Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Membungkam protes pembangunan bandara internasional Yogyakarta
  • Selasa, 05 Desember 2017 — 19:22
  • 600x views

Membungkam protes pembangunan bandara internasional Yogyakarta

Lokasi bandara Kulon Progo di Yogyakarta sangat rawan terdampak tsunami.
Imbauan hukum yang dipasang oleh Angkasa Pura I di Temon, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Tirto.id/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi
 

Yogyakarta, Jubi - Kapolres Kulon Progo AKBP Irfan Rifai membenarkan ada dua belas aktivis yang diamankan dan dibawa ke Polres Kulon Progo karena diduga memprovokasi warga sekitar.

"Bukan menangkap, tapi kami mengamankan karena mereka memprovokasi warga, menghalang-halangi proses," kata AKBP Irfan kepada Tirto di Kulon Progo, Selasa (5/12/2017).

Menurut Irfan, ke-12 orang yang ditangkap itu adalah seluruhnya aktivis, tidak ada warga Kulon Progo.

"Ini semuanya [aktivis yang diamankan] baru saja sampai ke Polres [Kulon Progo]. Baru akan kami proses, semuanya aktivis, tidak ada warga," kata Irfan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tirto, pada pukul 10.15 WIB, aparat kepolisian datang ke rumah warga mereka meminta kepada seluruh jaringan solidaritas yang tidak berizin keluar dari rumah. Hal tersebut dilakukan karena mereka menganggap jaringan solidaritas dan warga adalah provokasi.

Dua belas nama-nama yang ditangkap berdasarkan rilis yang beredar adalah, Andre Imam dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Ekspresi (LPM Universitas Negeri Yogyakarta/UNY), Muslih dari FNKSDA (Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam), Kafabi dari UIN (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), Rifai dari Universitas Mercubuana, Wahyu dari UIN, Fahri dari LPM Rhetor (LPM UIN), Rimba dari LPM Ekspresi, Samsul dari LFSY (Liga Forum Studi Yogyakarta), Chandra dari LFSY, dan Mamat dari UIN, dan Yogi dari UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta).

Sebelumnya, tercatat ada puluhan warga menolak rumahnya digusur untuk pembangunan bandara baru itu.

Ponirah, (35) salah satu warga Desa Glagah di Kulon Progo, menantang penggusuran dari pembangunan Bandar Udara Internasional Yogyakarta (NYIA) meski daerah sekitarnya sudah rata tanah.

“Kalau rumah ini dibeli, karena saya enggak jual, ya saya enggak tawar-menawar; mereka enggak pernah sebutin angka. AP enggak pernah janjikan apa-apa, saya juga enggak pernah terima apa-apa,” ujar Ponirah.

Pada Senin 4/12/2017, Angkasa Pura I kembali mengosongkan lahan petani dan rumah warga secara paksa sejak jam 8 pagi dengan mengerahkan empat alat berat.

Pihak Angksa menyatakan hari ini adalah terakhir warga pindah "secara mandiri" karena tanah di desa sudah dikonsinyasi di Pengadilan Negeri Wates.

Meski rumah di sekitar kediaman Ponirah sudah rata tanah, tetapi alat-alat berat tak menghancurkan rumah Ponirah saat Senin pagi. Ponirah bertahan di rumah dan orang-orang, tua-muda, ibu-anak, mengelilingi rumah tersebut sebagai aksi solidaritas di bawah payung Aliansi Penolak Bandara Kulon Progo.

Sofyan dari Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo mengatakan ada 38 rumah warga yang menolak digusur.

Jumlah warga yang menolak bandara Kulon Progo makin hari makin terkikis, dengan tawaran jual-beli, atau bujukan, dan belakangan paksaan.

Menurut Didik Tjatur dari PT Angkasa Pura I yang membawahi proyek bandara baru internasional tersebut, saat Sabtu lalu masih ada 42 rumah yang menolak, 31 di antaranya diputus aliran listriknya.

Sebelumnya, Peneliti Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Universitas Gadjah Mada (BPPT-UGM), Widjo Kongko menyatakan lokasi bandara Kulon Progo di Yogyakarta sangat rawan terdampak tsunami.

“Jika suatu saat terjadi lagi tsunami seperti Pantai Pangandaran dengan (kekuatan kegempaan) magnitude lebih tinggi sedikit saja, bandara baru itu akan kena, dari bagian apron, terminal, sampai runway-nya,” ujar Widjo kepada Tempo edisi Kamis 27 Juli 2017.

Ia merujuk peristiwa tsunami dahsyat di Pantai Pangandaran pada 17 Juli 2006. Dua hari setelah kejadian itu, Widjo bersama tim BPPT menuju lokasi untuk meneliti dampak bencana yang menelan korban jiwa lebih dari 600 orang itu.

Cakupan bidang wilayah yang menjadi penelitian Widjo dan timnya sepanjang 400 kilometer berdasarkan kajian dampak sebaran tsunami Pangandaran ke pantai selatan Jawa. Penelitian dimulai dari Pantai Pangandaran di Jawa Barat hingga Jember di Jawa Timur.

Dari penelitian itu, Widjo menemukan bahwa tsunami Pangandaran membawa sedimen atau endapan dari laut sejauh 100-200 meter ke arah daratan. Saat itu, tsunami Pangandaran memiliki magnitude 7,7 dengan ketinggian gelombang sekitar 5-6 meter. Setelah penemuan itu, Widjo dan timnya pun belum yakin bahwa pantai selatan Jawa rawan tsunami.

Tim peneliti Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) belum lama ini merilis temuan endapan tsunami di dekat lokasi bandar udara baru di Yogyakarta, yang diperkirakan berusia 300 tahun. Tim LIPI menemukan koral, fosil kerang foraminifera yang berasal dari laut dan akhirnya terbawa akibat tsunami pada masa lalu. (*)

Sumber: Tirto.id/Tempo.co

 

loading...

#

Sebelumnya

Kesadaran orang tua bawa balita ke posyandu kurang

Selanjutnya

KPAI: Tindakan Bupati Serang pada anak SD, preseden buruk

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe