Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Advertorial
  3. Sambutan Ketua Umum BPP Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua Pada Kongres Ke-18, 9-14 Desember 20
  • Rabu, 13 Desember 2017 — 08:08
  • 1869x views

Sambutan Ketua Umum BPP Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua Pada Kongres Ke-18, 9-14 Desember 20

Kalau ada umat Tuhan, orang asli Papua dan warga Baptis yang direndahkan martabatnya atas nama keamanan nasional dan kepentingan NKRI, saya akan melawan dengan otoritas yang Tuhan berikan kepada saya dan kuasa yang diberikan oleh warga Baptis Papua.
Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua Dr. Socratez Sofyan Yomans edang menuju podium untuk sampaikan sambutan dan sekaligus membuka Kongres ke-18 Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua pada Senin 11 Desember 2017 di halaman Gereja Baptis Yomayima, Wamena, Jayawijaya - IST
Benny Mawel
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

SAUDARA-SAUDARA peserta Kongres dan para undangan yang Tuhan Yesus kasihi dan saya hormati.  Hari ini, tanggal  11 Desember 2017, merupakan hari penting yang bernilai sejarah dan  rohani  bagi seluruh warga Baptis di Tanah Papua. Mengapa hari penting, bernilai sejarah dan bernilai rohani?  Karena, kita dapat berjumpa kembali dalam pesta rohani setiap lima tahunan sebagai warga Baptis. Kita bersama-sama memuliakan nama Tuhan, memuji Nama-Nya, memuji Kuasa-Nya, berterima kasih atas berkat  dan anugerah Tuhan selama lima tahun.  Kita tanpa sadari bahwa kita warga Baptis berada di usia yang ke-61 tahun sejak 28 Oktober 1956  Pdt. Norman Draiper dari Misi Baptis Australia (ABMS) menginjak kakinya di Gurikpaga, Tiom, Wilayah Longgika. Kita juga sudah berada dalam usia yang ke-51 tahun sejak Gereja Baptis lahir secara resmi pada 14 Desember 1966 di Yanekme, Makki. Baru saja kita selenggarakan Yubelium 50 tahun pada  tanggal 14 Desember tahun 2016.

Gereja Baptis dalam usia yang ke-61 tahun ini, ia hidup dalam dunia yang penuh dinamika dan warna.  Dalam perjalanan 61 tahun, Gereja Baptis benar-benar telah menjadi wadah dan tempat  Injil Yesus Kristus diberitakan. Orang-orang Lani sudah menjadi warga Kerajaan Allah, menjadi anak-anak Allah, mengenal Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi. Orang-orang Lani punya kepastian dan jaminan keselamatan dalam Kristus. Dan orang-orang Lani yang sudah menjadi warga Baptis sedang menjadi berkat bagi suku-suku lain di Papua dan di luar Papua. Disamping itu Gereja Baptis juga  telah melahirkan kader-kader hebat bagi gereja dan pemerintah.

Saudara-saudara peserta Kongres dan para undangan, dalam momentum rohani ini,  kita akan mengevaluasi Program Lima Tahunan sejak 2012-2017 yang kita telah lewati bersama. Kita juga akan bersama-sama akan menyusun Program baru sesuai dengan kebutuhan warga Gereja Baptis dan perkembangan di era sekarang. Selanjutnya, para peserta Kongres akan memilih pemimpin baru yang akan melayani warga Gereja Baptis di Tanah Papua selama lima tahun ke depan 2017-2022.  

Lebih penting dalam persekutuan rohani lima tahunan ini adalah kita bersama-sama akan menaruh bekas-bekas kaki, jejak-jejak tangan, tanda-tanda iman yang baik, bukti-bukti kejujuran kita,  warisan kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan  untuk anak-anak dan cucu kita ke depan. Kita jangan lupa, bahwa Gereja Baptis tidak akan runtuh. Gereja Baptis tidak akan lenyap. Gereja Baptis tidak akan dikuasasi oleh kuasa Iblis. Karena Gereja Baptis didirikan oleh Tuhan di atas batu karang yang teguh. Gereja Baptis pernah, sedang dan terus memegang kuasa dan Kunci Kerajaan Sorga.

Yesus berkata kepada Simon Petrus, “ Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasai-Nya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga” (Matius 16:18-19). 

 Para peserta Kongres dan para undangan yang saya muliakan,  gereja Baptis dihadirkan oleh Allah dalam dunia realitas di Papua  yang  terus berubah, terus bergelombang, terus berdarah-darah, terus menangis, terus menderita, terus berombak. Dalam Papua yang penuh dengan kekerasan dan kejahatan Negara, pelanggaran berat HAM selama 54 tahun,   umat Tuhan dengan mudah dan gampang dicap sebagai anggota OPM, separatis, dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Dalam kegelisahan umat Tuhan, dalam penderitaan umat Tuhan di Papua,  Gereja Baptis hadir sebagai  mama,sebagai ibu, sebagai rumah, sebagai pagar, ia hadir dengan kuasa Ilahi.

Kita harus ingat  tentang tugas yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada Simon Petrus. Yesus bertanya kepada Simon Petrus. Apakah engkau mengasihi Aku. Pertanyaan ini disampaikan tiga kali kepada Rasul Petrus. Petrus menjawab Yesus, aku mengasihi Engkau. Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Gembalakanlah domba-domba-Ku, Gembalakanlah domba-domba-Ku, gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15-19).

Tugas gembalakan, jaga, lindungi, pelihara domba-domba Allah/umat Tuhan, warga Gereja adalah tugas kita hari ini. Ini mandat untuk kita. Ini tanggungjawab untuk kita. Gereja Baptis jangan membisu, Gereja Baptis jangan diam, gereja Baptis jangan acuh tak acuh. Gereja Baptis jangan menonton. Gereja Baptis jangan lari ketika umat Tuhan ditindas oleh kekuasaan Negara.

Gereja Baptis hadir dan berada bukan dalam dunia yang kosong tanpa manusia dan masalah. Gereja Baptis hadir dalam realitas umat Tuhan di Papua sedang memperjuangkan keadilan, perdamaian, hak politik mereka. Wadah-wadah perjuangan nilai-nilai kemanusiaan dan martabat manusia seperti OPM, KNPB, ULMWP tidak turun dari langit, tidak terbang dari udara dan mendarat di bumi Papua. Wadah perjuangan umat Tuhan seperti OPM, KNPB, ULMWP lahir dan hadir di tengah-tengah warga Baptis karena ada masalah, ada persoalan, ada kejahatan, ada kekejaman, ada pemusnahan penduduk pribumi yang dilakukan Negara. 

Saudara-saudara hadirin dan peserta Kongres yang saya muliakan, jangan takut, jangan bimbang, jangan ragu, jangan gentar untuk mengatakan yang benar dan adil di atas tanah ini. Anda pemilik negeri dan ahli waris negeri ini.  Saudara-saudara kita berada dalam realitas terus berubah dan berkembang dengan berbagai macam persoalan kemanusiaan.  Kita hidup, berada dan berkarya dalam pergumulan rakyat dan bangsa Papua sedang berjuang masa depan mereka yang lebih baik, aman dan damai.

Kita berada dalam dinamika OPM, KNPB, ULMWP sedang berjuang untuk masa depan bangsa ini. Perjuangan ini secara iman tidak berdosa dan secara etika tidak salah. Karena Tuhan tidak melarang umat-Nya berjuang untuk Merdeka. Alkitab juga tidak melarang umat Tuhan berjuang untuk Merdeka.  Gereja Baptis juga tidak melarang umat Tuhan berjuang Merdeka.Yang dilarang Tuhan, dilarang Alkitab, dilarang Gereja Baptis adalah jangan membunuh umat Tuhan. Karena Tuhan dalam sepuluh hukum-Nya mengatakan: “Jangan membunuh”.   

Para peserta Kongres dan para undangan yang saya kasihi, dalam kehidupan nyata dan dalam berteologi gereja dan pemerintah selama ini menyalahgunakan Surat Roma 13:1-7 untuk kepentingan dan tujuan menyembunyikan kekejaman dan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM yang mengarah pada pemusnahan etnis Papua.

Dalam menyikapi dan menggumuli dunia realitas yang jahat dan kejam seperti ini, Gereja Baptis tidak dipanggil untuk menjadi posisi yang berhati-hati, netral dan lunak.  Tetapi Gereja Baptis harus memberi tantangan, inpirasi, memotivasi kepada rakyat yang tertindas di atas tanah mereka. Gereja Baptis mempunyai berita Injil, berita Salib, kabar damai dan sukacita dari Allah.

Oleh karena tugas suci yang diberikan Yesus kepada kita itu, dalam kesempatan yang baik ini, saya mengajak warga Baptis dan para undangan, marilah kita semua menjadi matanya Tuhan untuk melihat umat Tuhan yang menderita di Papua. Marilah kita menjadi wajahnya Tuhan untuk kita pancarkan cahaya dan sinar kasih dari wajah kita kepada rakyat Papua yang sedang menangis. Marilah kita menjadi mulut dan lidahnya Tuhan untuk bersuara bagi yang tak bersuara, membela yang tertindas. Marilah kita menjadi tangannya Tuhan untuk mengangkat yang direndahkan. Marilah kita menjadi kakinya Tuhan untuk berjalan menolong umat Tuhan yang ditindas atas nama keamanan dan kepentingan Negara. 

Karena kita semua adalah gambar dan rupa Allah. Kita semua adalah ciptaan Tuhan (Kejadian 1:26). Di dunia ini, tidak ada manusia kelas I dan Kelas II dan Kelas II. Kita semua adalah Kelas Utama dan Terutama dalam hati Allah. Kita percaya bahwa Allah mengasihi,  memberkati, menjaga, menggembalakan dan memelihara  kita semua. Tuhan Allah tidak pernah membedakan latar belakang pendidikan, status sosial, kaya atau miskin, orang maju atau terbelakang.     

Dalam kesempatan ini, saya sebagai Ketua Umum Badan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua menegaskan, bahwa kalau ada umat Tuhan, orang asli Papua dan warga Baptis yang direndahkan martabatnya atas nama keamanan nasional dan kepentingan NKRI, saya akan melawan dengan otoritas yang Tuhan berikan kepada saya dan kuasa yang diberikan oleh warga Baptis Papua.

Saudara-saudara, Gereja Baptis tidak akan pernah memilih bersikap hati-hati dan netral, karena Yesus tidak pernah bersikap hati-hati dan bersikap netral. Yesus Kristus melawan  kuasa Iblis, dosa,  kejahatan, ketidakadilan, ketidakbenaran, yang merendahkan martabat umat Tuhan. Kita tahu, kita melihat, kita alami, kita hidup di negeri para pemimpin penipu. Kita hidup di negeri para pemimpin yag selalu bersadiwara. Kita hidup dinegeri para pemimpin yang menerapkan hukum rimba. Kita hidup di negeri yang menginjak-injak undang-undang dan ketertiban. Kita hidup di negeri yang manusia dibuat tidak punya masa depan.  

Karena itu, “ …sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Filipi 2:15).

Gereja Baptis menyadari bahwa Injil itu bukan teori. Injil bukan khotbah. Injil itu bukan bermeditasi. Injil itu bukan hanya kata-kata indah. Injil sesungguhnya adalah aksi nyata. Injil  yang sebenarnya adalah pengorbanan. Injil  hadir dalam dunia realitas. Injil itu harus menjadi terang dan garam dalam dunia yang gelap dan bengkok ini dengan tindakan nyata.

Dalam keyakinan dan pijakan ini, warga Baptis sebagai gereja Otonom, Mandiri, Independen berkarya dan melayani dengan Tema: “Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri”.  Mandiri  dan Otonom dalam Teologi, Daya dan Dana.  Pedoman dan pegangan warga Baptis ini sesuai dengan sejarah dan prinsip Baptis yang dianut Gereja-gereja Baptis di seluruh dunia bahwa ada keterpisahan Gereja dengan Negara. Artinya, Gereja Baptis  terpisah dengan Negara. Ada jarak yang tegas antara Negara dan Gereja Baptis. Pemerintah/Negara tidak punya hak mengatur Gereja Baptis.

Jemaat Baptis dan para undangan yang saya muliakan, dalam kesempatan ini, saya menyampaikan untuk menjawab segala masalah dan untuk berdiri sebagai gereja yang mandiri dan kokoh, umat Tuhan  yang punya harga diri dan kehormatan hanya melalui pendidikan. Oleh karena itu, warga Baptis pendidikan adalah wajib hukum dan satu keharusan. Setiap keluarga warga Baptis harus bertanggungjawab mendukung pendidikan anak. Tidak ada alasan tidak ada uang. Tidak ada alasan orang tua tidak mampu.  Kita harapkan  50 tahun/100 tahun Yebelium kedua,  negeri ini dan Tanah West Papua ini, akan dipimpin oleh  pemuda dan pemudi Baptis yang mempunyai iman, ilmu, injil,  integritas dan kredibilitas.

Untuk menuju pada generasi Baptis yang memiliki iman, ilmu, injil, integritas, dan kredibilitas,   kita sudah memperkuatkan warga Baptis yang mandiri, otonom. Kita sudah membangun kemandirian Gereja Baptis dengan landasan dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, Injil adalah kekuatan Allah, sejarah dan prinsip Baptis. Gereja Baptis terus berusaha dan mengkokohkan diri sebagai Gereja Otonomi dengan memotong rantai-tantai ketergantungan dan proposal. 

Para undangan yang saya muliakan, saya mau menyampaikan pada kesempatan ini, dalam semangat Jemaat Baptis yang mandiri, berdiri di kaki sendiri, telah dibuktikan dalam konferensi seluruh di Tanah Papua, dari 27 wilayah Baptis minus 3 wilayah, telah menyenggarakan Konferensi tanpa bantuan satu pun dari pemerintah kabupaten dan provinsi. Seluruh pembiayaan Pengurus Badan Pelayan Pusat, pulang dan pergi dan penginapan 100% dibiayai oleh Jemaat Baptis. Bahkan ada tiga wilayah (wilayah Gupura, wilayah Yulumbur, wilayah Yugwa) membiayai Helly Kopter untuk pulang dan pergi. Ini bukti bahwa Gereja Baptis benar Otonom dan Mandiri.   

Dalam upaya kemandirian warga Baptis yang kuat, kokoh, dan berdaya guna, kami telah melarang menjual Tanah, gunung, pasir, hutan, air di selurun wilayah pelayanan Baptis dari Beam—Dimba---Kuyawagi---Melagainegeri---Tiomeneri. Semua kekayaan alam yang ada di wilayah Baptis harus dikelola oleh warga Baptis karena itu milik warga Baptis dari turun-temurun.

Pada forum resmi pembukaan kongres ke-18 ini, Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua melarang mengambil batu dan pasir di  kampung Indawa, wilayah Makki. Masalah pengambilan batu dan pasir di kampung Indawi perlu dibicarakan dengan baik.  Batu dan tanah itu dikelolah oleh pemilik Tanah itu sendiri.

Para undangan dan peserta Kongres yang Tuhan Yesus kasihi dan saya muliakan, saya menghimbau kepada seluruh warga Baptis di  Tanah Papua, berdirilah teguh di atas keyakinan imanmu dalam Kristus dengan menyalakan cahaya-cahaya lilin di lorong-lorong kehidupan umat, dalam pergumulan dan perjuangan umat Baptis dan sesama saudara-saudara di Tanah Papua.

Tema Kongres adalah “Dari tempat engkau berdiri, aku akan memberkatimu” (Kejadian 13:14-15). Kami percaya bahwa dari tempat kami berada, dari tempat kami berdiri,  dari nilai-nilai kebenaran yang kami perjuangkan, dari nilai-nilai kebenaran sejarah yang kami pertahankan, dari iman, ilmu, injil, integritas, dan kredibilitas yang kami miliki,  dari tempat ini Tuhan akan memberkati tanah kami, Tuhan akan memberkati dari generasi-ke generasi,  bagi hormat dan kemuliaan Tuhan Allah kita.

Harapan dan doa saya, supaya sambutan ini tetap tertulis, hidup dan bergema dan Tuhan memakai kata-kata ini, selama dan sepanjang Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua masih berada, hidup dan berkarya di Tanah dan Negeri orang Melanesia ini. Setiap  kata dan kalimat yang saya sampaikan dari hati yang tulus dan jujur ini, tidak akan kembali dengan sia-sia.

Akhir dari sambutan ini, saya selaku Ketua Umum Badan Pelayan Pusat menyampaikan Selamat Melaksanakan Kongres ke-18 Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Yomaima, Wamena, 11 Desember 2017

Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua,

Ketua Umum,

Dr. Socratez Sofyan Yoman

loading...

Sebelumnya

Gubernur Papua lantik Bupati Jayapura dan Intan Jaya 

Selanjutnya

Konferensi III KAPP, Merry Yoweni terpilih kembali sebagai Ketua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe