close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Pertumbuhan ekonomi Papua melambat
  • Kamis, 14 Desember 2017 — 17:44
  • 2212x views

Pertumbuhan ekonomi Papua melambat

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Papua, Joko Supratikto, mengatakan kontraksi ekspor luar negeri menjadi penyebab penurunan pertumbuhan Papua pada triwulan III 2017 seiring perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan.
Pertemuan Tahunan Ekonomi Papua oleh Bank Indonesia perwakilan Papua - Jubi/Sindung
Sindung Sukoco
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Dalam pertemuan tahunan yang diselenggarakan Bank Indonesia perwakilan Papua, Bank Indonesia perwakilan Papua mengakui pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua relatif mengalami perlambatan. 

Tercatat pertumbuhan perekonomian Provinsi Papua pada triwulan III 2017 mencapai 3,40 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,88 persen (yoy).

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Papua, Joko Supratikto, mengatakan kontraksi ekspor luar negeri menjadi penyebab penurunan pertumbuhan Papua pada triwulan III 2017 seiring perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan.

“Regulasi izin ekspor mineral masih menjadi faktor utama penahan kinerja lapangan usaha pertambangan yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja perekonomian Papua selama 2017. Di sisi lain, perkembangan kinerja konsumsi rumah tangga yang masih terjaga pada 2017 menjadi salah satu faktor penopang perekonomian Papua,”papar Joko, Kamis (14/12/2017).

Berkaca pada dinamika perekonomian yang terjadi sepanjang 2017 dan mempertimbangkan beberapa faktor yang potensi memberikan pengaruh pada perekonomian Papua, pertumbuhan ekonomi 2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,0 persen - 4,4 persen (yoy) lebih rendah dibanding 2016 yang tumbuh sebesar 9,2 persen (yoy). 

Joko melihat adanya perkembangan positif terlihat dari sisi inflasi, dimana tekanan inflasi di Papua pada triwulan III 2017 masih sangat terkendali dan mencapai level 1,43 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,10 persen (yoy), bahkan lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 3,72 persen (yoy). 

“Inflasi pada triwulan ini juga berada di bawah target inflasi nasional 2017 yaitu sebesar 4 persen ± 1 persen (yoy). Asesmen kami menilai bahwa terkendalinya angka inflasi ini seiring minimalnya tekanan inflasi pada komponen volatile foods dan administered prices, termasuk juga ekspektasi inflasi masyarakat yang relatif terkelola dengan baik,” katanya.

Iapun memperkirakan tekanan inflasi Papua hingga akhir 2017 diperkirakan mencapai 2,1 persen - 2,5 persen (yoy), lebih rendah dibanding inflasi 2016 yang mencapai 3,48 persen. 

“Tekanan inflasi pada akhir tahun 2017 diperkirakan masih berasal dari perayaan natal dan tahun baru yang berpotensi mendorong permintaan terhadap angkutan udara, komoditas bahan makanan, dan makanan jadi. Namun, terjaganya pasokan bahan pangan dan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi yang terkelola dengan baik menjadi faktor peredam tekanan inflasi Papua pada 2017,” katanya menambahkan. 

Proyeksi tahun ke depan, kata Joko, pertumbuhan ekonomi Papua pada 2018 relatif moderat dan berada di kisaran 5,0 persen - 5,4 persen (yoy). Salah satu faktor pendorong perekonomian adalah kenaikan target penjualan hasil tambang pada 2018 yang menandakan indikator optimisme pelaku usaha tambang dominan di Papua. 

“Sementara yang menjadi faktor penghambat adalah izin ekspor yang akan berakhir pada Januari 2018 yang berpotensi mempengaruhi kinerja pertambangan,” lanjutnya 

Dari sisi harga agregat, Joko Supratikto memperkirakan inflasi pada 2018 akan berada pada interval 4,6 persen - 5,0 persen (yoy). Pelaksanaan pilkada pada tahun 2018 yang berpotensi mempengaruhi stabilitas sosial-ekonomi di Papua menjadi salah satu faktor pemicu tekanan inflasi Papua pada tahun 2018.

“Hal itu akibat kenaikan UMP 2018 sebesar 8,71 persen (yoy) dan kenaikan cukai rokok sebesar 10 persen, menjadi salah satu faktor pemicu tekanan inflasi pada 2018, khususnya pada inflasi inti (core) dan administered price,” ujarnya. 

Asisten II Bidang Perekonomian dan Kesra Sekretariat Daerah Provinsi Papua, Elia Loupatty, mengungkapkan perkembangan harga-harga di Papua dan juga daya beli masyarakat Papua masih terjaga dengan baik. Inflasi di Papua pada bulan Oktober 2017 tercatat sebesar 1,43 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan posisi Oktober 2016 yang tercatat sebesar 4,72 persen (yoy). Inflasi pada triwulan ini juga membaik bila dibandingkan pada triwulan sebelumnya yang sebesar 3,10 persen (yoy).

“Penurunan tekanan inflasi ini tentunya tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Papua, keterlibatan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah dan Aparat Penegak Hukum, serta pemangku kepentingan lainnya, terutama dalam menjaga ketersediaan pasokan maupun ekspektasi masyarakat,” ujarnya. (*) 

loading...

Sebelumnya

Gorden dan wallpaper, paling diminati pelanggan

Selanjutnya

Pelindo resmi operasikan dua RTG baru di pelabuhan Jayapura

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4953x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4350x views
Domberai |— Minggu, 21 Oktober 2018 WP | 4129x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2553x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe