Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Prajurit rendahan yang jadi pemimpin dunia
  • Rabu, 29 November 2017 — 21:38
  • 1833x views

Prajurit rendahan yang jadi pemimpin dunia

Hitler termasuk dalam golongan tentara-tentara yang kalah perang. Sudah kalah perang Jerman dipermak Sekutu hingga pulen. Ekonomi dalam negeri Jerman pun remuk.
Para Pemimpin Dunia Bekas Kopral dan Sersan. FOTO Istimewa/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Adolf Hitler. Menyebut nama itu masih saja mengundang ngeri. Dialah sosok yang bertanggung jawab atas kematian lebih dari 60 juta warga di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Karena dianggap sebagai penyebab perang, banyak yang memandang Hitler sebagai orang yang kejam dan fanatik. Meski demikian, tak banyak yang mengetahui sisi lain yang tersembunyi dari sang Fuhrer di tengah kontroversi serta tuduhan terhadapnya.

Di balik itu semua, Hitler dikenal sebagai pekerja keras, di mana dia hanya tidur tiga sampai empat jam setiap malam untuk memimpin 380 juta warga Eropa.

Ketika Perang Dunia I dimulai, Hitler yang semula ingin jadi pelukis namun gagal itu, bergabung dalam Resimen Bavaria Jerman. Dua kali Hitler terluka. Dia memulai kariernya sebagai prajurit biasa.

Menurut John Frank Williams dalam Corporal Hitler and the Great War 1914-1918: The List Regiment (2005:63), Hitler ditempatkan di kompi infanteri dan menjadi kurir. Kemudian dipromosikan menjadi kopral dan menerima Iron Cross.

Namun, selesai PD I, Hitler termasuk dalam golongan tentara-tentara yang kalah perang. Sudah kalah perang Jerman dipermak Sekutu hingga pulen. Ekonomi dalam negeri Jerman pun remuk.

“Tahun 1919 Adilf Hitler pada usia 30 tahun adalah seseorang yang tidak berarti. Ia tinggal di Munchen, dalam barak batalyon cadangan resimennya pada masa perang. Ia tidak punya tempat tinggal lain [...] Pengabdiannya sebagai tentara Jerman ternyata merupakan masa paling bahagia dalam hidupnya yang sebelumnya tanpa tujuan,” tulis Elson (1986:84).

Selepas perang, barulah Hitler mengambil jalur yang lain. Dia bergabung dengan Partai Buruh Jerman. Tak hanya memperlihatkan diri sebagai organisatoris, karena bakat terpendamnya memang terletak dalam kemampuan yang sangat berguna dalam propaganda yaitu berpidato.

Setelah memimpin Partai Buruh, ia mengubah partai tersebut menjadi Partai Buruh Jerman Nasionalis Sosialis yang dikenal sebagai Nationalsozialistche Deutche Arbeiterspartei, yang dikenal sebagai NAZI. Partai itu kemudian identik dengan lambang swastika rancangan ulang Hitler.

Setelah belasan tahun berpolitik di jalanan, diselingi terbunuhnya kawan-kawan politiknya, ia pun mencicipi dinginnya lantai penjara. Di dalam sel itulah ia menulis Mein Kampf. Situasi mulai bersinar baginya memasuki dekade 1930an dan memuncak pada 1933 saat ia menjadi kanselir Jerman.

Jika Hitler merekrut bekas tentara dan preman jalanan dalam Sturm Ableitung (SA), maka Musolini merekrut bekas pasukan gerak cepat Italia, Arditi, dalam paramiliter bernama Fascio di Combattimento.

Dalam Perang Dunia II, Musolini dan Hitler membawa negara mereka dalam kubu yang sama. Keduanya bahu-membahu berhadapan dengan negara-negara Sekutu, termasuk berhadapan dengan Soviet.

Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris di masa Perang Dunia II, pernah jadi letnan di Angkatan Darat Inggris dalam Perang Boer di Afrika.

Dari keluarga Kennedy, ada John Fitzgerald Kennedy yang pernah jadi letnan di Angkatan Laut Amerika Serikat. Sementara, adiknya John, Robert Kennedy alias Bob, pernah jadi kelasi di Angkatan Laut. Setelah berkarier di militer, anak keluarga tajir nan terpandang itu masuk dunia politik.

Idi Amin, ketika mengkudeta Milton Obete di tahun 1971, menurut Adam Seftel dalam Uganda: The Rise and Fall of Idi Amin: From The Pages of Drum (1994:93), saat itu sudah berpangkat kolonel di Angkatan Perang Uganda. Sementara itu, ketika memimpin tentara mengkudeta raja Idris di Libya, menurut G. Simons dalam Libya: The Struggle for Survival (1996:170), pangkat Moammar Gaddafi masih kapten.

Di Amerika Latin kontemporer, bekas serdadu rendahan yang sukses jadi negarawan tanpa harus kudeta adalah Evo Morales.

Menurut Andrew Canessa, dalam Race, Sex, and History in the Small Spaces of Andean Life (2012:221), Evo pernah berdinas sebentar di antara pergantian dekade 1970an hingga awal 1980an. Saat itu ia berdinas sebagai polisi militer. Pangkatnya hanya prajurit rendahan.

Waktu Perang Dunia I (1914-1918) meletus, Benito Amilcar Andrea Musolini (1881-1943) menampilkan diri sebagai seseorang yang cinta perang. Menurut Robert T. Elson dalam buku Menjelang Perang (1986:84), terjemahan dari Prelude to War terbitan Time-Life Books, “Tahun 1915 ia sendiri masuk tentara dan ditugaskan di front Alpen, meskipun pangkatnya tak lebih dari sersan.”

Setelah keluar dari militer dengan pangkat kopral, Musolini melanjutkan hidup dengan mendirikan surat kabar Il Popolo. Tentu saja koran itu dipergunakan untuk kepentingan politiknya. Meski awalnya tak begitu baik pada 1920, kaum fasis Italia pimpinan Musolini bisa bersinar setahun kemudian, pada 1921.(*)

Sumber: Merdeka.com/Tirto.id

 

loading...

#

Sebelumnya

Mengapa Sinai jadi sarang teroris?

Selanjutnya

Mari mengenal Yahudi anti Zionis-Pro Palestina

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5653x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2816x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 2702x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe