selasa (21/11) sore, diprediksi tidak hanya sekali pada Gunung api Agung di Karangasem Bali. Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memprediksi letusan seperti itu akan sering terjadi.

Dikatakan ‎Kepala Bidang Mitigasi PVMBG, I Gede Suantika, kemungkinan letusan freatik akan memungkinkan semakin sering terjadi. Karenanya diharapkan warga tidak perlu heran dan panik akan kondisi tersebut.

"Letusan seperti kemarin bisa jadi akan sering ada. Harapan kami masyarakat tetap waspada dan tidak perlu panik," kata Suantika, Rabu (22/11).

Ditekankan pula olehnya jika letusan freatik yang terjadi setelah status Gunung Agung jadi aiaga adalah letusan yang pertama kalinya. Bahkan letusan kecil itu menyemburkan abu vulkanik. Bahkan laporan warga membenarkan adanya siraman hujan abu.

Menurutnya, letusan freatik terjadi disebabkan oleh masuknya air ke zona panas magma. Air tersebut bisa dari curah hujan yang tinggi. Memang belakangan ini Bali sering diguyur dengan curah hujan tinggi.

Jika air masuk ke dalam zona panas magma, maka akan terjadi pergumulan di dalam perut Gunung Agung. Bersamaan dengan hal itu, material batuan samping yang terpanaskan akan terbawa keluar oleh semburan asap.

"Pipa magma itu kan panas tuh, suhunya tinggi.‎ Ditambah masuknya air, jadilah dia abu yang terbawa ke luar itu," ujarnya.

Namun diyakinkannya saat ini aktivitas Gunung Agung mereda. Semburan asap pekat sudah tak lagi terlihat. Begitu juga abu vulkanik yang sempat dirasakan oleh warga. Suantika mengonfirmasi jika saat ini hanya asap putih yang terpantau dari puncak kawah Gunung Agung.

"Saat ini hanya asap putih mengandung uap air yang muncul. Kondisi kegempaan juga juga menurun dibandingkan kemarin, di mana terjadi tremor menerus," bebernya.

PVMBG sendiri, kata Suantika, sebetulnya menduga kepulan abu vulkanik akan semakin meninggi dan terus terjadi. Hal itu disebabkan terjadinya gempa tremor menerus yang mengguncang Gunung Agung.

Namun kata dia, untuk hari ini hal itu tidak terjadi lagi. Bahkan asap pekat justru berangsur mereda, begitu juga dengan amplitudo tremor-nya.

Suantika mengaku masih terus memonitor perkembangan aktivitas Gunung Agung. Sebab, pada pantauan menggunakan drone kemarin pagi, Suantika mengaku belerang sudah terdeteksi kemunculannya.

"Belerang sudah terdeteksi. Sejauh ini kita masih terus monitor perkembangan Gunung Agung," tutup dia.

Sementara itu, Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Airnav Indonesia) menyatakan bahwa sejak letusan Gunung Agung kemarin, Selasa (21/11), tidak berdampak pada kegiatan penerbangan di wilayah Bali.

Namun demikian, AirNav mengaku akan terus memantau perkembangan secara ketat dan menyiagakan seluruh personilnya. AirNav cabang Bali pun akan terus memonitor keberadaan debu vulkanik di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Direktur Operasi AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengungkapkan, pihaknya berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk mengamati Darwin Volcanic Ash Advisory Center (DVAAC) dengan menggunakan tes kertas (paper test) debu vulkanik, di mana hasilnya adalah nill VA. Selain itu, pilot juga melaporkan kepada AirNav bahwa ada awan abu kecil dari Gunung Agung bergerak ke arah timur.

“Sehingga sampai saat ini kami sampaikan kepada publik bahwa tidak ada abu vulkanik di Bandara Ngurah Rai dan erupsi Gunung Agung tidak berdampak pada kegiatan penerbangan di wilayah Bali. Apalagi perkembangan terakhir, erupsi semakin mengecil,” ujar Wisnu seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (22/11).

AirNav juga memastikan, kegiatan penerbangan dari dan ke Bali hingga saat ini masih berlangsung normal. “Semua normal, tidak ada penerbangan yang dialihkan atau dibatalkan, semua tetap berjalan dan kami awasi dengan ketat,” ujarnya.

Meski demikian, Wisnu menyampaikan, AirNav telah menyiapkan rencana kontigensi (contigency plan) guna mengantisipasi jika gunung dengan ketinggian 3.031 mdpl tersebut mengalami peningkatan status.

Rencana tersebut antara lain, memvektor pesawat untuk menghindari area terdampak hingga menyiapkan bandara di sekitar Bali sebagai bandara alternatif bila Bandara I Gusti Ngurah Rai tidak dapat beroperasi karena terdampak erupsi.

“Pada bulan September lalu kami kan sudah mengumpulkan seluruh General Manager di bandara-bandara yang akan dijadikan alternatif dan menyiapkan skenario-skenario bila terjadi peningkatan,” terangnya.

AirNav Indonesia, lanjut Wisnu, telah menyiapkan 10 bandara sebagai pilihan pengalihan. Kesepuluh bandara tersebut adalah Jakarta, Makassar, Surabaya, Balikpapan, Solo, Ambon, Manado, Praya, Kupang dan Banyuwangi.

“Jadi koordinasi sudah kami lakukan dan sekarang kami bersiaga penuh. Publik tidak perlu kuatir berlebihan, apalagi perkembangan terakhir dilaporkan bahwa erupsi semakin mengecil,” tutupnya. (*)

Sumber: Merdeka.com/Tempo.co
 

loading...

#

Sebelumnya

Bali yang molek dan sejarah kelam pariwisata

Selanjutnya

Munas & Konbes NU angkat tema radikalisme

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe