Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Sumatera
  3. Ramai -ramai mencegah wabah Difteri
  • Kamis, 14 Desember 2017 — 18:11
  • 1798x views

Ramai -ramai mencegah wabah Difteri

Toksin atau racun yang disebabkan kuman difteri juga bisa menyerang organ lain, seperti jantung, otot mulut, hingga ginjal sehingga dampaknya mematikan.
Ilustrasi. Wartakota.com/Jubi
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Medan, Jubi - Dua penderita difteri masih mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik Medan. Dua lainnya telah sembuh, sehingga total sudah 4 penderita penyakit ini yang mendapat perawatan di sana.

Pasien difteri yang tengah dirawat di ruang khusus infeksius masing-masing SM (12), berjenis kelamin laki-laki asal Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, dan NM (15), berjenis kelamin perempuan warga Kisaran, Asahan.

"Keduanya masih dirawat di Ruang Khusus Infeksius Menular," kata Kepala Instalasi Rawat Inap RSUP H Adam Malik, Mahyu Daniel, Kamis (14/12).

Mahyu menjelaskan, mereka sudah melakukan sejumlah tindakan medis terhadap kedua pasien, seperti pemberian terapi cairan, antibiotik, obat demam dan Ekg. “Lalu, dilakukan swab tenggorokan, cek laboratorium, photo thorax, dan pemberian anti difteri serum," jelas Mahyu.

Sebelumnya pada Januari 2017, pihaknya sempat merawat 2 pasien berusia 15 tahun yang juga mengidap difteri. Kedua pasien sudah sembuh.

Pakar kesehatan anak di Rumah Sakit Umum Pusat dr Kariadi Semarang Dokter Hapsari, Sp.A(K) menjelaskan setidaknya ada dua dampak mematikan dari penyakit difteri.

"Difteri disebabkan bakteri yang penularannya lewat saluran nafas. Jadi kumannya nempel di tonsil, amandel. Gejalanya demam yang tidak tinggi, lemah lesu, dan nyeri telan," katanya di Semarang, Kamis.

Hal tersebut diungkapkannya di sela rapat koordinasi dengan dinas-dinas kesehatan kabupaten/kota dan stakeholder terkait mengenai difteri yang berlangsung di Kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

Lebih lanjut, kata dia, keberadaan kuman tersebut akan merusak amandel, sel-sel darah merah, hingga membentuk selaput yang semakin membesar yang bisa membikin pasien mengalami sesak nafas.

"Kalau selaput di tenggorokan sudah menempel amandel, menutup masuk ke dalam harus dilakukan trakeostomi (pembedahan, red.)," kata Ketua Divisi Infeksi Tropis Bagian Anak RSUP dr Kariadi Semarang itu.

Tak hanya itu, kata dia, toksin atau racun yang disebabkan kuman difteri juga bisa menyerang organ lain, seperti jantung, otot mulut, hingga ginjal sehingga dampaknya mematikan.

"Jadi, pertama yang mematikan difteri karena sumbatan yang bisa menyebabkan sesak nafas, kedua toksinnya. Kalau menyerang jantung bisa keringat dingin, otot mulut bisa tersedak," katanya.

Untuk mengantisipasi penularan difteri, Hapsari mengingatkan perlunya mewaspadai "carrier", yakni orang yang tidak menunjukkan gejala atau memiliki penyakit aktif, tetapi membawa dan menularkan.

"Yang membawa bakteri atau kuman ini tidak sakit, tetapi bisa menularkan ke orang lain. Difteri kan penularannya langsung. Makanya, justru membahayakan kalau 'carrier' ini," katanya.

Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi belakangan, kata dia, tidak juga memengaruhi kemunculan difteri setelah sekian lama, sebab penyakit itu bisa muncul saat musim dingin dan kemarau.

Seorang pasien difteri berusia empat tahun asal Kendal, Jawa Tengah, meninggal dunia karena sudah dalam kondisi parah saat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang.

Pasien berjenis kelamin laki-laki itu dirujuk dari Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal dengan keadaan yang sudah komplikasi, seperti sesak nafas berat, pembesaran kelenjar, dan diduga komplikasi jantung.

Di Garut, seluruh pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter Slamet Kabupaten Garut, Jawa Barat, disuntik vaksin difteri agar tidak tertular penyakit tersebut.

"Pegawai rumah sakit sangat rentan terkena penyebaran penyakit, untuk itu dilakukan vaksinasi," kata Humas RSUD Dokter Slamet Garut, Lingga Saputra.

Manajemen RSUD Garut, kata dia, perlu melakukan tindakan antisipasi untuk menangkal berbagai penyakit termasuk difteri dengan melakukan vaksinasi.

Dengan adanya kasus itu, lanjut dia, seluruh petugas medis mendapatkan vaksinasi difteri yang berlangsung Senin (11/12) sampai Jumat (15/12).

Ia menambahkan, jumlah pegawai RSUD Dokter Slamet Garut sebanyak 1.200 orang, seluruhnya akan divaksinasi secara bertahap agar tidak mengganggu pelayanan rumah sakit.

Sementara itu, sejumlah warga di Kota Depok kesulitan ingin mendapatkan imunisasi difteri program imunisasi tanggap kejadian luar biasa kasus difteri di Indonesia atau "Outbreak Response Immunization" (ORI).

Berdasarkan keterangan salah satu warga Kelurahan Sukamaju Cilodong Nana Febrina di Depok, Rabu, mengatakan tidak mendapatkan informasi yang jelas kapan akan ada imunisasi ulang difteri di kawasan tempat tinggalnya.

"Bahkan sejak Senin saya tanya ke kader posyandu pun tidak tahu kapan akan ada imunisasi," ucap ibu satu anak itu.

Di Banten, cakupan vaksin ORI (outbreak respons imunization) sampai Selasa (12/12) mencapai 30.982 jiwa atau 1.02 persen dari target 3,050 juta jiwa. Vaksin ORI akan memprioritaskan anak yang berusia 1 hingga 19 tahun.(*)

Sumber: Tempo.co/Antara

 

loading...

#

Sebelumnya

Jayawijaya genjot pelayanan kesehatan tingkat kampung

Selanjutnya

Penyelundup Vodka Wamena hanya dihukum denda Rp 2 juta

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 32926x views
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 8971x views
Polhukam |— Kamis, 13 September 2018 WP | 6478x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 5925x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5634x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe