Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Mengapa Sinai jadi sarang teroris?
  • Selasa, 28 November 2017 — 18:27
  • 797x views

Mengapa Sinai jadi sarang teroris?

Faktor ekonomi menjadi pemicu hadirnya gerakan-gerakan pemberontakan dan militan di Sinai.
Sejumlah turis berjalan di kawasan gurun di kawasan Hudra dekat Ras Ghazala, Sinai, Mesir, 21 November 2015.Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi
 

Mesir, Jubi - Sinai menangis dan berluuran darah . Ratusan korban berjatuhan setelah serangan teror menyasar sebuah masjid di utara wilayah tersebut. Tak hanya korban jiwa, 120 orang lainnya dikabarkan mengalami luka-luka. Banyaknya korban disebabkan oleh serangan yang dilancarkan saat umat Muslim berkumpul menunaikan salat Jumat.

Awalnya pelaku meledakkan bom di luar masjid yang terletak di desa Al-Rawda, 40 kilometer barat Kota al-Arish, Sinai. Lalu pelaku melancarkan serangkaian tembakan ke arah jemaah yang sedang salat Jumat. Setelah serangan itu, sekitar 50 ambulan dikerahkan ke lokasi kejadian. Korban yang terluka langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Para penyerang dilaporkan membakar kendaraan yang diparkir di sekitar masjid untuk memblokir akses ke gedung tersebut, dan menembaki mobil ambulan yang hendak melarikan korban ke rumah sakit terdekat.

Aparat keamanan Mesir mengatakan pelaku serangan terhadap peserta salat Jumat di sebuah masjid di Sinai, membawa bendera kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS. 305 orang tewas dalam serangan tersebut.

Jaksa Penuntut Umum Mesir mengatakan ada sekitar 30 orang pelaku serangan di lokasi kejadian, sementara Presiden Abdul Fattah al-Sisi berjanji melakukan serangan dengan "kekuatan maksimal".

Para pelaku berasal dari kelompok militan Islamis di Sinai dan berafiliasi dengan ISIS.

Sudah bertahun-tahun pemerintah Mesir memerangi kelompok militan tersebut. Jika merujuk pada sejumlah teror yang terjadi di Sinai, tak hanya satu kelompok militan yang aktif di Sinai dan mereka memiliki motif yang berbeda-beda.

Misalnya serangan bom mematikan pada 2004 hingga 2006 oleh Tauhid wal Jihad yang menargetkan warga Israel. Kelompok militan yang mendiami Sinai yang berdekatan dengan Jalur Gaza itu kerap melancarkan serangan di sejumlah resor-resor yang dikunjungi warga Israel.

Sesuai nama lengkapnya, Jahafil Al-Tawhid Wal-Jihad fi Filastin, kelompok ini beroperasi di Jalur Gaza dan Sinai, sehingga kerap menyerang siapapun yang diidentifikasi sebagai warga Israel. Serangan pada 2004 di Hotel Hilton Taba di Sinai, misalnya, pengunjungnya paling banyak memang berasal dari Israel.

Serangan Hilton menewaskan 34 orang dan melukai 105 orang lainnya. Tak lama berselang, dua serangan lanjutan terjadi di Ras al Sultan dan desa Tarabeen dekat Nuweibadi, sebuah kota di pantai timur Semenanjung Sinai. Sekitar 20 korban diidentifikasi merupakan warga Israel.

Selain itu, ada juga kelompok militan Ansar Beit al-Maqdis yang aktif sejak 2011 di Sinai. Setelah Muhammad Mursi yang dekat dengan kelompok islami dilengserkan pada 2013, serangan teror pun mulai dilancarkan terutama menyasar pos-pos militer termasuk helikopter militer Mesir. Kelompok ini kemudian mengaku telah berafiliasi dengan ISIS sehingga kini dianggap sebagai cabang ISIS di Mesir.

Faktor ekonomi menjadi pemicu hadirnya gerakan-gerakan pemberontakan dan militan di Sinai. Secara geografis, wilayah Sinai diberkahi oleh pantai yang indah dan sumber daya minyak. Tahun 1990an investasi besar memasuki wilayah Sinai. Wilayah selatan mulai berdiri resort-resort mewah.

Lokasi itu awalnya merupakan desa nelayan warga asli Sinai. Kehadiran resor-resor mewah tersebut membuat warga setempat tersingkir dan kehilangan pekerjaan sebagai nelayan. Selain itu, sumber daya alam yang berada di Sinai juga dikuasai pemerintah dan pendatang.

Penduduk Sinai yang kecil juga jauh dari pemberitaan media karena tertutup oleh megahnya resor-resor di Sinai. Di sisi lain, pemerintah tidak hadir. Minimnya akses kesehatan, pendidikan dan ekonomi menyeret warga Sinai kepada kemiskinan, bahkan penduduk Sinai menjadi yang termiskin di Mesir.

Kondisi ini menciptakan kriminalitas. Jalur perdagangan tradisional diubah menjadi jalur penyelundupan, termasuk pasokan senjata gelap. Kondisi yang sama menyuburkan gerakan-gerakan jihadis. Alasannya tak hanya dendam sejarah seperti pendudukan Israel di Sinai (sampai 1979), Yerusalem, dan konflik di Gaza, namun juga perasaan kecewa, benci dan merasa diasingkan oleh industri pariwisata yang tak melibatkan warga Sinai.

Kekuatan para militan yang awalnya berskala kecil menguat di bawah konsolidasi ISIS yang saat itu sedang memperluas wilayah kekuasaannya di luar Suriah dan Irak. Serangan teror yang kerap dilakukan kelompok militan Sinai membuat pemerintah Mesir geram dan membalas dengan tindakan represif.

Tindakan keras Kairo ditanggapi militan Sinai dengan terus meningkatkan aksi-aksi teror dan kampanye anti pemerintah agar menjauhkan warga Sinai dari pemerintah. Sokongan bantuan dari ISIS membuat militan di Sinai semakin percaya diri untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan pemerintah Mesir bahkan dunia. (*)

Sumber: Tempo.co/Tirto.id

 

loading...

#

Sebelumnya

Melawan perbudakan kulit hitam bersama Darwin

Selanjutnya

Prajurit rendahan yang jadi pemimpin dunia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe