Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Ketika Pemilu berujung pertumpahan darah
  • Selasa, 12 Desember 2017 — 15:12
  • 924x views

Ketika Pemilu berujung pertumpahan darah

Di Kenya, Pemilu kerap berujung duka. Pada 2007, sekitar 1.300 orang meninggal dan 600.000 orang lainnya mengungsi akibat penyerangan kepada suku-suku yang dianggap berseberangan dalam pemilu.
Prajurit militer terlibat bentrokan dengan pendukung Salvador Nasralla, kandidat calon presiden Honduras di Tegucigalpa. REUTERS/Jubi
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Honduras, Jubi - Honduras belum memiliki presiden bahkan seminggu setelah pemilu digelar menyusul tuduhan kecurangan yang dilakukan oleh calon petahana.

Kandidat oposisi Honduras, Salvador Nasralla__seorang bintang TV terkemuka__menuduh Presiden Juan Orlando Hernandez memanipulasi hasil pemilihan. Komisi pemilihan negara itu, Tribunal Supremo Electoral atau TSE, telah menunjukkan bukti kecurangan calon petahana.

Pada Minggu, 3 Desember 2017, TSE mulai meninjau surat suara yang menunjukkan penyimpangan. Penghitungan ulang akan dilakukan dengan menggunakan prosedur khusus yang menempatkan proses di bawah pengawasan partai politik, pengamat internasional dan media.

"Kami merasa bahwa orang-orang Honduras, seperti yang kami katakan kemarin, pantas mendapat hasilnya, dan hasilnya tidak dapat dihentikan atau berada di tangan calon presiden atau partai manapun," kata David Matamoros, Ketua TSE.

Senin pagi, 4 Desember 2017, komisi pemilihan yang diawasi pemerintah menemukan bukti bahwa Hernandez unggul atas Nasralla, 42,98 persen melawan 41,39 persen.

Tapi TSE, menahan diri untuk tidak mengumumkan pemenang dan mengisyaratkan bahwa penghitungan yang lebih luas masih pelru dilakukan.

Surat suara dari 1.000 wilayah pemungutan suara menunjukkan penyimpangan setelah sistem voting komisi pemilihan ditutup pada Rabu pekan lalu sementara penghitungannya terus berlanjut. Narsalla menuduh penutupan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memanipulasi pemungutan suara.

Suasana di Honduras mencekam menyusul aksi protes berujung rusuh. Sedikitnya 11 orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam demonstrasi usai digelar pemilihan suara.

Jam malam diberlakukan di kota-kota besar Honduras untuk mengatasi kekacauan tersebut. Jam malam selama 10 hari diberlakukan mulai pukul 6 sore sampai jam 6 pagi setiap harinya. Hanya pekerja pengangkut kargo, petugas kesehatan darurat, pegawai pemerintah dan orang-orang yang terlibat dalam pemilihan dan partai pemilihan dibebaskan dari jam malam.

Tidak jelas kapan komisi pemilihan akan siap untuk mengumumkan pemenang. Banyak pengamat dari luar, seperti Organisasi Negara-negara Amerika dan PBB telah meminta kedua kandidat untuk menunggu hasil akhir sebelum menyatakan kemenangan.

Pemilu 2017 telah menyeret Honduras berada di ambang krisis politik terburuk sejak kudeta militer 2009 yang menggulingkan presiden Manuel Zelaya dari Partai Liberal yang kini mendukung Nasralla. Sejak saat itu, sayap kanan menguasai pemerintahan Honduras.

Undang-Undang Honduras hanya memungkinkan seorang presiden berkuasa selama satu periode saja. Aturan ini pernah ingin diubah oleh Presiden Manuel Zelaya, tetapi dianggap ilegal oleh Mahkamah Agung Honduras. Situasi inilah yang memicu kudeta pada 2009.

Jika Zelaya gagal, Hernandez berhasil mengubah Undang-Undang yang dimaksud pada 2015 silam. Tidak heran jika Hernandez bisa kembali maju untuk mencalonkan diri sebagai presiden untuk kedua kalinya dalam Pilpres 2017.

Tak hanya di Honduras atau di negara Amerika Latin yang kerap berhadapan dengan konflik pascapemilu. Di Kenya, Pemilu kerap berujung duka. Pada 2007, sekitar 1.300 orang meninggal dan 600.000 orang lainnya mengungsi akibat penyerangan kepada suku-suku yang dianggap berseberangan dalam pemilu.

Dalam tulisan Olga Khazan bertajuk What Causes Some Elections to Go Violent?, ia memaparkan bahwa sebagian besar yang menghadapi permasalahan pada pemilu berasal dari negara-negara berkembang.

Menurut Olga, ada tiga hal yang memicu problem lanjutan setelah Pemilu: hasil pemilu yang tidak kredibel, anggapan bahwa sang pemenang “menguasai segalanya” serta preseden bahwa kekerasan adalah cara yang efektif dalam memperoleh suara.

Tiga hal itu dapat terjadi karena lemahnya lembaga penegak hukum dan minimnya transparansi Komisi Pemilihan Umum. Penegakan hukum yang buruk dan lembaga penyelenggara Pemilu yang tidak transparan mencerminkan tingginya praktik korupsi dan kolusi. Saat polarisasi politik menguat dan memanas karena Pemilu yang sangat ketat dan gaduh, kinerja lembaga pemilihan umum yang buruk sangat mungkin memicu ledakan konflik yang bisa berdarah-darah.

Di Indonesia, bulan-bulan mendatang akan dihangatkan oleh Pilkada serentak. Ketua KPU Arief Budiman sejak November lalu telah mengingatkan soal potensi konflik dalam Pilkada serentak 2018.

"Potensi konflik selama pilkada 2018 bagi kami (KPU) sepertinya tinggi, karena pertarungan di 2018 ini paling melibatkan banyak hal," kata Arief.

Salah satu elemen yang membuat Pilkada serentak 2018 sangat strategis adalah karena setelah itu, pada 2019, akan dilangsungkan Pilpres 2019. Inilah yang membuat Presiden Jokowi belum lama ini menyebut tentang tahun politik. (*)

Sumber: Tempo.co/Tirto.id

 

 

loading...

#

Sebelumnya

Ramai ramai mengutuk Trump soal Yerusalem

Selanjutnya

Ketika paman Kim membela Palestina

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe