Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Rekonsiliasi: Sebuah jawaban atas persoalan politik di Tanah Papua
  • Senin, 04 Desember 2017 — 21:15
  • 1599x views

Rekonsiliasi: Sebuah jawaban atas persoalan politik di Tanah Papua

Pada kesempatan ini saya tidak mau mengungkit masa lalu, tetapi bagaimana persoalan (konflik) masa lalu itu sebagai batu pijakan untuk menata masa depan yang lebih baik.
Ilustrasi - Jubi/Dok
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Philipus Elosak OFM 

Berbagai masalah di Papua tidak pernah berakhir sampai hari ini. Sejak menyatu dalam NKRI, berbagai persoalan terus terjadi. Persoalan-persoalan tersebut, ada yang sudah diselesaikan dengan tuntas, dan masih banyak persoalan yang menjadi teka-teki hingga sekarang ini. 

Pada kesempatan ini saya tidak mau mengungkit masa lalu, tetapi bagaimana persoalan (konflik) masa lalu itu sebagai batu pijakan untuk menata masa depan yang lebih baik.

Konflik adalah sesuatu yang tak terhindarkan dalam kehidupan manusia. Namun, jangan menjadikan konflik sebagai penghalang bagi kita dalam membangun Tanah Papua menjadi tempat yang aman, damai dan tenteram bagi siapa saja yang tinggal di tanah ini. 

Kita tidak bisa memungkiri bahwa Papua memiliki berbagai macam persoalan. Persoalan-persoalan tersebut memiliki motif dan latar belakang yang berbeda-beda. Ada persoalan yang berlatar belakang politik. Ada juga yang berlatar belakang suku. 

Namun, persoalan yang ada hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda zaman sekarang, agar dapat mempersiapkan diri dengan baik dan benar untuk membangun Papua menjadi tempat yang maju. Dengan demikian, pada gilirannya kekayaan yang ada di Tanah Papua dapat memberikan dampak positif untuk masa depan kita. Kekayaan alam di tanah Papua harus memberikan kontribusi yang positif bagi siapa saja.

Fenomena yang terjadi selama ini adalah perusahaan membuat masalah sosial semakin tinggi. Sehingga diharapkan kenyataan seperti ini tidak terjadi lagi bagi generasi yang akan datang. Semoga seluruh kekayaan alam yang ada menambah kesejahteraan dan kedamaian bagi siapa saja. 

Rekonsiliasi

Rekonsiliasi mengandung arti perbuatan pemulihan hubungan persahabatan ke keadaan semula atau perbuatan menyelesaikan perbedaan (KBBI). 

Bertitik tolak dari arti rekonsiliasi tersebut, maka setiap perbedaan yang tidak produktif hendaknya disatukan dan saling menerima satu sama lain. Setiap perbedaan hendaknya menjadi kekayaan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sekarang. Karena itu, perbedaan paham politik yang terjadi sekarang ini hendaknya diselesaikan secara damai melalui rekonsiliasi politik. 

Kalau kita terus hidup dalam sebuah konsep masa lalu yang radikal, maka harapan yang mau dicapai dalam rekonsiliasi politik tidak akan tercapai. Yang ada adalah merasa diri lebih kuat, bahkan merasa memilki otoritas untuk menentukan satu dengan yang lainnya. 

Tulisan ini dimaksudkan bahwa konflik yang terus terjadi di tanah Papua, hendaknya cukup sampai  sekarang. Kita hendaknya menatap masa yang akan datang dengan hati yang tenang dan bijaksana tanpa ada konflik yang merugikan satu dengan yang lainnya.  

Untuk mencapai harapan akan rekonsiliasi dari berbagai persoalan yang ada, maka kita hendaknya membuka diri dan bekerja sama, serta membangun kejujuran dan kemauan untuk hidup dalam sebuah konsep yang adil dan memiliki harapan bersama. 

Papua merupakan tempat yang memiliki berbagai sumber daya alam. Tidak heran bahwa di Tanah Papua hadir berbagai perusahaan raksasa yang mengelola kekayaan yang ada. Perusahan-perusahan tersebut hadir dengan tujuan menjamin kesejahteraan masyarakat di tanah Papua. 

Namun, sampai sekarang masih ada penderitaan dan kemelaratan dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu,  untuk melihat segala macam kesenjangan, perlunya duduk bersama dan saling terbuka satu sama lain, serta bersikap adil dalam mencapai harapan dan niat baik tersebut, untuk membangun NKRI yang lebih baik di Papua. 

Sebagai sebuah bangsa, kita memiliki harapan bersama yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Dasar-dasar negara inilah yang menjadi pedoman bagi kita untuk membangun negeri ini menjadi negeri yang adil bagi setiap warganya, dan nyaman dalam kehidupan sosial. 

Setiap warga negara mengharapkan kedamaian dan kesejahteraan. Untuk mencapai harapan tersebut, pemerintah memiliki tanggung jawab yang penuh. Pemerintah juga hendaknya bersikap tegas dan berani melawan segala macam persoalan yang mengganggu kenyamanan warganya. 

Dalam sejarah perkembangan politik di Tanah Papua, ada berbagai kisah menarik yang terus dikenang setiap orang. Kisah-kisah itu menjadi pelajaran yang berharga bahwa perjuangan untuk mencapai sebuah harapan tidaklah mudah. Karena itu, butuh kerja sama dan mau membangun kebersamaan di dalam harapan bersama. Harapan dari berbagai kisah menarik tersebut adalah kehidupan sosial semakin aman dan damai, serta menjamin keadilan sosial bagi seluruh warga negara di Bumi Cenderawasih. 

Hal yang sangat ditekankan untuk mencapai rekonsiliasi yang sesungguhnya adalah adanya keterbukaan satu sama lain, serta menaruh sikap saling percaya. Sikap percaya adalah dasar adanya keterbukaan dari pihak manapun. Rekonsiliasi mengandaikan adanya keberanian untuk menyelesaikan segala macam persoalan yang menjadi teka-teki hingga sekarang ini. Hal yang paling penting dari rekonsiliasi adalah mau menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing pribadi atau kelompok. 

Sejak Joko Widodo menjadi Presiden RI, perkembangan dan perubahan di Tanah Papua sangat besar. Perubahan tersebut diharapkan mendatangkan kesejahteraan dan kedamaiaan sosial. Namun, kenyataannya masih terjadi kriminalitas di Tanah Papua dan terjadi kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. 

Konflik terjadi karena ketidakadilan dan kesenjangan dalam kehidupan sosial. Oleh sebab itu, harapan yang mau dicapai untuk Tanah Papua yang kaya ini adalah adanya kepuasan bersama dalam seluruh aspek pembangunan. Tujuan sebuah rekonsiliasi adalah kepuasan bersama terhadap cita-cita sebuah bangsa.

Dari berbagai peristiwa hidup yang dialami oleh masyarakat Papua, harapannya adalah adanya keadilan sosial serta jaminan kebebasan bagi siapa saja untuk bertindak apa saja, yang sesuai dengan norma moral sosial. 

Moral sosial tentu saja berpegang pada dasar Negara, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Karena itu, sejarah merupakan sebuah acuan bagi setiap pribadi untuk melakukan revolusi mental dan membangun paradigma yang benar untuk membangun negara ini ke arah yang lebih baik dan makmur. 

Kemakmuran tidak hanya dalam perspektif ekonomi, tetapi juga dari aspek lain dalam kehidupan manusia. Sebab manusia bukan saja makhluk yang materi melainkan juga makhluk yang rohani. 

Atas dasar itulah kita harus saling menghargai dan membina persatuan yang benar demi sebuah negara yang kokoh dan kuat. Negara yang kuat merupakan negara yang memiliki kesatuan di dalam keberagaman. 

Semoga kita yang adalah masa depan bangsa, yang sedang membangun Tanah Papua ini semakin bijaksana dalam memahami sejarah menuju masa depan yang lebih baik dan bermartabat. (*) 

 

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura

loading...

Sebelumnya

Pemerintah Indonesia dan orang Papua tidak saling percaya

Selanjutnya

Indonesia di antara Papua darurat HAM dan krisis Rohingya

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe