Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Melawan perbudakan kulit hitam bersama Darwin
  • Senin, 27 November 2017 — 20:05
  • 1367x views

Melawan perbudakan kulit hitam bersama Darwin

Cara berpikir itu akhirnya mengarahkan orang-orang melihat ras kulit hitam sebagai perantara antara manusia atau bahkan sebagai anggota spesies yang berbeda—alias bukan manusia—sehingga secara moral dibenarkan untuk dijadikan budak.
Charles Darwin (1809-1882), pencetus Teori Evolusi sekaligus penentang perbudakan. Ilustrasi/John Collier, 1881/ Tirto/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Tak diketahui persis kapan Olaudah Equiano dilahirkan. Para ilmuwan memperkirakan dia lahir pada 1745. Yang jelas, ia wafat pada 31 Maret 1797 di Middlesex.

Sosok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Gustavus Vassa ini adalah seorang bekas budak yang mendukung gerakan penghapusan perbudakan di Inggris.

Otobiografi Olaudah Equiano yang diterbitkan pada 1789, membantu lahirnya Undang-Undang Perdagangan Budak 1807 yang mengakhiri perdagangan budak di Inggris dan koloni-koloninya.

Olaudah Equiano dan adik perempuannya diculik dan dijual ke pedagang budak dan sampai ke Virginia.

Sampai akhirnya Olaudah Equiano jatuh ke tangan Robert King, seorang pedagang dari Philadelphia. King berjanji, Olaudah Equiano bisa membeli kemerdekaannya sebesar 40 poundsterling. Dia diajari membaca dan menulis, bahkan berdagang atas namanya sendiri.

Pada 1767, Olaudah Equiano berhasil menebus kemerdekaannya. Sekitar 1780-an, Olaudah Equiano mulai terlibat di pergerakan penghapusan perbudakan. Olaudah Equiano didorong menulis pengalamannya sebagai budak dan buku itu menjadi sensasi sekaligus membakar gerakan anti perbudakan di Britania Raya, Eropa, dan Dunia Baru.

Pada waktu yang berbeda, Charles Darwin, tokoh yang memperkenalkan teori evolusi, suatu ketika tiba di Brazil yang kala itu dijajah Portugis yang menjalankan praktik perbudakan. Hampir semua pekerja perkebunan dan pelayan rumah adalah budak keturunan Afrika.

Kondisi para budak yang dilihat Darwin pun amat mengenaskan. Dia mencatat ada seorang budak yang masih anak-anak dipukuli dengan pecut kuda. Terdengar pula suara seorang majikan mengancam untuk menjual istri dan anak-anak dari semua budaknya.

Dua sejarawan sains, Adrian Desmond dan James Moore, dalam Darwin's Sacred Cause (2009) mengisahkan keresahan batin Darwin melihat kondisi tersebut.

“Saya harap hari itu akan tiba ketika mereka akan menegaskan hak mereka sendiri dan melupakan balas dendam atas kesalahan ini," sebut Darwin.

Sementara itu, menurut Stefoff, di Brazil itu pula Darwin sempat adu mulut dengan Kapten Kapal Beagle, Robert Fitzroy. Kepada Darwin, sang kapten mengatakan budak dibutuhkan untuk mengolah perkebunan besar dan dia mengaku pernah mengunjungi perkebunan di mana para budaknya merasa senang.

Jika dilihat dari garis keturunan, kakek dan paman Darwin—masing-masing bernama Josiah Wedgwood dan Josiah Wedgwood II—adalah orang-orang Inggris pendukung dihapusnya perbudakan. Kelompok anti-perbudakan itu dikenal dengan istilah abolisionis. Sikap ini, menurut Desmond dan Moore, "menurun" kepada Darwin.

Dalam artikel berjudul “Did Darwin’s Theory of Evolution Encourage Abolition of Slavery?” Profesor emeritus di Departmen Ekologi dan Evolusi University of Chicago Jerry A. Coyne mengungkapkan, sesungguhnya On the Origin of Species mengesampingkan bahasan mengenai evolusi manusia.

Darwin pun tidak menyebut manusia merupakan hasil perubahan dari kera (apes). Bahkan, hanya dalam 12 kata saja—dari karya setebal 400 halaman itu—Darwin menyinggung soal evolusi manusia: “Light will be thrown on the origin of man and his history” atau "Terang akan terbit pada asal usul manusia dan sejarahnya". Laki-laki yang lahir 12 Februari 1809 itu juga sama sekali tidak menyinggung tentang ras.

Namun jelas, ada dua argumen utama yang diutarakan Darwin. Pertama, spesies berevolusi dan beradaptasi agar sesuai dengan keadaan alam mereka. Kedua, seleksi alam adalah mekanisme utama yang membuat spesies baru terbentuk secara perlahan.

Lantas, apa kaitan kata-kata Darwin tersebut dengan gagasan anti-perbudakan?

Menurut Coyne, pada saat itu, asal-usul manusia sedang diperdebatkan: “Apakah manusia memiliki moyang tunggal atau jamak dengan setiap ras diciptakan secara terpisah?”

Untuk menjawab hal itu, beberapa orang menyatakan bahwa ras manusia berasal dari moyang berbeda (poligenisme). Bagi mereka, "manusia pertama" Adam dan Hawa hanya menurunkan generasi orang-orang kulit putih, sedangkan orang-orang dari ras lain tidak berasal dari manusia pertama tersebut.

Cara berpikir itu akhirnya mengarahkan orang-orang melihat ras kulit hitam sebagai perantara antara manusia atau bahkan sebagai anggota spesies yang berbeda—alias bukan manusia—sehingga secara moral dibenarkan untuk dijadikan budak.

Darwin dan orang-orang yang berpikir monogenis menganggap manusia memiliki moyang tunggal, seperti yang termaktub dalam kitab-kitab suci agama Abrahamik.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, gagasan ini memberikan fondasi pemikiran bahwa superioritas rasial kulit putih dan perbudakan tidak dapat dipertahankan secara moral.

"Tidakkah pemegang budak ingin membuat orang kulit hitam itu jenis lain? ... dari asal mula kita berasal dari moyang yang sama, kita mungkin terjaring bersama," sebut Darwin dalam buku catatan yang digunakannya saat menyusun tulisan mengenai seleksi alam. (*)

Sumber: CNN Indonesia/Tirto.id
 


 

loading...

#

Sebelumnya

Kudeta buat Mugabe dan jaminan gaji seumur hidup

Selanjutnya

Mengapa Sinai jadi sarang teroris?

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5653x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2816x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 2702x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe