Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Akibat senjata ilegal beredar di perbatasan, kekerasan dan Perang suku meningkat di PNG
  • Selasa, 05 Desember 2017 — 12:18
  • 1322x views

Akibat senjata ilegal beredar di perbatasan, kekerasan dan Perang suku meningkat di PNG

Senjata sekarang jadi hal umum dalam pertikaian antar suku yang semakin sengit, menggantikan busur dan panah tradisional. Stok senjata bertenaga tinggi di kawasan ini diyakini berasal dari daerah perbatasan, di Papua Barat yang berada dibawah Pemerintah Indonesia, diperdagangkan secara ilegal dengan ganja yang ditanam di PNG.
Cathy Mek tidak dapat melarikan diri saat kampungnya diserang oleh suku tetangga – the Guardian/Helen Davidson
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Port Moresby, Jubi - "Saat itu malam hari, kami tidak melihat mereka datang. Ada seorang lelaki yang datang ke rumah, dan semua orang difabel memutuskan untuk kabur, meninggalkan tempat itu, (tapi) saya tidak bisa lari. "

Cathy Mek berusia dua puluh tahun berbicara sambil berbisik. Dia duduk di bangku bambu tipis di tempat terbuka yang sepi dan tenang di atas kampungnya Wapena, di dataran tinggi Papua Nugini.

Sebuah wilayah yang dikenal karena kekerasan antar suku dan Kampung Wapena—bertengger di atas bukit yang menghadap ke tanaman semak dan lembah subur di Provinsi Dataran Tinggi Barattanpa terkecuali.

Tapi pemerkosaan, penghancuran tanpa pandang bulu dan senjata otomatis mengubah wajah konflik tradisional. Otoritas PNG dan asosiasi LSM berjuang untuk mengatasi situasi yang terus memburuk.

Pada tanggal 28 Juni, orang-orang Wapena diserang oleh suku tetangga akibat perbedaan politik selama pemilihan nasional.

Laki-laki desa itu sedang berada di sebuah stasiun penghitung di sebuah kota terdekat. Perempuan berbadan sehat segera membopong anak-anak mereka dan melarikan diri. Mek, seorang difabel di kaki dan di kedua tangannya, tidak bisa lari.

“Mereka mengancam saya dengan pisau, membawa saya keluar dan memperkosa saya,” kata Mek. “Saya melawan, tapi mereka tidur di sini dan makan di sini dan kemudian mereka melanjutkan memerkosa saya.

Setelah itu saya mulai berteriak. Saya terus berteriak sampai ada rekan dari desa lain yang mendengar jeritan saya dan segera menyelamatkan saya, dan orang-orang lain datang dan membantu saya keluar.”

Ibu Mek, Elisabeth Yong, dan pemimpin Wapena, Jerry Rombena, duduk bersama kami. Saat Mek berbicara dengan Rombena, seorang mantan anggota kepolisian, menggelengkan kepalanya penuh kemarahan dan kesedihan. Rombena mengatakan polisi sudah tahu siapa pemerkosanya tapi tidak akan melakukan penangkapan kecuali pelakunya meninggalkan tanah adat, karena mereka takut memicu konflik lagi.

Di dekat sejumlah gubuk yang ditutupi oleh terpal Palang Merah, penduduk kampung Mek berbagi cerita mereka tentang Penyerangan 28 Juni.

Diminta untuk mengangkat tangan jika rumah mereka hancur dalam serangan tersebut, hampir semua orang melakukannya.

Selain menyerang Mek, penyerang itu membakar 36 rumah, membantai 32 babi dan menghancurkan toko gandum, kebun-kebun, dan tanaman dagang, kata warga Gus Kasyaki.

‘Tidak bisa dikendalikan’

Kampung Wapena lebih beruntung dari banyak kampung lainnya karena penyerang mengeluarkan senjata kelas militer mereka, tapi tidak menembak siapa pun.

Senjata sekarang menjadi hal umum dalam pertikaian antar suku yang semakin sengit, menggantikan busur dan panah tradisional. Stok senjata bertenaga tinggi di kawasan ini diyakini berasal dari daerah perbatasan, di Papua Barat yang berada dibawah Pemerintah Indonesia, diperdagangkan secara ilegal dengan ganja yang ditanam di PNG.

Ada juga yang mengatakan berbagai senjata juga bisa dibeli dari polisi dan tentara.

Ganja tumbuh dimana-mana di daerah dataran tinggi, dan perdagangan senjata-senjata di pasar gelap, termasuk M16, AK-47 dan bahan peledak, sering kali lebih lebih lengkap dari milik petugas polisi, kata Komandan Polisi tingkat provinsi untuk Enga, Epenese Nili.

Dalam sebuah film dokumenter yang diproduksi Palang Merah tahun ini, mantan komandan angkatan bersenjata PNG Jerry Singirok mengatakan penggunaan senjata di dataran tinggi “tidak bisa dikendalikan”.

“Di daerah itulah 80% penduduk Papua Nugini tinggal. Kami tahu dengan pasti bahwa setiap perang suku ada senjata digunakan, setiap penghalang jalan ada senjata digunakan, setiap pembunuhan ada senjata digunakan, dan kami juga tahu bahwa selama pemilihan umum senjata digunakan untuk mengintimidasi, melecehkan, bahkan untuk membunuh orang-orang yang menentang, dan kami sangat prihatin.“

“Kami melihat senjata di medan perang suku,” kata Nili sambil mengangkat bahu. “Kami memiliki kekuasaan untuk menggerebek dan melakukan pencarian tempat-tempat itu, tapi seseorang harus datang dan mengeluh, memberi kami laporan intel tentang rumah tertentu yang memiliki senjata. Tapi siapa yang akan datang dan melaporkan ke polisi?”  

‘Banyak nyawa yang melayang' 

Uma, di Provinsi Pegunungan Selatan, dikelilingi oleh suku-suku yang saling bertentangan satu sama lain. Pemimpin masyarakat, Jeffrey Amandi, seorang pemimpin Muslim di sebuah negara yang berpenduduk mayoritas Kristen, mengatakan bahwa puncak paling buruk kekerasan tersebut terjadi pada 2010-2012.

“Banyak nyawa melayang, banyak kerusakan, begitu juga bom yang digunakan,” katanya. “Saya tidak tahu bagaimana senjata itu sampai ditangan mereka tapi ada pasar di Papua Nugini, jadi terjadi pertukaran.

“Merea melakukan barter menggunakan ganja dan kemudian menggunakannya untuk perseteruan antar suku.”

Secara tradisional, konflik suku memiliki peraturan untuk tidak menyakiti perempuan, anak-anak, tokoh agama, petugas kesehatan dan fasilitas masyarakat.

“Sekarang Anda bisa mendengar seseorang berkata, ‘Saat kita berperang, kita tidak ingin melihat seekor ayampun selamat,’” kata Janet Nakadi Angelei, seorang pekerja lapangan Palang Merah.

Para pengungsi akibat perang suku bercerita tentang pembunuhan dan pembunuhan ganda yang dipicu oleh perselisihan yang sangat sepele.

Perang suku bermunculan dari ketidaksetujuan keluarga atas hubungan antar remaja, selusin orang tewas setelah perkelahian akibat mabuk, ancaman oleh pemilik tanah yang tidak puas dengan kesepakatan sumber daya, panah di soket mata setelah penyerangan di pasar lokal. Kampung Wapena diserang karena tuduhan melakukan sabotase pemungutan suara.

Palang Merah membantu menyediakan materi untuk membangun kembali rumah-rumah yang terbakar dan peralatan memasak dan pertanian untuk keluarga-keluarga yang rumahnya telah dijarah. Di satu kampung, talang dan tangki baru memanen air hujan sehingga perempuan dan anak-anak tidak perlu pergi ke sungai dimana penyerangan sering terjadi.(The Guardian/Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

Pengganti Manasseh Sogavare tetap dukung West Papua

Selanjutnya

Empat media lokal Papua lolos verifikasi faktual Dewan Pers

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe