Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Jawa
  3. Indonesia negeri gempa dan tsunami, tanpa alat memadai
  • Selasa, 19 Desember 2017 — 18:15
  • 2735x views

Indonesia negeri gempa dan tsunami, tanpa alat memadai

Indonesia mempunyai 22 Bouy atau alat pendeteksi tsunami. Namun semuanya dalam kondisi rusak.
Instalasi pendeteksi tsunami DART (Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis). NOAA/Jubi
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Senin, 15 Oktober 2018 | 06:14 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 21:06 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 19:52 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 12:30 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tasikmalaya, Jubi - Pada Jumat (15/12) malam, gempa bumi berkekuatan 6,9 Skala Richter (SR) menggoyang kawasan pesisir selatan Pulau Jawa. Pascagempa, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami yang membuat panik. Namun, berselang dua jam lebih, BMKG mencabut peringatan tsunami.

Indonesia adalah negara yang sudah akrab dengan tsunami. Setidaknya semenjak 1964 sudah terjadi 52 tsunami di seluruh dunia, delapan di antaranya menerjang wilayah Indonesia.

Tsunami, memang bencana alam yang mematikan. Pada 2004 setidaknya ada 100 ribu orang Indonesia meregang nyawa karena tsunami di Aceh. Besarnya dampak tsunami secara materi dan non materi, membuat antisipasi tsunami dengan peringatan dini tsunami sangat penting.

Gempa bumi menjadi pemicu utama terjadi tsunami selain letusan gunung api. Upaya mendeteksi tsunami menjadi bagian kegiatan pendeteksian gempa.

Mulyono Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG mengatakan secara umum, mendeteksi tsunami di Indonesia, menggunakan alat-alat yang sama untuk mendeteksi gempa.

“Tsunami ini kan bukan sesuatu yang berdiri sendiri, ini terjadi karena dampak lanjutan terjadi gempa bumi," terang Mulyono kepada Tirto.

Untuk mendeteksi gempa bumi dan tsunami, BMKG memiliki 33 stasiun geofisika di seluruh Indonesia. Selain itu, BMKG juga memiliki 285 alat untuk memonitor gempa antara lain seismometer.

Alat ini dipasang dengan sebaran yang merata. Gunanya mendeteksi di mana titik gempa berasal. Seismometer yang jauh dari titik gempa, mendeteksi getaran belakangan. Sedangkan alat seismograf disebar lebih dekat dengan kawasan yang berpotensi gempa dan mendeteksi lebih dahulu.

Apabila ada gempa di atas 6,5 Skala Richter, dengan pusat gempa dengan kedalaman kurang dari 70 km, dan terjadi di laut, maka tipikal gempa semacam ini dimasukkan dalam kategori potensi terjadi tsunami. Sehingga diteruskan sebagai peringatan potensi tsunami.

Alat-alat yang dimiliki BMKG, klaimnya, sudah mencukupi untuk melakukan pendeteksian gempa maupun potensi tsunami. Menurutnya, tak semua wilayah Indonesia berpotensi tinggi terhadap gempa.

“Sepanjang pantai Barat Sumatera ke Selatan, sepanjang pantai Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, kemudian sepanjang pantai Utara Papua, ini merupakan daerah-daerah yang sering gempa Bumi," katanya.

Secara sederhana, sistem pendeteksian tsunami di Indonesia tidak memakai perangkat khusus. Sistem pendeteksian yang dilakukan merupakan kelanjutan sistem pendeteksian gempa yang dimiliki BMKG.

Pendeteksi Tsunami di Laut

The Ocean-Based Tsunami Detection System atau akrab disapa Deep-Ocean Assessment and Reporting of Tsunami (DART) merupakan salah satu sistem khusus pendeteksi tsunami yang ditempatkan di lautan.

Sistem ini menempatkan perangkat pelampung khusus atau Deep-Ocean Tsunami Detection Buoys di tengah lautan. Perangkat khusus tersebut bertugas untuk mendeteksi perubahan level permukaan air laut.

DART muncul pertama kali dalam bentuk prototipe pada Oktober 2003. Pada kemunculan pertamanya, DART ditempatkan di 6 titik, yakni di Alaska, Oregon, dan di beberapa lokasi dekat dengan garis khatulistiwa.

Pada 2004, selepas tsunami menerjang Indonesia dan kawasan lainnya di Samudera Hindia, DART mengalami pembaruan atau akrab disapa DART II. Awalnya DART hanya 6 titik, NOAA kemudian memperluas sebarannya menjadi 36 titik pada 2008.

Perangkat yang mengapung itu mentransmisikan data melalui satelit pada pusat peringatan tsunami yang dimiliki masing-masing negara.

DART memiliki syarat khusus agar bisa beroperasi, tidak boleh terlalu jauh dari titik gempa dan tidak boleh pula terlalu dekat. Selain itu, komponen yang dipasang di dasar laut, harus ditempatkan di kedalaman lebih dari 3.000 meter.

Secara umum, tsunami terjadi dalam rentang 15-20 menit setelah gempa Bumi terjadi. Dalam kondisi normal, DART bekerja mengirimkan data tiap 15 menit sekali.

Namun, bila DART mendeteksi adanya aktivitas seismik yang tidak normal, ia akan secara otomatis bekerja dalam mode “event.” Mode yang memungkinkan DART mengirimkan data tiap satu menit sekali. Bila dalam 4 jam kemudian tidak ada kasus berarti, DART kembali ke kondisi normal.

Semenjak 2010, terdapat 40 tsunami yang sukses dideteksi oleh perangkat-perangkat tersebut. Sayangnya, meskipun perangkat DART menjanjikan, merujuk apa yang diungkap Mulyono, di Indonesia terutama BMKG tidak memiliki alat ini.

“BMKG tidak punya Buoys (DART), dulu pernah BPPT (punya),” kata Mulyono.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, Indonesia mempunyai 22 Bouy atau alat pendeteksi tsunami. Namun semuanya dalam kondisi rusak. Selama alat tersebut rusak, kata dia, BMKG mensinyalir ancaman tsunami secara manual.

"Semua rusak. Tidak ada anggaran untuk melakukan perawatan," ujar Sutopo, 2016 silam.(*)

Sumber: Tirto.id/ Merdeka.com

 

loading...

#

Sebelumnya

SK baru Bupati, jabatan kepala kampung enam tahun

Selanjutnya

LGBT, Menteri agama dan “kejahatan tanpa korban”

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4800x views
Nasional & Internasional |— Jumat, 05 Oktober 2018 WP | 4689x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4180x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 3607x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe