Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Seroja, darah di Timor Lorosae, 42 tahun silam
  • Kamis, 07 Desember 2017 — 19:18
  • 6660x views

Seroja, darah di Timor Lorosae, 42 tahun silam

Hari itu, 8 anak buah saya gugur hanya dalam 2 jam pertempuran. Mereka pergi tanpa sempat pamit kepada saya. Padahal, semalam sebelumnya mereka masih berbincang dengan saya…..
Luhut Pandjaitan di Timor-Timur. Facebook.com/Luhut Binsar Pandjaitan/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Di hari Pahlawan ini, saya teringat kejadian di tanggal 7 Desember 1975. Waktu itu saya bersama dengan anak buah saya diterjunkan di Timor-Timur. Kami adalah prajurit-prajurit Detasemen Tempur Kopassandha (sekarang Kopassus). Hari itu kami terbang dari Madiun menuju Timor-Timur. Sekitar pukul 05.45 WITA, tiga menit sebelum matahari terbit, kami terjun dari pesawat C-130B di ketinggian antara 900 kaki hingga 1.250 kaki.

Hari itu, 8 anak buah saya gugur hanya dalam 2 jam pertempuran. Mereka pergi tanpa sempat pamit kepada saya. Padahal, semalam sebelumnya mereka masih berbincang dengan saya…..

Komandan saya pun gugur. Beliau adalah Komandan Detasemen Mayor (anumerta) Atang Sutrisna…

Petikan cerita itu dibagikan Luhut Binsar Panjaitan di Fanpagenya, pada momentum hari pahlawan, dua tahun lalu. Mantan menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan itu mengaku terkenang sebuah peristiwa, di mana Indonesia melancarkan invasi militer terbesar dalam sejarah ke Timor Portugis. Luhut kala itu prajurit Detasemen Tempur Kopassandha (sekarang Kopassus).

7 Desember 1975, atau 42 tahun lalu, adalah hari dimana tentara Indonesia menyerbu Timor Lorosae melalui udara dalam sebuah operasi militer bernama ‘Seroja’.

Mulanya, operasi ini dilancarkan guna memperkuat pertahanan di garis perbatasan antara Timor bagian barat yang dikuasai Indonesia dan Timor bagian timur yang sebelum 1974 dikuasai Portugis—wilayah ini disebut juga Timor Portugis. Namun, kegiatan ini berubah menjadi operasi militer gabungan seluruh angkatan, baik darat, laut, udara, dan polisi di bawah Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) Seroja.

Seroja disebut sebagai operasi militer terbesar yang pernah dilakukan Indonesia. Hingga Februari 1976, ada lebih dari 30.000 tentara Indonesia di lapangan dan 60.000 orang Timor tewas (sekitar 10 persen dari populasi orang Timor).

Di Timor Lorosae, sementara itu, masyarakat terpecah. Setidaknya ada dua kelompok yang terbagi berdasarkan kepentingan politik. Pertama, mereka yang tergabung dalam União Democrática Timorense (UDT) mendukung Timor Lorosae untuk bergabung dengan Indonesia. Kelompok kedua, Fretilin, ingin Timor Lorosae merdeka sepenuhnya.

UDT terdesak dan membuat basis di Timor bagian barat yang dikuasai Indonesia. Lalu, pada 28 November 1975, Fretilin mendeklarasikan kemerdekaan Timor Lorosae. Namun, selang sembilan hari berikutnya, pemerintah Indonesia melancarkan Operasi Seroja.

Setahun kemudian, pada 17 Juli 1976, pemerintah Indonesia memasukkan wilayah Timor Lorosae sebagai provinsi ke-27 bernama resmi Timor Timur. Pada masa ini, milisi pro-kemerdekaan Timor Lorosae membuat basis pertahanan di hutan dan pegunungan.

Dalam sebuah kolom di Huffington Post, “Opening the Books on the Cold War”, Jose Ramos Horta (Presiden Timor Leste 2007-2012) menyatakan kehilangan tiga saudara kandungnya dalam tiga tahun pertama invasi Indonesia atas Timor Lorosae.

“Dua saudara laki-laki ditangkap, dieksekusi dengan cepat, tubuh mereka dibuang di semak-semak dan tidak pernah pulih,” ungkap Horta.

Sejak serbuan pertama pada 1975 hingga referendum rakyat Timor Lorosae pada 1999, Commission for Reception, Truth, and Reconciliation (CAVR) melaporkan, korban kematian terkait konflik setidaknya berjumlah 102.800 orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar 18.600 orang dibunuh atau hilang. Sedangkan 84.000 orang meninggal karena kelaparan atau sakit parah.

Luka Tentara Seroja

Jeane Nainggolan tidak pernah melihat jasad suaminya. Laki-laki itu, Letnan D. J. Nainggolan, meninggal kala bertugas dalam unit medis Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) semasa Operasi Seroja.

“Pada awal 1979, dia hanya disodorkan sebuah peti mati yang disebut berisi jasad suaminya. Tapi dia tidak diizinkan membukanya. Bahkan sekarang, anak-anaknya hanya setengah yakin jenazahnya adalah miliknya,” sebut Garry van Klinken dalam "Indonesian Casualties in East Timor, 1975-1999: Analysis of an Official List" yang dimuat di jurnal Indonesia (Oktober 2005).

Sementara Etri Ratnasari dalam Operasi Seroja 1975-1978 Di Timor Timur: Kajian Tentang Abri-AD mencatat, pada 1975 sebanyak 147 prajurit ABRI tewas dalam Operasi Seroja. Pada 1976, angka tersebut bertambah menjadi 351 orang, disusul 242 orang pada 1977, dan 379 orang pada 1978.

Seperti halnya Timor Lorosae yang pada saat dikuasai Portugis hanya memiliki 30 km jalan beraspal, laju Operasi Seroja juga tidak selalu mulus. Dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016), Salim Said mencatat, saat tiba di Dili, pasukan penerjun malah saling baku tembak.

Selain itu, Letjen Sayidiman Surjohadiprodjo menyatakan betapa semrawutnya perencanaan Operasi Seroja. Menurutnya, ijin Operasi Seroja yang disampaikan Panglima ABRI Jenderal TNI Maraden Panggabean kepadanya adalah operasi intelijen. Namun, Benny Moerdani menyalahartikannya dengan menggelar operasi konvensional disertai operasi lintas udara. (*)

Sumber: Tirto.id/Merdeka.com

 

loading...

#

Sebelumnya

Kala dana kemanusiaan banjiri kantong kelompok bersenjata

Selanjutnya

Ramai ramai mengutuk Trump soal Yerusalem

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe