Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Kalimantan
  3. Bila Orangutan binasa
  • Minggu, 26 November 2017 — 15:43
  • 918x views

Bila Orangutan binasa

Tabiat memakan buah ini membantu penyebaran benih sekaligus membentuk dan melestarikan hutan hujan tropis.
Orangutan Tapanuli. Maxime Aliaga via The Verge/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Para ilmuwan baru saja menemukan spesies orangutan baru. Permasalahannya, spesies ini adalah spesies primata besar paling langka di Bumi.

Dalam klasifikasinya, hanya ada dua spesies orangutan yakni orangutan Sumatera dan orangutan Borneo.

Keduanya sendiri sudah dalam status terancam punah. Belakangan ilmuwan menemukan spesies baru bernama Pongo tapanuliensis, yang ditemukan di hutan Batang Toru, daerah terpencil di Sumatera Utara, seperti dikutip dari The Verge. Ilmuwan memperkirakan, hanya 800 ekor saja yang tersisa sehingga sangat rentan punah. Jurnal ini dipublikasikan di Current Biology.

Ada beberapa aspek yang membuat orangutan Tapanuli berbeda dengan Sumatera dan Borneo, terutama aspek perilaku. Hal ini membuat ilmuwan merasa ada perbedaan genetika dan mengklasifikasikannya dalam spesies baru.

Lebih lanjut, para ilmuwan sendiri akhirnya mendapatkan akses untuk meneliti kerangka orangutan jenis ini, yang menurut National Geographic merupakan kerangka dari orangutan bernama Raya, yang dilukai oleh manusia tak bertanggung jawab. Bentuk tengkorak dan jumlah gigi orangutan Tapanuli cukup signifikan perbedaannya ketimbang Sumatera dan Borneo.

Berdasarkan genom, peneliti akhirnya menarik kesimpulan kalau orangutan Tapanuli berpisah dari orangutan Borneo di 700.000 tahun yang lalu.

Orangutan memang salah satu dari spesies kera besar yang paling mirip manusia. Ia tidak punya ekor, dan 97 persen DNA mereka serupa manusia. Kecerdasannya dianggap paling unggul dari kera lain. Ia juga satu-satunya spesies kera besar yang tak berasal dari Afrika, melainkan Asia.

Sejak 1994, Michelle Desilets sudah bekerja sebagai aktivis pelindung Orangutan dan jatuh cinta pada kera yang hanya terdiri dari dua jenis ini: Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Membuat Indonesia jadi tempat paling dilihat untuk melestarikan satwa ini.

Kala Desilets membuka Nyaru Menteng Orangutan Rehabilitation and Reintroduction Center pada 1999, hanya ada lusinan Orangutan yang ia jaga. Pada 2010, jumlah itu naik jadi sekitar 600-an. Namun, bukan berarti hidup Orangutan makin aman.

Pekan lalu, 13 November, The Nature Conservancy (TNC) sebuah organisasi konservasi alam yang juga fokus pada keselamatan Orangutan mengeluarkan rilis tentang penurunan jumlah spesies Orangutan Borneo. Angkanya sangat besar. Dalam kurun 10 tahun terakhir, jumlahnya turun hingga 25 persen. Penyusutan hutan, konflik, dan perburuan liar serta perubahan iklim jadi penyebab utama menurunnya populasi Orangutan.

Makin terancamnya eksistensi Orangutan tentu saja akan berdampak besar pada alam, termasuk hajat hidup manusia.

Sekitar 60 persen makanan orangutan adalah buah-buahan, 25 persen dedaunan muda, kulit pohon atau bunga, dan sekitar 10 persen adalah serangga—utamanya semut, dan 5 persennya adalah jangkrik.

Tabiat memakan buah ini membantu penyebaran benih sekaligus membentuk dan melestarikan hutan hujan tropis.

Menyusutnya Orangutan juga berbanding lurus dengan menyusutnya luas hutan. Berdasarkan hasil Population and Habitat Viability Assessment Orangutan 2016, menurut TNC, saat ini kepadatan populasi Orangutan Kalimantan cenderung menurun dari 0,45-0,76 individu/Km2 menjadi 0,13-0,47 individu/Km2 yang hidup di habitat seluas 16.013.600 hektare dan tersebar di 42 kelompok populasi (metapopulasi).

Awal bulan ini, ada kabar baru yang cukup menggembirakan. Untuk pertama kalinya dalam 90 tahun terakhir, spesies kera besar tambah satu. Ia disebut Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dalam publikasi jurnal internasional Current Biology, 3 November lalu.

Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Puji Rianti menjelaskan ada perbedaan genetik sangat besar di antara Orangutan Tapanuli, Orangutan Kalimantan, dan Orangutan Sumatera. Menurut dia, perbedaan genetik ketiganya lebih gamblang ketimbang antara Gorila dataran tinggi dan dataran rendah maupun Simpanse dengan Bonobo di Afrika.

“Perbedaan lain dari segi morfologi. Ukuran tengkorak dan tulang rahangnya lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya. Rambut di seluruh tubuh Orangutan Tapanuli juga lebih tebal dan keriting,” kata Rianti, dalam siaran pers Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Sayangnya, meski kabar ini termasuk menggembirakan, tapi nyatanya jumlah Orangutan Tapanuli sangat kecil, sehingga masuk kategori yang akan segera punah juga. Berdasar pendataan pada 2016, jumlah populasi Orangutan Tapanuli hanya tersisa 800-an individu yang tersebar di tiga lokasi terfragmentasi dalam Ekosistem Batang Toru. Sebab ia sangat lambat dalam berkembangbiak, dengan jarak melahirkan 8-9 tahun. Rata-rata memiliki anak pertama di usia 15 tahun dan mampu hidup sampai usia 50-60 tahun.

Sementara itu, untuk nasib Orangutan Tapanuli, Novak, salah seorang penelitinya menyarankan pemerintah untuk memberhentikan pembangunan pembangkit listrik tenaga air di sana. Sebab mengurangi sedikit saja fungsi hutan, akan berdampak besar bagi nasib Orangutan.(*)

Sumber: Merdeka.com

 

loading...

#

Sebelumnya

Internet, hoax dan penopang ekonomi negara

Selanjutnya

Penyandang disabilitas Samarinda akhirnya dapat SIM

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe