Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bali & Nusa Tenggara
  3. Munas & Konbes NU angkat tema radikalisme
  • Kamis, 23 November 2017 — 19:57
  • 1058x views

Munas & Konbes NU angkat tema radikalisme

Mataram, Jubi - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama digelar di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Munas kali ini mengambil tema "Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga".
Ilustrasi. Madinaonline/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Mataram, Jubi - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama digelar di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Munas kali ini mengambil tema "Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga".

Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute, Imdadun Rahmat mengatakan Munas Alim Ulama dan Konbes NU dari waktu ke waktu selalu memberi kontribusi penting bagi bangsa Indonesia. Dia menilai tema yang diangkat dalam Munas kali ini tepat.

Menurutnya, kecenderungan menguatnya radikalisme dan intoleransi sudah sampai tahap darurat. Menurutnya, berbagai peristiwa politik menunjukkan dengan terang benderang sektarianisme yang akut.

"Berbagai kekerasan atas nama agama, penyebaran prasangka, kebencian, stereotyping terhadap kelompok lain terlebih kelompok minoritas terus mengemuka. Berbagai survei menguatkan bahwa itu semua terjadi karena ideologi dan paham radikalisme telah menjangkiti pikiran sejumlah besar masyarakat. Sejalan dengan itu, rasa nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan terus menipis," katanya, Kamis (23/11).

Menurutnya, hal itu merupakan sinyal berbahaya. Karenanya, kata dia, NU sudah tepat menyuarakan kondisi darurat ini kepada publik agar sadar bahwa masalah ini tidak boleh disikapi secara 'bisnis as usual' apa lagi diabaikan.

"Seruan dari Munas dan Konbes mesti disambut dengan gerakan nasional penguatan nilai-nilai nasionalisme dan kontra radikalisme serta deradikalisasi," katanya.

Dia mengatakan, pemerintah dan civil society harus bergandeng tangan membendung dan mengisolasi virus radikalisme yang terus disebarkan oleh berbagai kelompok garis keras. Mereka yang telah terpapar virus itu mesti segera diberi vaksin ajaran moderat, wasatiyah, rahmatan lil alamin.

Di samping itu, kata dia, isu ketidakadilan, khususnya kesenjangan akses dan distribusi ekonomi, selalu menjadi habitus kultur perlawanan dan budaya kekerasan. Dia menilai kontra atau deradikalisasi saja tak cukup dilakukan tanpa mempersempit ladang semai tumbuhnya.

"Maka penguatan ekonomi rakyat juga harus menjadi agenda nasional," katanya.

"Kofi Annan mengatakan "no development without peace, but no peace without development, and no sustainable development without respect human rights". Munas dan Konbes sedang meniup terompet perang melawan kekerasan, radikalisme, intoleransi dan delegitimasi terhadap Pancasila," katanya.

Sementara itu, masjid-masjid yang berada di lokasi perumahan dan kampus dinilai menjadi sarang radikalisme dan intoleransi. Hal itu berdasarkan penelitian Setara Institute terhadap ratusan masjid di Kota Depok dan Bogor sepanjang Agustus hingga Oktober.

Peneliti Setara Institute Sudarto mengikuti hampir setiap pengajian di masjid yang berada di kawasan Depok, masjid yang berada di dalam Universitas Indonesia (UI) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah.

Berdasarkan penelitian tersebut, tercatat ada 529 masjid dan 927 musala di Depok. Jumlah itu terdiri dari masjid pemerintah atau BUMN, masjid donasi individu, masjid umum di perumahan dan masjid kampus.

"Saya ikut pengajian itu memakai celana cingkrang dengan jenggot yang panjang, supaya bisa masuk, karena sempat ada beberapa pengajian yang mengatakan kegiatan hanya untuk internal," kata Sudarto saat diskusi di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (1/11).

Sudarto mencatat narasi pengajian di setiap masjid yang ia kunjungi. Ia juga melakukan wawancara dengan ustadz dan jamaah pengajian. Ada sekitar 20 orang yang diwawancarai Sudarto.

Masjid swadaya masyarakat di perkampungan bercorak ajaran NU dan Muhammadiyah dengan materi taqwa, ibadah dan pembangunan bangsa. Meski terkadang terdapat narasi yang berhubungan dengan tema politik sepanjang tahun 2016 sampai 2017.

"Sedangkan masjid di lingkungan perumahan, mengembangkan narasi seruan jihad. Tema-tema perang yang mengobarkan semangat jamaah dan tentu saja hasutan-hasutan kebencian terhadap kelompok lain yang tidak sejalan," kata Sudarto.

Selain masjid di perumahan, bakal radikalisme dan intoleransi muncul dari masjid kampus.

Sudarto mencontohkan salah satu kelompok agama yang bernama Depok Islamic study Circle (DISC). Kelompok itu membagi pengajian dalam dua kategori, yaitu umum dan eksklusif anggota.

"Dalam situs DISC, ada gambar otak dengan ulat serta lalat yang disimpulkan sebagai otak Jaringan Islam Liberal (JIL) yang harus dilawan. Mereka juga menganggap Ahmadiyah, Syiah, LGBT dan komunisme sebagai musuh Islam," kata Sudarto.(*)

Sumber: Merdeka.com/CNN Indonesia
 

loading...

#

Sebelumnya

Bersiap menghadapi gunung Agung

Selanjutnya

Awan gelap gunung Agung, warga mengungsi mandiri

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe