Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Investasi kepala sawit, pemilik ulayat makin terpojok
  • Minggu, 10 Desember 2017 — 17:29
  • 774x views

Investasi kepala sawit, pemilik ulayat makin terpojok

Hak masyarakat adat, lanjut Pastor Amo, bukan sekedar mendapatkan uang tali asih dari perusahaan yang mengambil wilayah adatnya untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Namun hal yang lebih jauh adalah identitas budaya masyarakat setempat akan punah.
Sejumlah wartawan saat menghadiri jumpa pers SKP KAME Merauke – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dewi Wulandari
LipSus
Features |
Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP
Features |
Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Merauke, Jubi – Masyarakat pemilik ulayat, semakin terpojok dengan hadirnya investor yang terus membuka lahan untuk melakukan investasi kelapa sawit. Akibatnya, binatang dalam hutan semakin sulit didapatkan. Begitu juga tanaman sagu maupun ikan, berangsur-angsur mulai hilang.

Hal itu disampaikan Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Agung Merauke, Pastor Anselmus Amo, saat jumpa pers dengan sejumlah wartawan, Sabtu (9/12/2017).

“Setelah kami melakukan investigasi ke sejumlah tempat, lahan masyarakat masih terus digusur dan hutan ditebang untuk kegiatan investasi kelapa sawit,” ujarnya.

Hak masyarakat adat, lanjut Pastor Amo, bukan sekedar mendapatkan uang tali asih dari perusahaan yang mengambil wilayah adatnya untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Namun hal yang lebih jauh adalah identitas budaya masyarakat setempat akan punah.

“Saat ini, masyarakat adat dijajah oleh pangan dari luar seperti beras, mie instant, dan ikan kaleng. Sagu, ikan segar, serta binatang hutan semakin sulit didapatkan,” tegasnya.

Belum lagi, katanya, proses pengambilan wilayah adat untuk kebun sawit, dilakukan dengan intrik, penipuan, dan memecah belah anggota marga maupun suku.

Dalam kondisi demikian, jelas Pastor Amo, masyarakat adat sangat terpojok dan tatanan adat diabaikan hanya demi suatu surga perubahan yang dijanjikan.

Hal serupa disampaikan rohaniawan Katolik lain, Pastor Pius Manu. Menurutnya, dengan masuknya investor asing melakukan aktivitas pembukaan areal untuk kelapa sawit, secara tidak langsung telah merusak hutan masyarakat adat yang dijaga dari generasi ke generasi.

Dengan pembukaan hutan, lanjut dia, secara tidak langsung habitat yang ada di dalam, dipastikan akan punah. Karena tak ada tempat lagi untuk mereka bisa hidup secara leluasa. (*)
 

loading...

Sebelumnya

Rohaniawan Katolik desak pos TNI Yalet di Kimaam ditutup

Selanjutnya

Pemalangan SDLB, Kadis P dan P Merauke bingung

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Lembar Olahraga |— Minggu, 22 April 2018 WP | 9758x views
Berita Papua |— Jumat, 20 April 2018 WP | 3398x views
Pasifik |— Senin, 23 April 2018 WP | 2131x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe