Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kaledonia Baru dan Papua Nugini: Tambang skala besar dan politik lokal
  • Senin, 04 Desember 2017 — 17:04
  • 925x views

Kaledonia Baru dan Papua Nugini: Tambang skala besar dan politik lokal

Tambang di Papua Nugini – The Diplomat/ OK Tedi Mine CMCA Review
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jakarta, Jubi - Papua Nugini dan Kaledonia Baru tidak sering disebutkan secara bersamaan. Meskipun memiliki kedekatan geografis, sejarah kolonial telah menempatkan mereka ke dalam dua jalur ilmiah yang berbeda.

Merujuk para periset antara Anglophone dan Francophone, kesamaan diantara keduanya, yaitu ketergantungan ekonomi mereka terhadap ekspor sumber daya mineral dan dampak penambangan berskala besar terhadap masyarakat pribumi dan politik lokal, belum sepenuhnya dieksplorasi.

Sebuah buku baru oleh ANU Press bertajuk Large-scale Mines and Local-level Politics: Between New Caledonia and Papua New Guinea (Tambang Skala Besar dan Politik Lokal: Antara Kaledonia Baru dan Papua Nugini), berusaha menjembatani kesenjangan ini.

Kedua editor buku tersebut, Colin Filer dan Pierre-Yves Le Meur, berbicara kepada The Diplomat tentang dampak pertambangan skala besar terhadap politik tingkat lokal di Kaledonia Baru dan Papua Nugini.

Secara geografis Kaledonia Baru dan Papua Nugini cukup dekat, kesamaan apa lagi yang ada di antara kedua negara tersebut?

Kedua negara termasuk berada di bagian wilayah Kepulauan Pasifik yang disebut Melanesia (“Kepulauan Hitam”) oleh penjelajah Prancis Dumont d'Urville karena warna kulit gelap dari penduduk pribumi. Kesamaan rasial yang superfisial ini menyembunyikan keragaman linguistik dan budaya yang sangat bervariasi.

Mereka berada dibawah invasi Eropa dan administrasi kolonial pada akhir abad ke-19, namun luas dan durasi kedudukan Eropa (dan perampasan hak pribumi) bervariasi di antara keduanya.

Kesamaan antara Kaledonia Baru (NC) dan Papua Nugini (PNG) yang menarik bagi berbagai kontributor buku ini adalah sejauh mana ketergantungan ekonomi mereka terhadap eksploitasi dan ekspor sumber daya mineral dan upaya yang telah dilakukan oleh perwakilan politik masyarakat adat agar masyarakaat turut mendapatkan “bagian yang adil” dari keuntungan hasil kegiatan tersebut.

Terlepas dari perbedaan status politik kedua negara itu saat ini, kemunculan bentuk nasionalisme sumber daya lokal penting, untuk dapat memahami perjuangan masyarakat lokal mencapai kemandirian dan otonomi yang lebih besar dalam sistem politik mereka masing-masing.

Referendum untuk kemerdekaan yang akan segara terjadi di NC dan “Daerah Otonomi Bougainville” (di PNG) adalah pertanda konvergensi dalam lintasan politik mereka. Karena adanya kekayaan mineral tampaknya memicu permintaan akan otonomi daerah yang lebih besar sambil memicu masalah untuk menjaga solidaritas politik lokal.

NC memiliki industri pertambangan nikel yang membentang kembali ke tahun 1870-an sementara industri pertambangan PNG mulai meningkat pada tahun 1970-an. Seperti apa keadaan industri saat ini di kedua negara? Bisakah Anda memberi kesan mengenai skalanya bagi pembaca kami?

Sektor industri ekstraktif telah menyumbang sekitar 80 persen dari nilai ekspor PNG dan lebih dari 90 persen nilai ekspor NC dalam beberapa tahun terakhir.

Karena NC adalah negara yang lebih kecil, dengan populasi kira-kira setara dengan satu provinsi di PNG, dan sangat bergantung pada eksploitasi komoditas satu mineral (nikel), siklus boom-and-bust yang sering dialami industri ekstraktif memiliki banyak dampak yang lebih besar pada ekonomi lokal, namun siklus ini sebagian diimbangi oleh bantuan keuangan dari Prancis, yang jauh lebih besar daripada bantuan luar negeri yang diterima PNG.

Kedua negara itu menderita berbagai gejala “kutukan sumber daya”, namun dalam kasus PNG, masalah ini telah dibesar-besarkan oleh kecenderungan pemerintah nasional untuk menggunakan pendapatan mineral mereka sebelum menerimanya, dan kemudian mendapati pendapatan tersebut tidak seperti yang diharapkan.

Bukan hanya karena fluktuasi harga komoditas mineral yang berbeda (termasuk minyak dan gas), namun juga karena kesepakatan pembagian keuntungan yang telah disetujui pemerintah sendiri.

Apa biaya dan manfaat industri pertambangan di PNG dan NC?

Biaya lingkungan pertambangan sangat besar dan sebagian besar ireversibel di kedua negara. Analisis biaya-manfaat yang ketat harus memperhitungkan biaya-biaya ini dengan mengenali nilai “natural capital” atau "layanan ekosistem," daripada memperlakukan hal-hal itu sebagai “eksternalitas”, yang merupakan cara yang telah lama diberlakukan oleh perusahaan pertambangan.

Bagi anggota masyarakat pribumi yang terkena dampak operasi penambangan berskala besar di kedua negara, memisahkan biaya lingkungan dari biaya sosial tidak masuk akal karena perspektif masyarakat setempat tentang hubungan antara budaya dan lingkungan alam mereka.

Ini berarti bahwa masyarakat lokal (atau perwakilan politik mereka) sering mengajukan tuntutan yang kelihatan tidak masuk akal bagi pembuat kebijakan dan investor asing, yang hanya menambah kompleksitas dan ketidakpastian kontes politik dari distribusi biaya dan manfaat (kegiatan itu). 

Namun, masalah ini bukan masalah yang unik untuk negara di mana masyarakat yang terkena dampak tambang juga merupakan masyarakat pribumi.

Semakin banyak perusahaan pertambangan yang berbicara tentang perlunya memperoleh “lisensi sosial” dari masyarakat yang terkena dampak tambang, semakin mereka mendorong anggota komunitas ini untuk menolak persamaan ekonomi dimana biaya pertambangan jangka pendek dan jangka panjang dari pertambangan operasi lebih tinggi dari manfaat lokal dan nasional.

Peran apa yang dimainkan industri pertambangan dalam politik lokal di kedua negara?

Proyek pertambangan seringkali sangat besar, begitu juga dampaknya terhadap lokasi tempat mereka beroperasi.

Aliran sumber materiil dan imateriil yang mereka suntikkan ke masyarakat lokal dapat menimbulkan dampak yang tidak stabil, menciptakan bentuk baru ketidakpastian moral dan moral politik, dan mengubah hierarki sosial dan nilai-nilai budaya.

Pada saat bersamaan, masyarakat lokal dapat berinvestasi pada peluang ekonomi baru dan mengembangkan aktivitas kewirausahaan yang memiliki pencapaian politik dan ekonomi. Hal itu juga berlaku untuk NC dan PNG, namun dalam kasus PNG, skala operasi penambangan dan kelemahan institusi negara telah menimbulkan lebih banyak kekerasan.(The Diplomat/Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

Seni membantu kita bicarakan topik yang sulit

Selanjutnya

PM Samoa tertawakan rencana protes

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe