TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Sulawesi
  3. Merayakan hari HAM & teladan George Aditjondro
  • Minggu, 10 Desember 2017 — 19:56
  • 3214x views

Merayakan hari HAM & teladan George Aditjondro

Lingkaran terpelajar di Papua mengenal sejarah pers bukan dari mengikuti “sejarah pers Indonesia”—apa pun definisi dan kategorinya—tetapi lewat Kabar dari Kampung yang dibikin Aditjondro
George Aditjondro .AFP / West Australian/ AFP/Jubi
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - "Struktur kekuasaan di Indonesia," kata George Junus Aditjondro di depan para mahasiswa, "ditopang oleh Ha-Ha-Ha-Ha: Soeharto, Habibie, Harmoko, dan Bob Hasan."

Aditjondro, salah seorang intelektual anti-Orde Baru paling sengit, melemparkan lelucon itu di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, pada 1994.

Aditjondro sendiri kena serempet dari para kroco rezim militer Orde Baru. Di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga—tempatnya mengajar studi pembangunan sejak 1992 dan episentrum gerakan menolak Waduk Kedungombo—aparat-aparat kekerasan negara mengejarnya dengan tudingan bahwa sang pembangkang “telah menghina penguasa negara”.

Ia bisa menghindari kejaran aparat setelah memilih pindah ke Australia pada 1995. Krisis ekonomi ini merambat jadi krisis politik. Pada periode 1997-1998, muka bopeng Orde Baru tampak: sejumlah aktivis dan mahasiswa ditangkap dan dihilangkan paksa, kekerasan anti-Tionghoa meletus, para demonstran ditembaki, dan daerah-daerah yang mengusung aspirasi separatisme ditindas lebih keras.

Salah satu dari daerah itu, Timor Timur, yang diduduki Indonesia sejak 1975, jadi perhatian serius Aditjondro. Ia adalah penantang keras praktik kejahatan negara-nya Soeharto di wilayah yang dulu bekas jajahan Portugis tersebut.

Di Australia, sejak mengajar di Universitas Newcastle, New South Wales, pada 1996, Aditjondro semakin intens menekuni sumber dan aliran kekayaan keluarga Cendana—nama jalan kediaman Soeharto di Menteng, Jakarta Pusat—sembari mengembangkan teori sosiologi korupsi dan gerakan-gerakan kemerdekaan pascakolonial.

Ia mengumpulkan beragam sumber dan pergi ke sejumlah lokasi vital untuk memetakan kekayaan keluarga Cendana. Dalam satu artikelnya pada 1998, ia menjelaskan puluhan yayasan Soeharto yang jadi "mesin anjungan tunai" bagi sang patron.

Arianto Sangadji, salah satu karib George Junus Aditjondro dari Palu, Sulawesi Tengah, menyebut GJA—akronim beken Aditjondro—“sepanjang kariernya telah mengombinasikan dua kutub: aktif mengerahkan kemampuan fisik dan mental untuk memproduksi pengetahuan; dan dalam waktu yang sama, karya-karyanya menjadi senjata untuk gerakan-gerakan sosial tempatnya terlibat secara aktif.”

Aditjondro memulai karier sebagai wartawan Majalah Tempo pada 1970-an dengan menulis isu-isu lingkungan yang saat itu masih jadi topik sebelah mata bagi orang Indonesia.

Pada 1980-an, Aditjondro memilih jadi peneliti. Selama nyaris empat dekade kemudian, ia merambah prakarsa sebagai intelektual yang terlibat dalam sehimpun isu menonjol di sekitar kekuasaan, dari zaman Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Cakupan perhatiannya pun luas: dari korupsi hingga lingkungan, dari hak asasi manusia hingga bisnis militer.

Sebelum banyak orang terjun ke Irian Jaya (nama saat itu untuk Papua), Aditjondro sudah merintisnya sejak 1980-an. Sebuah lingkaran terpelajar di Papua mengenal sejarah pers bukan dari mengikuti “sejarah pers Indonesia”—apa pun definisi dan kategorinya—tetapi lewat Kabar dari Kampung yang dibikin Aditjondro di Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa di Irian Jaya.

Aditjondro meninggalkan Papua pada 1984 setelah kawan dan tetangganya, antroplog Arnold Ap, dibunuh para tentara Koppasandha (kini Kopassus). Pengamatannya tentang Papua dituangkan dalam buku kumpulan esai Cahaya Bintang Kejora, yang terbit pada 2000.

Selama 1998-2010, Aditjondro setidaknya menulis 11 buku dalam bahasa Indonesia: empat tentang korupsi, tiga amatan isu lingkungan yang diterbitkan serentak, dua soal Timor Leste, dan masing-masing satu buku tentang Papua dan Toraja.

Di antara karya terkenalnya adalah Dari Soeharto ke Habibie: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari (1998), yang terjual hingga 21.000 eksemplar, dan Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century (2010), yang bajakannya beredar luas dan diperjualbelikan loper-loper di perempatan jalan.

Kritik Aditjondro yang keras juga terjadi pada tahun 2011 lalu. Kala itu, dia ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik Keraton Yogyakarta oleh Kepolisian DIY pada 5 Januari 2012.

Dia dijerat dengan pasal 156 KUHP tentang perbuatan pencemaran nama baik seseorang atau insitusi. George dijerat pasal tersebut saat diskusi publik "Membedah Status Sultan Ground/Pakualaman Ground Dalam Keistimewaan Yogyakarta."

Pada awal September 2014, ia pindah ke Palu.Menjelang Desember 2016, para koleganya, termasuk Arianto Sangadji, menyiapkan sebuah konferensi internasional mengenai Sulawesi Tengah, dan salah satu sesinya khusus membahas peta pemikiran George Junus Aditjondro. Sesi khusus tersebut diselenggarakan pada 19 Desember di Universitas Tadulako.

Namun, sebelum hari pelaksanaan konferensi, Aditjondro mengembuskan napas terakhir pada 10 Desember 2016. Ia meninggal ketika seluruh dunia tengah merayakan Hari Hak Asasi Manusia Internasional—sesuatu yang diperjuangkannya hampir sepanjang hidup. Jasadnya dikebumikan di Pemakaman Talise, menghadap Teluk Palu yang indah. (*)

Sumber: Tirto.id/CNN Indonesia
 

 

loading...

#

Sebelumnya

Perempuan -perempuan penenun

Selanjutnya

Waspada, cuaca ekstrim mulai makan korban

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4869x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4293x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4158x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3489x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2943x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe