Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Penyelidikan POM Merauke jangan hanya meredam polemik
  • Rabu, 29 November 2017 — 11:42
  • 831x views

Penyelidikan POM Merauke jangan hanya meredam polemik

"Saya apresiasi pihak TNI yang menyatakan tiga oknum anggotanya diduga menganiaya korban. Tapi hasil pemeriksaan harus disampaikan secara transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Kasus ini harus tuntas," kata anggota Komisi I DPR Papua yang membidangi hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa.
Ilustrasi anggota TNI - Jubi/Arjuna
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Anggota Komisi I DPR Papua yang membidangi hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa, berharap penyelidikan yang kini dilakukan POM Merauke terhadap tiga oknum anggota TNI dari Batalyon 755/Yalet, terkait meninggalnya Izak Dermuye Kua (23) di sel tahanan Polsek Kimaam pekan lalu, jangan hanya untuk meredam polemik.

Ia mengatakan tiga oknum TNI yang diduga menganiayai Izak, sebelum warga Kampung Woner, Distrik, Kimaam, Kabupaten Merauke itu meninggal dunia, kini sedang diperiksa intensif oleh POM Merauke. Namun pemeriksaan ini jangan hanya sekadar formalitas. Tapi dapat menungkap fakta sebenarnya.

"Saya apresiasi pihak TNI yang menyatakan tiga oknum anggotanya diduga menganiaya korban. Tapi hasil pemeriksaan harus disampaikan secara transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Kasus ini harus tuntas," kata Kadepa kepada Jubi, Selasa (28/11/2017).

Terkait informasi yang menyebut pihak TNI di Kimaam memberikan uang senilai Rp 50 juta kepada keluarga korban, dan minta pihak keluarga menandatangi surat pernyataan tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum, kata Kadepa, cara seperti ini tidak dibenarkan.

"Kalau informasi itu benar, sangat disayangkan. Uang Rp 50 juta itu tidak sebanding dengan nyawa manusia. Itu bukan solusi. Ke depan jangan memaksakan kehendak di tengah orang yang berduka," ujarnya.

Ia juga mengkiritk foto pertemuan keluarga korban dengan berbagai pihak beberapa hari lalu yang dinilai tidak mencerminkan rasa empati kepada pihak keluarga.

"Saya lihat foto di media sosial, ada yang angkat jempol, ada yang tersenyum. Padahal keluarga korban melumuri tubuh mereka dengan tanah, menunjukkan rasa duka. Inikan kesannya jelek. Sama saja melecehkan. Hargai orang duka," katanya.

Komandan POM AD Merauke, Kapten CPM Budi Hartono, mengatakan dalam kasus ini pihaknya telah menahan Serda LD, Prada A, dan Prada F untuk kepentingan pemeriksaan.

"Serda LD, Prada A, dan Prada F masih harus menjalani pemeriksaan intensif, karena terindikasi sebagai pelaku pemukulan," kata Kapten CPM Budi Hartono, kepada wartawan di Merauke, Senin (27/11/2017).

Namun, katanya, praduga tak bersalah harus dikedepankan hingga proses hukum yang kini sedang dilakukan rampung.

"Kami telah melayangkan surat permohonan penahanan sementara untuk 20 hari ke depan demi kelancaran pemeriksaan," ujarnya.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun pihaknya lanjut dia, ketika itu anggota Pos 755/Yalet mendapatkan laporan dari istri korban yang mengaku mengalami KDRT dari suaminya. Tiga anggota TNI yang kini menjadi terduga, mengamankan Izak.

"Ketiga terduga mengaku memukul korban dengan selang, rotan dan kabel, untuk memberikan efek jera. Namun upaya berlebihan ini berakibat fatal. Kami telah menemukan sejumlah alat bukti yang diduga digunakan memukul korban," katanya.

Menurutnya, setelah itu, korban dibawa ke Polsek Kimaam. Beberapa jam kemudian ada anggota Polsek mendatangi Pos TNI dan menyampaikan Izak meninggal dunia.

Kalau terbukti bersalah, tiga oknum TNI ini terancam dikenakan pasal 351 KUHP dengan ancaman dua tahun delapan bulan penjara.

Jika ketiga terduga terbukti penyebab meninggalnya seseorang, terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara dan dimungkinkan adanya hukuman tambahan.

"Namun tidak benar ada desakan TNI kepada keluarga korban menghentikan proses hukum kasus ini. Benar ada pendekatan ke keluarga dan penyerahkan santunan sebagai empati, namun bukan untuk menghentikan kasus ini dan tidak akan meringankan proses hukum," ucapnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Bupati Ham Pagawak bantah tudingan mahasiswa Mamteng

Selanjutnya

ASN pembunuh dosen Uncen diringkus polisi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe