Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Harga matoa mahal karena faktor beda rasa
  • Sabtu, 09 Desember 2017 — 12:49
  • 1504x views

Harga matoa mahal karena faktor beda rasa

"Matoa kelapa ada dua macam, yang kulit kuning dan kulit coklat. Kalo coklat itu Rp 150 ribu dan yang warna kuning itu Rp 100 ribu per kilonya," kata Wiwit, saat ditemui Jubi di Sentani, Kamis (7/12/2017).
Penjual buah matoa di trotoar jalan masuk Bandara Sentani kabupaten Jayapura - Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Sentani, Jubi – Matoa, buah musiman khas Papua, saat ini sudah masuk puncak musim berbuah dan banyak yang menjualnya, baik di pasar-pasar, emperan toko, dan di tempat umum lainnya.

Dari pantauan Jubi di sepanjang jalan masuk bandara Sentani, banyak penjual buah matoa. Harga yang ditawarkan beragam. Harga paling tinggi adalah matoa jenis kelapa yakni Rp 150 ribu per kilogram.

Seorang penjual matoa, Wiwit, mengatakan harga matoa tetap sama dari awal musim sampai sekarang yang sudah masuk puncak musim buah matoa.

"Matoa kelapa ada dua macam, yang kulit kuning dan kulit coklat. Kalo coklat itu Rp 150 ribu dan yang warna kuning itu Rp 100 ribu per kilonya," kata Wiwit, saat ditemui Jubi di Sentani, Kamis (7/12/2017).

Ia mengatakan meski stok matoa banyak namun harganya masih tetap mahal. Matoa yang masuk ke Kota Sentani berasal dari berbagai daerah, karenanya harganya berbeda dan rasa buahnya juga beragam.

"Matoa kuning itu sebenarnya matoa kelapa tapi seperti campuran papeda begitu. Kalo yang coklat itu memang matoa kelapa paling bagus. Daging buahnya bisa lepas sendiri. Makanya harganya mahal," kata Wiwit menjelaskan.

Wiwit mengatakan dengan harga mahal seperti ini tentu pembeli akan berpikir panjang untuk membelinya. Namun yang suka dengan buah yang satu ini tentu tidak ada kata tawar menawar lagi sebelum membeli.

 

"Kalau yang sudah tahu buah matoa itu mereka lihat dari kulit saja dan rasa buahnya itu mereka ambil tidak tangung-tangung ada 2 sampai 3 kilo tanpa tawar," katanya.

Di tempat terpisah penjual matoa asal Jawa, Agus, mengatakan harga matoa sudah turun sejak sepekan lalu.

"Saya jual 1 kg Rp 50 ribu dan Rp 80 ribu. Matoa ini saya ambil dari Bonggo, jadi saya jual murah, tidak sama dengan matoa yang di kota sini," tuturnya.

Matoa yang dari luar kota rasanya tidak seenak matoa yang dimabil dari Sentani dan sekitarnya. Pembelinya paling banyak mencari matoa yang dari kota.

“Matoa yang di kota itu dirawat, makanya kualitas buahnya lebih bagus dan rasanya lebih enak. Kalau yang dari kampung itu diambil di dusun atau hutan, yang hanya diambil hasilnya saja tanpa dirawat,” kata Agus.

"Rasa matoa di kota punya itu manis jadi wajar saja kalau mahal. Kalau yang dibawa dari Genyem, Bonggo, Nimborang, dan beberapa daerah lain itu kayak campur dengan papeda jadi tidak terlalu manis dan enak," kata Agus menambahkan. (*)

loading...

Sebelumnya

Jelang Natal dan Tahun Baru, stok bahan pokok di Papua aman

Selanjutnya

Pertamina gelar diskon pembelian Bright Gas dan isi ulang 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe