Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Mamta
  3. Dosen tari sayangkan tak ada gedung pertunjukan seni di Jayapura
  • Kamis, 14 Desember 2017 — 15:57
  • 1152x views

Dosen tari sayangkan tak ada gedung pertunjukan seni di Jayapura

Ia menambahkan memang ada taman budaya yang sekarang digunakan sebagai kampus ISBI, namun sayang tidak berjalan alias mati suri.
Siswa-siswi SD Inpres Komba saat menari di halaman sekolah - Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Sentani, Jubi - Muhamad Ilham Murda, dosen seni tari, Fakultas Ilmu Pertunjukan, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, mengatakan sejak ia mulai menari pada tahun 1999 sampai saat ini tidak ada tempat kreatif bagi anak-anak Papua untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat tarinya.

“Dari dulu kami tidak punya tempat berkreativitas. Disini tidak ada gedung pertunjukan yang representative bertaraf nasional maupun internasional,” kata Ilham, saat ditemui Jubi, disela-sela acara Diskusi Kelompok Pengembangan Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif, di Sentani kabupaten Jayapura, Selasa (12/12/2017).

Ia menambahkan memang ada taman budaya yang sekarang digunakan sebagai kampus ISBI, namun sayang tidak berjalan alias mati suri.

“Ada pangung tapi tidak ada tempat duduk. Nanti kalo ada iven baru sewa tenda dan kursi,” kata Ilham.

Ilham menuturkan yang menjadi masalah sampai saat ini, berbagai festival yang diselenggarakan pemerintah di kabupaten dan kota, sebenarnya belum cukup layak.

“Saya juga punya komunitas Hip Hop yang juga pernah waktu itu mewakili Indonesia ke Jepang. Kami coba mengkolaborasikan tarian Papua dan Hip Hop,” kata Ilham menjelaskan.

Ilham menambahkan soal kreativitas anak-anak di tanah Papua sudah tidak perlu diragukan lagi, baik seni tari maupun musik. Masalah terbesar saat ini adalah tidak ada ruang untuk berekspresi.

“Kalau Hip Hop itu kami di jalan bisa. Tapi untuk tari–tari pergaulan seperti yosim pancar, itu larinya ke GOR yang nota bene itu gedung olahraga. Kita butuh gedung seni pertunjukan,” tuturnya.

Berbagai gagasan dilakukan untuk bagaimana menari itu di atas tanah dan di gedung yang khusus untuk tari. Ia bersama beberapa rekannya menggelarkan festival Grand Youth Performance. Dia menari bersama teman-teman dari Enggros.

“Bakau-bakau sampai di kali Acai itu problemnya sampah. Jadi kritisnya adalah membicarakan sampah itu pencemaran lingkungan. Tapi dari saya dan beberapa teman-teman kenapa buat pertunjukan di kali dan di lumpur karena tidak ada gedung pertunjukan, terus mau dimana lagi,” ujar Ilham setengah bertanya.

Ia sangat berharap ada tempat pertunjukan yang layak dan khusus untuk pertunjukan seni supaya sanggar-sanggar seni yang di tanah Papua ini itu dapat menari dengan bebas dan publik pun tahu kalau ada ruang pertunjukan seni.

“Kami berharap, baik itu dari komunitas sanggar yang di kampung-kampung bisa juga ikut pertunjukan tarian di situ. Karena mereka juga binggung mau pameran dimana tarian dimana tidak ada tempat. Mau pake tempat itu pasti mahal. Jadi kalau bisa ada tempat yang gratis agar seniman dan kreativitas ini tetap hidup,” kata Ilham Murda.

Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif, Endah Wahyu Sulistianti, mengatakan persoalan masalah tempat tidak hanya di Papua namun di beberapa tempat di Indonesia juga mengalami hal yang sama.

“Saya merasa sayang, saat dengar mereka menari di atas lumpur. Apa memang tidak ada gedung pertunjukkan disini. Untuk melakukan sesuatu yang besar memang harus ekstrim agar teman-teman dapat berkreasi terus,” katanya.

“Kami dibolehkan hanya memanfaatkan ruangan yang ada dan tidak diperbolehkan untuk membangung gedung yang baru. Kalau ada aset pemda yang tidak terpakai itu bisa diajukan untuk direnovasi dan dikelola oleh komunitas,” kata Endah menambahkan. (*)

loading...

Sebelumnya

Pemkot Jayapura kembali menerima penghargaan smart city

Selanjutnya

Orang tua diminta awasi anak selama libur panjang

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat