Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Kala dana kemanusiaan banjiri kantong kelompok bersenjata
  • Rabu, 06 Desember 2017 — 19:03
  • 815x views

Kala dana kemanusiaan banjiri kantong kelompok bersenjata

Tidak hanya orang-orang yang bersimpati dengan kelompok-kelompok bersenjata lalu mengirimkan dana agar kelompok tersebut bisa tetap beraktivitas. Namun juga warga yang mengira bahwa sumbangannya ditujukan untuk bantuan kemanusiaan di Timur Tengah.
Milisi Jabhat Al-Nusra. Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jub

Suriah, Jubi - Inggris ingin turut berperan dalam mengamankan situasi di Suriah. Pada tahun 2013 mereka juga terlibat pembentukan Polisi Pembebas Suriah (FSP) oleh Koalisi Nasional Suriah selaku basis oposisi utama rezim Bashar al-Assad. Pihak yang mengelolanya adalah Adam Smith International (ASI) yang berkantor di Kota Gaziantep.

Selama beroperasi dari 2014 hingga sekarang, FSP tidak menenteng senjata. Didukung donor dari banyak lembaga internasional, mereka mengadakan pelatihan, menjalankan misi perekrutan orang lokal, memberi bantuan teknis, manajemen dana, hingga bantuan peralatan keamanan pendukung. Penempatannya di wilayah yang dikuasai pihak oposisi, antara lain di Provinsi Aleppo, Idlib, dan Daraa.

Salah satu peraturan pokok FSP adalah tidak diperbolehkan ikut campur dalam sistem pengadilan lokal.

Lebih penting lagi, FSP dilarang keras menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok bersenjata. ASI menerima dana bantuan dari warga sipil Inggris yang ingin uangnya benar-benar dimanfaatkan FSP untuk membangun kembali Suriah yang terkoyak-koyak akibat perang sipil sejak lima tahun lalu.

Sayangnya, fakta yang ditemukan BBC Panorama dan dipublikasikan pada Senin (4/12/2017) menunjukkan indikasi sebagian dana sumbangan justru diberikan untuk kelompok bersenjata.

Panorama melaporkan sejumlah petugas FSP di Provinsi Aleppo menyerahkan sebagian gajinya, secara tunai, untuk kelompok bersenjata Nour al-Din al-Zinki yang mengontrol area tersebut. Sebenarnya pada Juli 2016 ASI sudah memperingatkan bahwa 20 persen dari gaji anggota FSP diserahkan paksa untuk membiayai pengamanan yang disediakan Nour al-Din al-Zinki. Hanya saja belum ada upaya maksimal untuk mengatasi hal itu karena kuatnya kekuasaan grup tersebut.

Nour al-Din al-Zinki punya rekam jejak yang buruk menurut Amnesty International. Gerakan ini, bersama Divisi ke-16, Front Levant, Ahrar al-Sham, dan Front al-Nusra, diketahui terlibat penculikan dan penyiksaan terhadap wartawan dan pekerja kemanusiaan di Aleppo saat dikuasai pemberontak pada 2014 dan 2015.

Bersama Brigade Abu Amara, kelompok ini juga dituduh mengeksekusi korban yang diklaim sebagai homoseks dengan cara dilempar dari atas bangunan.

Pada Juli 2016 lalu, sebuah rekaman video memperlihatkan seorang pria yang memenggal kepada seorang anak laki-laki dengan sebilah pisau. Peristiwa mengerikan di Aleppo itu, juga dikaitkan dengan pengikut Nour al-Din al-Zinki . Meski Zinki sendiri membantah keras hal itu.

Panorama juga menemukan FSP menyediakan dukungan administratif kepada pengadilan yang dijalankan secara ekstrim oleh cabang al-Qaeda, Jabhat al-Nusra. Mereka pernah mengeksekusi dua orang perempuan di dekat Kota Sarmin pada Desember 2014 lalu dengan cara dilempari batu sampai meninggal.

Kasus-kasus ini otomatis membuat pemerintah Inggris segera menutup sementara kanal penyaluran sumbangan warga kepada FSP lewat ASI. Dalam pernyataan yang dikutip BBC News, juru bicara pemerintah Inggris akan mengambil kebijakan investigasi dan tindakan hukum yang diperlukan untuk menanggulangi kasus kerja sama FSP dengan organisasi teroris maupun yang terlibat dengan tindak-tindak pelanggaran hak asasi manusia.

Pada Juli 2012 Amber Rudd selaku Sekretaris Departemen Dalam Negeri Inggris melaporkan bahwa warga di negaranya telah menyalurkan ratusan ribu poundsterling tiap tahun kepada ekstremis atas nama donasi. Asalnya rata-rata dari donasi publik tanpa nama. Rudd bahkan berani mengklaim kanal ini menjadi pemasukan utama bagi bersenjata itu, demikian tulis Independent.

Pihak-pihak yang dimaksud Rudd tidak hanya orang-orang yang bersimpati dengan kelompok-kelompok bersenjata lalu mengirimkan dana agar kelompok tersebut bisa tetap beraktivitas. Namun juga warga yang mengira bahwa sumbangannya ditujukan untuk bantuan kemanusiaan di Timur Tengah.

Kepala Charity Commision William Shawcross melaporkan kasus serupa. Dilaporkan Telegraph, Shawcross membeberkan sejumlah uang dari donasi kemanusiaan warga Inggris untuk pemulihan krisis di Suriah lari ke kantong kelompok-kelompok bersenjata. Kondisi berbahaya di lapangan akibat eskalasi konflik yang meluas saat itu membuat tak hanya pihaknya, akan tetapi juga organisasi pengumpul dana bantuan kemanusiaan lain, kesusahan memastikan sumbangan sampai ke tangan yang tepat.

Ketakutan serupa mengemuka pada Desember 2016 kemarin, menurut The Sun, yang merilis dokumen bahwa donasi senilai setengah miliar poundsterling dari warga Inggris untuk korban konflik di Somalia ditengarai jatuh ke tangan milisi bersenjata. Dokumen kepunyaan Departemen untuk Pembangunan Internasional sebenarnya bersifat rahasia, namun bocor ke publik. Disebutkan bahwa kelompok bersenjata yang paling mungkin menerima donasi adalah al-Shabaab.

Strategi pendanaan organisasi dengan memanfaatkan derita kaum Rohingya juga ada. Kasusnya diungkap Perserikatan Bangsa-Bangsa akhir September 2017, sebagaimana dilaporkan VOA News, didalangi oleh kelompok teroris yang bermarkas di Pakistan.(*)

Sumber: Tirto.id/ CNN Indonesia

 

 


 

loading...

#

Sebelumnya

Mandela; bapak Afrika Selatan,bapak perdamaian dunia

Selanjutnya

Seroja, darah di Timor Lorosae, 42 tahun silam

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe