Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Sulawesi
  3. Perempuan -perempuan penenun
  • Senin, 27 November 2017 — 20:12
  • 2456x views

Perempuan -perempuan penenun

“Di Lembata, PEKKA sudah ada selama 15 tahun. Dulu mereka hanya ingin menenun dari benang yang dijual di toko. Kini kami berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menenun menggunakan benang kapas. Kami mencari cara agar mereka bisa mengorganisir kebun kapas,”
Penenun asal NTT ikut serta di pameran tenun bertajuk Sole Oha di Museum Tekstil, Jakarta, Selasa (21/11/2017). Tirto.id/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Sabariah masih ingat saat seorang wanita Jepang bertandang ke rumah neneknya di dusun Pebasian, Mamasa, Sulawesi Barat. Wanita Jepang itu meminta neneknya mengajari cara membuat kain Tenun Palawa dengan motif Ampire.

Di desa Pebasian, hanya ada sekitar lima orang yang bisa mengerjakan motif tersebut. Nenek dari Sabariah adalah salah satunya. Menurut Sabariah, anak-anak muda tak mau lagi mengerjakan motif tersebut karena terbilang sulit.

Perjumpaan dengan tirto.id terjadi saat eksibisi "Sole Oha", pameran tenun Mamasa, Toraja, Adonara, dan Lembata, yang diadakan di Museum Tekstil, Jakarta. Sabariah berbicara sambil memutar dan mengacak jajaran benda serupa kartu yang ada di tengah benang sepanjang tujuh meter.

Kartu itu dipakainya sebagai medium bantuan dalam membuat motif pada kain. Ia harus cermat dalam membuat motif. Sebab jika sedikit saja keliru, prosesnya tidak bisa diulang.

"Dulu, kartu terbuat dari gading gajah. Nenek memakai gading gajah itu sebelum dibeli oleh wanita Jepang. Sekarang tak ada lagi gading gajah. Kami cuma memakai kartu sim perdana yang dipotong berbentuk persegi,” kenang ibu beranak dua ini. Wanita dari Jepang itu membeli kartu gading gajah karena hendak mengajarkan teknik menenun di negaranya menggunakan perlengkapan yang digunakan oleh masyarakat Mamasa.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas sampai hari ini, Sabariah berdagang kain tenun. Setiap hari, ia mengerjakan pesanan. Sebagian besar selendang. Di sela perbincangan, ia mengatakan dirinya bahagia karena bisa membawa tenun karyanya keluar dari Mamasa.

“Mamasa adalah daerah yang kami rasa paling sulit. Rumah penduduk terletak jauh di atas bukit. Sarana transportasi kurang memadai dan masalah utama masyarakat di sana adalah sanitasi. Banyak warga tidak punya fasilitas MCK layak,” ujar Susan, fasilitator Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA),

Di Mamasa, Susan membina 24 kelompok yang terdiri dari 377 orang wanita. Sebagian besar dari mereka masih menenun. PEKKA berupaya agar karya tenun wanita Mamasa bisa menjadi salah satu sumber penghasilan yang cukup signifikan.

Susan menghadapi berbagai kendala dengan memberi fasilitas untuk pengrajin yang memungkinkan tenun mereka masuk ke pasar yang lebih besar. Selain PEKKA, ia mengisahkan Toraja Melo yang juga membantu dari sisi material dan edukasi. Masyarakat mulanya menolak karena benang dari katun yang diberikan dianggap keras dan berbulu. Biasanya, mereka menggunakan benang poliester.

"Hal-hal seperti ini kami komunikasikan juga dengan Toraja Melo. Kemudian mereka memberikan benang baru. Selain itu, kami pun membuat proposal kepada pemerintah daerah untuk membantu anggaran membeli benang,” kata Susan.

Mereka juga melakukan upaya lain, misalnya meminta pemerintah mengeluarkan aturan yang mengharuskan warga mengenakan kain tradisional.

Susan punya cerita serupa dengan daerah-daerah lain seperti Adonara, Lembata, dan Toraja.

“Di Lembata, PEKKA sudah ada selama 15 tahun. Dulu mereka hanya ingin menenun dari benang yang dijual di toko. Kini kami berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menenun menggunakan benang kapas. Kami mencari cara agar mereka bisa mengorganisir kebun kapas,” kata Susan.

Cerita tentang penenun di sekitar Adonara dan Lembata bisa disimak melalui film dokumenter karya Vivian Idris bertajuk Jaga Tane Neket, Merawat Warisan Ibu. Dalam film itu, dikisahkan tentang legenda, tradisi menenun, kendala, serta generasi penerus penenun. Film tersebut ditayangkan pertama kali dalam pameran "Sole Oha". Vivian berencana menayangkan kembali seri dokumenter tersebut di sejumlah tempat lain.

Dinny Jusuf, pemilik Toraja Melo yang mengagas terselenggaranya pameran ini, tidak menyanggah perkataan tersebut. Ia yang kerap mendatangi sejumlah daerah di Indonesia untuk menggali lebih dalam tentang tenun lokal berkata, “Ada banyak horror stories tentang tenun Indonesia hari ini."

Di eksibisi "Sole Oha" ini, tenun-tenun dari empat daerah tersebut dibentangkan. Ibu-ibu penenun menggarap kain tenunnya di tengah-tengah ruang pamer. Saat sore menjelang, mereka memasukkan kain tenun ke dalam wadah anyaman dan meletakkannya di atas kepala.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan 33 kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia sebagai warisan budaya tak benda oleh.

Dari 33 kain tersebut, di antaranya ada batik, ulos, songket, tenun ikat, dan termasuk beberapa kain yang telah sulit ditemukan. Salah satunya adalah kain dari kulit kayu di Kalimantan. Kain ini langka karena pohon yang kulitnya digunakan untuk membuat kain tersebut sudah langka, akibat hutan yang telah rusak.

"Penetapan ini upaya melindungi dan mendorong masyarakat untuk melestarikan kain tradisional," kata Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Nadjamuddin Ramly di Jakarta, Kamis (24/8/2017) lalu. (*)

Sumber : Tirto.id/CNN Indonesia

loading...

#

Sebelumnya

Adopsi anak dan hukumnya di Indonesia

Selanjutnya

Merayakan hari HAM & teladan George Aditjondro

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe