Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jayapura Membangun
  3. Iven budaya harus berdampak peningkatan ekonomi rakyat
  • Selasa, 28 November 2017 — 09:54
  • 532x views

Iven budaya harus berdampak peningkatan ekonomi rakyat

Tercatat ada tiga iven budaya yang sudah menjadi agenda rutin di kabupaten Jayapura yakni Festival Danau Sentani (FDS), Festival Bahari Teluk Tanah Merah (FBTTM), dan Festival Lembah Grimenawa (FLG). Tiga iven budaya ini dilaksanakan pada bulan Juni, Oktober, dan November.
Pementasan tarian oleh salah satu tim tari dari kampung Yepase pada Festival Bahari Teluk Tanah Merah III 2017 di pantai Tablanusu - Jubi/Engel Wally   
Engelbert Wally
engellenny2509@gmail.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Sentani, Jubi - Iven budaya yang setiap tahun digelar Pemerintah Kabupaten Jayapura harus berdampak kepada pendapatan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Tercatat ada tiga iven budaya yang sudah menjadi agenda rutin di kabupaten Jayapura yakni Festival Danau Sentani (FDS), Festival Bahari Teluk Tanah Merah (FBTTM), dan Festival Lembah Grimenawa (FLG). Tiga iven budaya ini dilaksanakan pada bulan Juni, Oktober, dan November.

Sekretaris Komisi C DPRD Kabupaten Jayapura, Abraham Demonggreng  mengatakan iven budaya yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini harus bermanfaat dan berdampak bagi kepentingan masyarakat. Menurutnya, dalam ruang pembinaan dan peningkatan serta pemberdayaan masyarakat maka pemerintah daerah harus lebih intens mendata dan mendorong peningkatan setiap usaha yang dilaksanakan oleh masyarakat di setiap kampung.

"Iven budaya seperti FDS, festival bahari, dan festival Lembah Grime tentu dilaksanakan dimana masyarakat kampung selaku pelaku ekonomi yang akan menerima dampak dari apa yang dilaksanakan. Setiap iven dihadiri pengunjung yang tidak sedikit, oleh sebab itu pemerintah harusnya melakukan pendataan dan juga pembinaan yang lebih intens di tengah masyarakat," ujar Abraham, saat ditemui di Sentani, Senin (27/11/2017).

Dijelaskan, usaha kecil atau menengah yang mudah dilakukan masyarakat kabupaten Jayapura adalah mengolah hasil sumber daya alam sekitar untuk di jual kembali kepada para pengunjung. Sebenarnya usaha seperti ini adalah potensi yang dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha rutin masyarakat yang ke depan tidak bergantung lagi pada iven budaya.

"Usaha masyarakat seperti makanan pokok orang Papua, sagu, ikan, ubi, singkong, dan keladi yang setiap ada iven budaya dimasak dan dijual kepada para pengunjung yang datang. Hal ini harus dikembangkan lagi dan dibina melalui pendataan yang intens langsung di tengah masyarakat serta dibina dengan baik sehingga ke depan usaha seperti ini tidak lagi memanfaatkan adanya iven budaya saja tetapi sudah menjadi mata pencaharian dan usaha setiap hari yang dilakukan masyarakat kita," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Herman Oyaitouw. Selain fasilitas pendukung tempat digelarnya iven budaya tetapi dampak dari apa yang dilakukan saat ini sangat penting bagi masyarakat lokal kita.

"Setiap festival budaya, ada hal-hal penting yang terlewatkan oleh kita kita semua adalah dampak yang harus dirasakan masyarakat kita terkait pelaksanaan iven budaya itu sendiri. Baik ekonomi, sosial, dan juga pembangunan secara global. Contoh nyata adalah FDS. Selesai iven di Khalkote, lokasi tersebut dibiarkan begitu saja selama setahun. Nanti di bulan Juni baru dibersihkan dan persiapkan kembali lagi. Festival bahari juga pasti seperti itu. Hal ini harus diperhatikan dengan serius oleh pemerintah daerah," ungkapnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Festival Bahari Teluk Tanah Merah, promosi dan pembangunan infrastruktur penting

Selanjutnya

Pengurus Dewan Adat Byak Sup Mun Tabi terbentuk 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe