Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Australia rekomendasikan Pastor dibolehkan menikah
  • Minggu, 17 Desember 2017 — 18:39
  • 1201x views

Australia rekomendasikan Pastor dibolehkan menikah

Salah satu komisi negara Australia mengajukan serangkaian rekomendasi kepada Gereja Katolik untuk menghindari pelecehan seksual anak di institusi keagamaan tersebut, salah satunya menghentikan kewajiban hidup selibat atau tidak menikah bagi para pastor.
Ilustrasi. istock/Jubi
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Australia, Jubi - Salah satu komisi negara Australia mengajukan serangkaian rekomendasi kepada Gereja Katolik untuk menghindari pelecehan seksual anak di institusi keagamaan tersebut, salah satunya menghentikan kewajiban hidup selibat atau tidak menikah bagi para pastor.

Dalam laporan akhirnya yang dirilis Jumat (15/12/2017), Komisi Respons Institusi terhadap Pelecehan Seksual Anak Australia menuliskan bahwa Takhta Suci Vatikan harus harus mempertimbangkan risiko pelecehan terhadap anak yang berkaitan dengan aturan selibat dalam kehidupan religi.

"Ini harus mencakup pertimbangan apakah model kehidupan keagamaan dapat dimodifikasi untuk memfasilitasi bentuk lain dari asosiasi, jangka yang lebih pendek untuk komitmen selibat, dan/atau kehidupan selibat secara sukarela," demikian bunyi salah satu rekomendasi tersebut.

Rekomendasi ini merupakan salah satu dari 189 saran untuk mengatasi yang disebut oleh komisi tersebut sebagai "kegagalan serius" dari institusi Australia untuk melindungi warga paling rentan di negaranya, anak-anak.

Menurut komisi itu, anak-anak menjadi korban pelecehan seksual di berbagai instansi di Australia, termasuk organisasi keagamaan.

Dari para korban kekerasan seksual di instansi keagamaan yang diwawancarai komisi tersebut, 61,4 persen di antaranya mengatakan bahwa pelecehan itu terjadi di organisasi Katolik.

Komisi itu pun menyumbangkan sekitar 20 dari 189 rekomendasi tersebut bagi Gereja Katolik. Selain mengenai hidup selibat, rekomendasi tersebut mencakup terkait protokol penyaringan pastor dan kewajiban untuk melaporkan pengakuan keagamaan.

"Yang sekarang perlu dilakukan oleh para pemimpin Gereja adalah menanggapi dengan serius rekomendasi dan temuan ini dan mereka mau bertindak untuk mengatasi temuan ini," tulis komisi tersebut.

Salah satu temuan terbesar tersebut dilansir pada Februari lalu, yaitu fakta bahwa tujuh persen dari pastor Gereja Katolik di Australia diduga melakukan pelecehan seksual di dalam institusi keagamaan.

Sejumlah tokoh penting Katolik di Australia sudah meminta maaf atas temuan ini. Namun, Uskup Agung Melbourne, Denis Hart, mengatakan bahwa temuan dan rekomendasi ini masih harus dikaji dan dipelajari.

Menanggapi rekomendasi terkait hidup selibat, Hart hanya mengatakan, "Kami mengetahui bahwa institusi yang memiliki pastor selibat dan institusi yang tidak memiliki anggota selibat juga menghadapi masalah yang sama. Kami mengetahui bahwa ini juga terjadi di keluarga-keluarga yang tidak mempraktikkan hidup selibat."

Kasus pelecehan seksual para pastor terhadap anak binaannya yang sudah terjadi selama puluhan tahun ini pertama kali diungkap secara publik melalui laporan Boston Globe pada 2002.

Saat itu, Keuskupan Boston dilaporkan memindahkan para pendeta pelaku pelecehan ke berbagai tempat untuk melindungi mereka dan menutupi kasus itu. Sejak saat itu, ratusan korban dan skandal terungkap di AS dan berbagai negara, penyelidikan global juga dimulai.

Konferensi Uskup Katolik AS memperkirakan Keuskupan Amerika telah merogoh kocek hampir US$4 miliar sejak tahun 1950 untuk menyelesaikan kasus pelecehan dengan para korban.

Laporan Boston Globe yang memenangkan Penghargaan Pulitzer itu menginspirasi film peraih Academy Awards, "Spotlight."

Pada Juli 2014 silam, dalam sebuah pernyataan yang dikutip BBC dari surat kabar Italia, La Repubblica, pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus, menyatakan data yang dapat dipertanggungjawabkan menunjukkan sekitar 2 persen pastor di gereja Katolik adalah penderita pedofilia.

Itu berarti 1 dari 50 pastor adalah pedofil. Tindakan pencabulan yang dilakukan pastor, uskup, dan kardinal ini, kata Paus, ibarat penyakit lepra yang menjangkiti Gereja.

Namun juru bicara Vatikan menyatakan kutipan di surat kabar itu tidak sesuai dengan kata-kata Paus yang sebenarnya. Dalam wawancara itu, Paus sebenarnya mengatakan bahwa dua persen itu merupakan angka yang diberikan penasihatnya.

Meskipun demikian, Paus telah berjanji akan memperkuat hukum Vatikan terhadap pencabulan anak yang sering ditutup-tutupi oleh Gereja. Paus Fransiskus menyampaikan permohonan maaf dalam pertemuan pertamanya dengan korban pedofilia sejak ia menjabat Paus.

Pedofilia merupakan kelainan seksual yang memungkinkan penderitanya memiliki hasrat seksual terhadap anak-anak. Pedofilia bisa diidap siapa saja, termasuk orang yang berada dalam lingkungan yang dianggap religius sekali pun.(*)

Sumber: CNN Indonesia/Tempo.co
 


 

loading...

#

Sebelumnya

Awas, mata-mata perusahaan mengintai aktivis!

Selanjutnya

Kurz: muda, kontroversial, bakal pemimpin termuda dunia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe