Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Awas, mata-mata perusahaan mengintai aktivis!
  • Kamis, 14 Desember 2017 — 18:12
  • 1076x views

Awas, mata-mata perusahaan mengintai aktivis!

banyak intelijen asing yang bergerak di Indonesia.
Seorang aktivis membawa spanduk dalam aksi protes di sungai Rhein oleh organisasi lingkungan Greenpeace. Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi
 

Iraq, Jubi - Toby Kendall adalah lulusan Oxford. Pria 23 tahun tampil beda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ia mengenakan kostum bajak laut. Tapi bukan pesta kostum yang mau ia hadiri melainkan demonstrasi di dekat kantor sebuah perusahaan multinasional di London.

Aksi demonstrasi itu menyasar perusahaan multinasional yang merampok minyak Irak di tengah konflik, sebuah pengerukan sumber daya alam yang telah dikecam oleh serikat pekerja minyak Iran hingga komunitas internasional termasuk masyarakat Inggris.

Sambil berjalan membawa spanduk bertuliskan “hands off Iraqi oil,” dan beberapa logo perusahaan minyak seperti Shell dan BP, Kendall dan kawan-kawan menggebuk drum. Anggota band samba Rhythms of Resistance dan Barking Samba juga turut serta dalam demonstrasi tersebut.

Namun begitu, tujuan Kendall terjun dalam demonstrasi itu bukan karena keberpihakannya kepada rakyat Irak. Kendall sesungguhnya tengah menjalankan misi memata-matai kelompok demonstran dan melaporkannya kepada perusahaan tempat ia bekerja—sebuah perusahaan keamanan bernama C2i International yang selanjutnya bakal diserahkan ke perusahaan minyak yang didemo.

Laporan Kendall meliputi berbagai informasi terkait aksi yang dia hadiri, mulai dari pemimpin demonstran, agenda demonstrasi, hingga rencana kelompok aksi di waktu mendatang.

Kisah ini terjadi pada Februari 2008 dan dilaporkan The Guardian pada Selasa (12/12/2017) setelah Bureau of Investigative Journalism dan harian Inggris tersebut menemukan ratusan bocoran dokumen dari dua perusahaan keamanan yang kerap digunakan oleh bisnis-bisnis raksasa untuk memata-matai para aktivis.

Dalam laporan lain yang dimuat The Guardian, aksi spionase yang dilakukan perusahaan-perusahaan raksasa dunia juga pernah menarget Rachel Corrie, seorang aktivis pro-Palestina yang meregang nyawa pada 2003 setelah dilindas buldoser.

Rachel, 23 tahun, adalah mahasiswi Evergreen State College. Meski bukan muslim, hatinya tersentuh penderitaan warga Palestina. Gadis itu pun cuti dari kuliah bergabung dalam solidaritas kemanudiaan yang dilakukan Gerakan Solidaritas Internasional (ISM).

Saat itu,16 Maret 2003, tentara Pertahanan Israel berniat meratakan pemukiman yang berada antara kamp pengungsi Rafah dan perbatasan Mesir. Corrie, bersama 6 aktivis ISM lainnya, 3 warga Inggris dan 4 AS, berupaya mencegah itu. Corrie tak gentar dengan dengan derum buldoser. Saat mesin baja Caterpillar D9R itu datang, dia tak pergi. Dia malah berlutut, menjadi tameng hidup.

" Jelas-jelas pengemudi buldoser itu melihatnya dan langsung menabraknya. Dia terlindas," kata Joseph Smith, seorang rekan aktivisnya mengisahkan.

Bisnis mata-mata

Perusahaan-perusahaan besar semakin membutuhkan informasi terkait aksi atau kampanye yang menentang kegiatan mereka. Informasi itu dapat digunakan untuk menentukan langkah yang harus diambil untuk merespon kampanye di lapangan.

Terkadang, korporasi memaksa para aktivis untuk menyetop kampanye mereka, bahkan menyebarkan informasi palsu untuk mendiskreditkan para aktivis.

Perusahaan pengembang properti Donald Trump, Royal bank of Scotland, British Airways yang memanfaatkan layanan C2i untuk memata-matai para aktivis. Sedangkan Perusahaan energi RWE Npower memilih perusahaan Inkerman untuk mengintai aktivis yang dianggap berseberangan.

Pihak kepolisian Inggris mengklaim bahwa jumlah mata-mata dari perusahaan swasta lebih tinggi dibanding petugas kepolisian. Sejak 1968, polisi yang menyamar untuk memata-matai kelompok advokasi hanya berjumlah sekitar 144 orang.

Sedangkan mata-mata dari pihak intelijen swasta diperkirakan terjun dalam 25 persen organisasi aktivis. Dalam tiap diskusi isu lingkungan, sebagaimana disebut Stephen Armstrong dalam "The New Spies", mungkin ada satu mata-mata swasta.

Tingginya aktivitas spionase swasta tak lepas dari kehadiran bekas personel intelijen mulai dari CIA, FBI atau pensiunan militer. Beckett Brown International (BBI) misalnya, sebuah perusahaan detektif yang dibangun oleh pensiunan CIA.

Berbagai perusahaan spionase sangat berhati-hati dalam menyampaikan informasi terkait perusahaan di situs web, sebab mereka tak hanya memberi layanan pengintaian namun juga jasa lainnya seperti memberi pengamanan pejabat publik atau korporasi asing.

Pada umumnya ada dua cara memata-matai para aktivis. Pertama dengan menyusup sebagai sukarelawan, pendukung atau sebagai jurnalis guna mengumpulkan data atau informasi, misalnya yang dilakukan Kendall, dengan menggunakan identitas palsu.

Kedua, dengan menggunakan teknologi pengintaian yang mampu menembus telepon dan meretas data para aktivis.

Di berbagai belahan dunia, aktivitas spionase terhadap para aktivis sesungguhnya bukanlah hal baru. Dalam laporan New Matilda, perusahaan asbes asal Kazakhstan bahkan mengintai para penggerak kampanye anti-asbes antara 2012-2016. Sasaran pengintaian meliputi para anggota badan-badan kesehatan dunia hingga gerakan anti-asbes internasional di Inggris hingga Australia.

Di Indonesia, dalam wawancara Tirto dengan As’ad Said Ali, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara era Presiden Megawati Soekarnoputri, menyampaikan bahwa banyak intelijen asing yang bergerak di Indonesia. Namun, belum diketahui secara persis adakah bisnis-bisnis keamanan swasta menarget area aktivisme setempat.(*)

Sumber: Tirto.id/CNN Indonesia

 

loading...

#

Sebelumnya

Tahun baru 2018, militer AS siap terima transgender

Selanjutnya

Australia rekomendasikan Pastor dibolehkan menikah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Jumat, 18 Mei 2018 WP | 2943x views
Domberai |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 2625x views
Koran Jubi |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 1531x views
Koran Jubi |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 1323x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe