Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Sumatera
  3. Wabah Difteri dan klaim vaksin itu haram
  • Selasa, 12 Desember 2017 — 17:52
  • 1753x views

Wabah Difteri dan klaim vaksin itu haram

Kendalanya di wilayah kami ada fatwa salah satu tokoh agama yang menyatakan bahwa vaksin atau imunisasi ini haram, melanggar syariat. Maka katanya, warga harus menolak vaksin ini,"
Ilustrasi. Merdeka.com/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Banda Aceh, Jubi - Kasus penderita difteri di Provinsi Aceh meningkat tajam dari tahun ke tahun dan sudah ditetapkan secara nasional menjadi Kejadian Luas Biasa (KLB). Bahkan sudah ada yang ditemukan meninggal dunia karena diserang bakteri difteri.

Sepanjang 2017 ini, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh telah ditemukan 93 kasus, empat di antaranya meninggal dunia karena bakteri difteri. Meningkat tajam dibandingkan tahun 2016 lalu, hanya ditemukan 11 kasus terjangkit bakteri difteri di Aceh.

Keempat pasien yang meninggal dunia itu berasal dari Kabupaten Aceh Timur, Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Utara. Sementara masih ada 4 pasien lagi yang masih sedang mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh saat ini.

Adapun kabupaten/kota yang rentan terhadap terinfeksi bakteri difteri ini adalah Kabupaten Aceh Timur 18 orang, Pidie Jaya 14 orang, Kota Banda Aceh 13 orang, Bireuen 11 orang, Aceh Utara 11 orang, Pidie enam orang, Aceh Besar enam orang, Aceh Barat empat orang, Lhokseumawe dua orang, Sabang dua orang, Aceh Selatan dan Aceh Tamiang satu orang.

Kasus kematian suspect difteri menjadi momok besar bagi bangsa Indonesia saat ini. Ada 11 provinsi di seluruh Indonesia yang melaporkan kasus difteri saat ini. Penyakit ini berbahaya dan masuk KLB dikarenakan penyebarannya sangat mudah, baik itu pernapasan, sentuhan langsung maupun melalui batuk pasien yang terjangkit suspect difteri.

Kepala Bidang Penanganan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Aceh, dr Abdul Fatah, mengaku penyebaran penyakit difteri di Aceh memang telah meluas dan harus diwaspadai. Serambi Mekkah juga salah satu provinsi yang sudah ditetapkan KLB oleh pemerintah.

"Sampai hari ini ada 93 kasus, empat orang di antaranya sedang menjalani perawatan di RSUZA. Untuk Aceh penyakit ini sudah ditetapkan KLB," kata dr Abdul Fatah, Selasa (12/12).

Menurut Abdul Fatah, bakteri difteri patut diwaspadai, karena penyebaran melalui udara. Seperti batuk, kena percikan air liur dan terkena sentuhan pasien yang sedang terjangkit difteri. Penyakit difteri menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan disertai demam dan sesak napas.

Adapun gejala yang mudah dikenali sudah terjangkit bakteri difteri adalah seperti demam tinggi, susah menelan dan mulutnya berselaput putih, termasuk lidah. Bahkan bisa lebih parah, bila susah bernapas berakibat meninggal dunia.

Bila penderita difteri sudah akut, seluruh rongga mulut penderita putih, baik lidah, langit-langit mulut dan bahkan leher penderita bengkak. Bila hal ini terjadi, diminta untuk langsung memeriksakan diri kepada dokter.

Kata Abdul Fatah, penderita penyakit difteri disebabkan akibat tidak meratanya proses imunisasi di seluruh pelosok Aceh. Selain itu, menurut Fatah, juga ada sebagian orangtua yang tidak mau anaknya diimunisasi karena adanya pemikiran yang menyatakan vaksin imunisasi itu haram.

Dinkes Aceh mengimbau agar orang tua segera memberikan imunisasi kepada anak. Dikarenakan hanya cara seperti itu yang dapat mencegah tertularnya penyakit difteri.

"Satu-satunya cara untuk mencegah difteri hanya dengan memberikan imunisasi," ujarnya.

Laporan kejadian luar biasa (KLB) difteri di 19 propinsi mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk melakukan imunisasi segera (Outbreak Response Immunization - ORI) secara serentak di 3 provinsi, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten hari ini (11/12).

Tiga wilayah ini diberi penanganan segera karena faktor kepadatan penduduknya yang memungkinkan penyebaran difteri menjadi lebih cepat bila tidak ada imunisasi.

Netizen yang mendukung gerakan itu pun meramaikan tagar #AyoKitaVaksin. Seperti dicuitkan akun @ratnaillahi yang memberikan ilustrasi pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit menular.

Sementara itu, kasus Difteri terjadi di Desa Cisalada, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta menjadi perhatian khusus setelah makan korban jiwa. Kematian seorang warga itu diduga lantaran mereka percaya larangan vaksin disampaikan seorang pemuka agama.

Kepala Desa Cisalada, Endang Supriyadi menuturkan, sosialisasi sebenarnya sudah sering dilakukan. Bahkan satu per satu rumah warga memiliki anak belum divaksin langsung didatangi aparat dan petugas kesehatan.

"Kendalanya di wilayah kami ada fatwa salah satu tokoh agama yang menyatakan bahwa vaksin atau imunisasi ini haram, melanggar syariat. Maka katanya, warga harus menolak vaksin ini," kata Endang, Kamis (15/9).

Menanggapi laporan tersebut, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi merasa tidak habis pikir. Dia heran dalih agama begitu besar bagi masyarakat terkait kesehatan. Padahal imunisasi ini sebenarnya ditujukan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.

"Ini kan program nasional untuk perlindungan kesehatan masyarakat. Saya tidak habis pikir kalau karena ada pemahaman seperti ini masyarakat setempat malah menutup pintu rumah, mereka menolak imunisasi," ujar Dedi.(*)

Sumber: Merdeka.com/ CNN Indonesia
 

loading...

#

Sebelumnya

Gubernur Papua puji Bupati Jayapura soal minol

Selanjutnya

Bandara Wamena gandeng sejumlah pihak atasi krisis tiket

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 4766x views
Anim Ha |— Sabtu, 10 Februari 2018 WP | 2783x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2684x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe