Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Mari mengenal Yahudi anti Zionis-Pro Palestina
  • Senin, 04 Desember 2017 — 19:27
  • 4449x views

Mari mengenal Yahudi anti Zionis-Pro Palestina

agama telah dijadikan alat untuk memperkeruh konflik Israel-Palestina yang sebenarnya bersumber dari persaingan kekuasaan antara kedua negara.
Ilustrasi. Shutterstock/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - “Konflik ini bukan konflik agama, namun lebih kepada konflik perbebutan upaya untuk mengontrol wilayah dan sumber daya alam di wilayah tersebut. Hanya saja agama dan budaya digunakan sebagai alat untuk memperbesar konflik ini,” ungkap peneliti Amnesty International untuk Palestina, Lina Fattom, di Jakarta, Jumat (3/11/2017).

Menurutnya, agama telah dijadikan alat untuk memperkeruh konflik Israel-Palestina yang sebenarnya bersumber dari persaingan kekuasaan antara kedua negara.

Selama ini dunia hanya mengutamakan solusi politik dalam penyelesaian konflik yang telah bergulir selama lima puluh tahun tersebut. Padahal, menurutnya, ada hal yang lebih mendasar dan perlu diutamakan komunitas internasional yakni menghentikan pelanggaran HAM oleh Israel terhadap rakyat Palestina.

Di lain tempat, Zacharias Szumer lahir sebagai keturunan Yahudi dan besar di Australia. Selama tumbuh-kembang, penulis lepas yang lama tinggal di Indonesia itu mengaku tak terlalu peduli dengan ideologi Zionisme. Meski beberapa anggota keluarga ada yang tinggal di Israel, dalam melaksanakan pendidikan di rumah, ayah Zach tak membentuk Zach sebagai seorang Yahudi sejati—apalagi Zionis tulen. Sikap yang sama juga ditunjukkan kakeknya yang disebut “cukup Zionis”.

Zionisme (Bahasa Ibraninya צִיּוֹנוּת dan dibaca “tsiyonut”) adalah gerakan nasional orang Yahudi dan budayanya untuk mendukung terciptanya sebuah tanah air Yahudi di wilayah yang didefinisikan sebagai Tanah Israel.

Sialnya, gerakan “aliyah” atau imigrasi orang Zionis Yahudi yang diaspora di seluruh dunia menuju tanah Bangsa Palestina. Tragedi kemanusiaan, aneksasi, hingga beragam bentuk kekerasan pun lahir, dan dianggap sebagai konflik paling abadi dalam sejarah peradaban umat manusia.

Sebagai keturunan Yahudi, Zach justru tak mendukung banyak kebijakan Israel, lebih umum lagi gagasan tentang pendirian sebuah negara yang didasarkan pada sentimen etno-religius.

Namun ide radikal untuk “membasmi/menghancurkan Israel” juga tak ia setujui. Pendirian Israel melalui proyek Zionisme, menurut pendapat pribadinya, adalah solusi yang kacau untuk permasalahan yang kacau juga: anti-semitisme di Eropa sejak awal 1900-an.

“Banyak orang non-Yahudi yang tak paham bahwa ada beragam definisi tentang Zionis. Umumnya Yahudi yang mereka tahu adalah mendukung cita-cita absurd terkait pendirian negara Yahudi. Namun dalam 100 tahun terakhir muncul Zionis Sosialis, Zionis Mesianis, Hasidic anti-Zionis, anti-Zionis sayap kiri, dan lain-lain,” tutur Zach kepada Tirto, Kamis (30/11/2017).

Ketidaksetujuan pada proyek Zionis juga dinyatakan banyak tokoh Yahudi terkemuka. Lembaga penyeru perdamaian dunia Stop the War punya catatan khusus tentang hal ini. Noam Chomsky, filsuf dan kritikus politik terkemuka yang kini menjadi profesor linguistik di Institute Teknologi Massachusetts, menyatakan okupasi Israel lebih parah ketimbang apartheid yang dulu pernah mengorbankan masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan.

Psikolog sosial terkemuka Eric Fromm menyatakan klaim tanah untuk bangsa Yahudi bukanlah klaim politik yang realistis sebab jika setiap pihak tiba-tiba mengklaim teritori bangsa lain yang telah menghuninya selama beribu-ribu tahun, maka hasilnya adalah kekacauan besar.

Psikoanalis Sigmund Freud, seorang Yahudi Austria, mengakui sedih bahwa fanatisme yang tidak berdasar dari orang-orang satu keturunannya membangkitkan ketidakpercayaan dari bangsa Arab. Freud menambahkan bahwa dirinya sama sekali tidak bisa bersimpati kepada jenis kesalehan yang salah arah, yakni jenis kesalehan yang menyinggung perasaan penduduk asli.

Sekte Yahudi Ortodoks Anti-Israel

Pada 1938 di Yerusalem berdiri sebuah kelompok ultra-ortodoks Yahudi bernama Neturei Karta. Sikap kelompok terkait isu Israel-Palestina tercermin dalam motto-nya: “Yahudi Bersatu Melawan Zionisme”. Mereka juga pro-Palestina.

Neturei Karta didirikan oleh Rabbi Amram Blau dan Rabbi Aharon Katzenelbogen. Dalam catatan Al Monitor, anggota Neturei Karta berjumlah sekitar 5.000 orang. Mereka tak tinggal hanya di Yerusalem saja, namun tersebar di banyak negara. Mulai dari kota New York, Berlin, hingga ke London.

Saat Presiden Iran Mahmoud Abbas berpidato mengecam Israel di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tanggal 30 September 2015, di luar gedung berkumpul para anggota Naturei Karta yang menggelar aksi damai mendukung Palestina.

“Israel adalah pembunuh anak-anak!” seru mereka kala itu.

Sikap Neturei Karta juga punya landasan teologis—yang tentu tak disepakati oleh kelompok relijius pro-Israel. Rabbi Yosef Elboim, misalnya. Salah satu aktivis organisasi itu pernah mengajak pengikut Yahudi pergi ke Masjid Al-Aqsa untuk mengadakan demonstrasi damai. Mereka membawa rontek-rontek bertulisan bahasa Ibrani yang berbunyi “Memprovokasi bangsa Arab dilarang oleh Taurat.”

Selama ini kebencian terhadap orang Yahudi meningkat tajam karena agresi, aneksasi, dan represi Israel. Yahudi disamaratakan sebagai golongan yang jahat. Kelompok Yahudi anti Zionis justru mengingatkan, pandangan tersebut keliru, dan kepedulian terhadap bangsa Palestina itu universal alias tak memandang ras atau agama. (*)

Sumber: CNN Indonesia/ Tirto.id
 

loading...

#

Sebelumnya

Prajurit rendahan yang jadi pemimpin dunia

Selanjutnya

Antivirus Rusia yang menuai kecurigaan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe