Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Meliput wilayah konflik tak cukup modal berani
  • Kamis, 23 November 2017 — 23:02
  • 1150x views

Meliput wilayah konflik tak cukup modal berani

"Jadi ketika turun lapangan butuh kehati-hatian, tidak tergesa-gesa. Tapi sebelum ditugaskan, harus memahami dan mencari informasi sebanyak mungkin terkait wilayah konflik tersebut," ujar Desi yang juga sempat meliput peristiwa Pilkada Kabupaten Jayapura tahun 2017 itu. 
Suasana Talkshow Meliput Wilayah Konflik di Fesmed 2017, Solo (23/11) - Jubi/Galuwo
Galuwo
kris@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Solo, Jubi - Menjadi reporter di wilayah konflik tidak cukup hanya modal berani; butuh kehati-hatian, tidak tergesa-gesa, dan memahami serta mencari informasi sebanyak mungkin terkait wilayah konflik tersebut.

Hal itu diungkapkan Desi Fitriani, reporter Metro TV pada Talkshow Meliput Wilayah Konflik, di Festival Media 2017 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Solo, Kamis (23/11/2017).

Desi Fitriani yang membuka diskusi tersebut memulai materi dengan pemutaran film pendek liputan-liputan konflik di dunia selama beberapa tahun belakangan, seperti di Gaza, Palestina; Marawi, Philipina; serta konflik di tataran nasional seperti di Aceh, Papua, dan Timor Leste.

"Jadi ketika turun lapangan butuh kehati-hatian, tidak tergesa-gesa. Tapi sebelum ditugaskan, harus memahami dan mencari informasi sebanyak mungkin terkait wilayah konflik tersebut," ujar Desi yang juga sempat meliput peristiwa Pilkada Kabupaten Jayapura tahun 2017 itu. 

Menurutnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peliputan konflik, seperti mengutamakan keselamatan, kerja sama tim, kerja sama dengan media lain, pendekatan dengan penduduk lokal, serta menyiapkan mental dari tekanan.

"Biasanya kita meliput sering mendapat tekanan dari militer. Kita juga jangan sampai memihak salah satu kelompok. Misal konflik di Aceh terkait GAM, biasanya berita kebanyakan berpihak ke kubu militer," ujarnya. 

Dia juga mengingatkan agar selalu membawa tanda pengenal, dan selalu meninggalkan pesan di kantor.

Turut berbicara pada acara tersebut, Usman Hamid Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, yang menyampaikan sudah hampir 1300 jurnalis terbunuh di seluruh dunia. 

"Namun yang kebanyakan meninggal justru bukan jurnalis di wilayah konflik atau perang. Dari beberapa penelitian malah kebanyakan terlibat dari pemerintah atau agen-agen pemerintah. Juga misalnya kartel narkoba seperti di Brasil dan Meksiko," ujarnya.

Dia juga menyinggung konflik di Freeport, Tembagapura belakangan ini. Bagi Usman terkait isu penyanderaan masih kurang jelas.

"Tidak ada liputan langsung. Juga pada proses pelepasan sandera pun tidak ada (liputan langsung). Termasuk kematian brimob. Jadi semuanya tidak jelas," tegasnya.

Liputan langsung yang dimaksudkan adalah tidak ada wartawan yang turun langsung di lapangan dan melaporkan dari lapangan, baik televisi dan media cetak/online. Rata-rata memgambil rilis kepolisian, ujar dia.

Terkait mekanisme perlindungan wartawan dalam peliputan konflik menurut hukum humaniter internasional, disampaikan oleh pembicara lainnya, Sonny Nomer, Deputy Head of Communicaton ICRC (International Committee of the Red Cross). 

Dia memaparkan hak jurnalis dan editor media, sesuai Deklarasi Universal HAM pasal 19, setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi; hak ini termasuk kebebasan untuk mempertahankan pendapat tanpa gangguan dan untuk mencari, menerima dan menyiarkan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa batas.

Festival Media (Fesmed) 2017 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu berlangsung dari tanggal 21-24 November 2017 di Graha Solo Raya, Solo, Jawa Tengah. Workshop-workshop terkait jurnalisme dan media dengan tema-tema menarik disajikan di arena festival.

Selain Talkshow Meliput Wilayah Konflik, workshop Penggunaan Facebook untuk Penyebaran dan Peliputan Berita dihadiri cukup banyak peminat media, mahasiswa, dan jurnalis. (*)

loading...

Sebelumnya

Konflik di kawasan pertambangannya, Freeport didesak beri penjelasan

Selanjutnya

Ketua Dewan Pers soroti media abal-abal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe