Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bali & Nusa Tenggara
  3. Warga Bali diimbau hindari arus sungai
  • Senin, 27 November 2017 — 20:08
  • 1202x views

Warga Bali diimbau hindari arus sungai

ebelumnya diketahui material erupsi Gunung Agung yang terbawa air hujan mulai membanjiri lahan persawahan yang dekat dengan Sungai Yeh Sah, Desa Batusesa, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
Sumber: CNN Indonesia/Merdeka.com
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Bali, Jubi - Penduduk Bali diimbau menghindari aliran arus sungai yang berhulu di Gunung Agung karena sewaktu-waktu bisa terdampak banjir lahar dingin dari gunung yang pernah meletus dahsyat di tahun 1963 itu.

"Banjir lahar dingin juga akan meningkat karena hujan di sekitar Gunung Agung akan meningkat, apalagi Bali sudah masuk musim hujan. Waspadai banjir lahar hujan atau banjir lahar dingin," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kepada wartawan di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Senin, (27/11/2017).

Sutopo menjelaskan, fenomena alam munculnya banjir lahar dingin diakibatkan letusan atau erupsi gunung berapi yang pasti menyemburkan berbagai material seperti abu, kerikil, pasir, sampai bongkahan batuan yang mengendap di sekitar kawah dan lereng gunung.

Apabila turun hujan, air akan bercampur dengan material dari letusan itu dan bergerak mengalir menuruni lereng ke arah hilir sungai dengan membawa segala material letusan.

"Karena ada hujan lebat maka (material letusan) akan terbawa oleh aliran yang terjadi lahar dingin, dan potensinya akan meningkat dan berbahaya," ujarnya.

Guna menjaga keselamatan, Sutopo mengingatkan masyarakat di sekitar aliran sungai yang memiliki hulu di Gunung Agung untuk waspada dan menyingkir dari area sungai, terutama ketika sedang hujan di hulu sungai.

Ia juga mengimbau masyarakat di radius 8-10 kilometer dari puncak gunung harus menjauhi zona perkiraan bahaya dengan sukarela dan tertib.

Sebelumnya diketahui material erupsi Gunung Agung yang terbawa air hujan mulai membanjiri lahan persawahan yang dekat dengan Sungai Yeh Sah, Desa Batusesa, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.

Dari pengamatan PVMBG, fenomena lahar ini berasal dari lereng selatan Gunung Agung atau bagian hulu Desa Sebudi. Dari pengamatan pihaknya sudah mengecek lahar dingin ini, karena ada tercium bau belerang dan jatuhan abu yang terjadi dua hari ini terakhir.

Kenaikan status Gunung Agung menjadi 'awas' membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu melakukan evakuasi terhadap 90.000-100.000 warga yang bermukim di zona bahaya letusan Gunung Agung.

Di zona bahaya letusan Gunung Agung itu terdapat 22 desa yang warganya diharuskan untuk mengungsi. Ke-22 desa tersebut diantaranya Desa Ababi, Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringsari, Muncan, Duda Utara, Amertha Bhuana, dan Sebudi.

Melihat kondisi letusan Gunung Agung yang semakin parah, pihaknya akan melakukan penyisiran dan membujuk terus menerus penduduk agar mau mengungsi.

Meskipun demikian, BNPB mencatat sudah ada lebih dari 40.000 masyarakat telah mengungsi di beberapa tempat. Sutopo mengatakan sejak Minggu (25/11) kemarin, sudah ada masyarakat yang telah memulai melakukan evakuasi secara sukarela.

Pada Sabtu (25/11) sampai Minggu (26/11) kemarin bandara Ngurah Rai mengalami pembatalan penerbangan dengan total 9.195 penumpang sejak erupsi gunung meletus terjadi.

Sejak meletus 25 sampai 26 sudah ada 9.195 penumpang yang mengalami pembatalan, baik keberangkatan maupun kedatangan. Yaitu tanggal 25 November, 2087 penumpang kemudian tanggal 26 kemarin 7108 penumpang.

Namun demikian, Bandara Lombok dilaporkan masih beroperasi dengan normal. Tapi tak menutup kemungkinan, Bandara tersebut akan ditutup karena penyebaran abu vulkanik yang bisa merembet dari Barat laut menuju Timur Tenggara. Apalagi saat ini Bali telah memasuki musim hujan. Ditambah erupsi yang akan semakin meningkat maka abu vulkanik lebih dominan mengarah ke arah Timur dan Tenggara.

Saat ini, penggunaan jalur laut dan darat di radius erupsi gunung agung dinilai lebih aman dibandingkan jalur udara.(*)

Warga beristirahat di lokasi pengungsian di GOR Suweca, Klungkung, Bali, Selasa (26/9). Liputan6.com/Jubi

loading...

#

Sebelumnya

Awan gelap gunung Agung, warga mengungsi mandiri

Selanjutnya

Gunung Agung muntahkan pasir dan kerikil

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe