Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Menteri BUMN menilai pengrajin Papua perlu pelatihan
  • Rabu, 20 Desember 2017 — 17:57
  • 883x views

Menteri BUMN menilai pengrajin Papua perlu pelatihan

Rini mengaku sudah mendatangi Rumah Kreatif BUMN di Nabire dan melihat berbagai macam hasil kerajinan masyarakat Papua.
ilustrasi, sejumlah kerjinan di Phulende Art Shop - Jubi / dok.
ANTARA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Edi Faisol

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Nabire, Jubi - Menteri badan usaha milik negara (BUMN) Rini Soemarno, menilai para pengrajin di Papua perlu mendapat pelatihan agar produksi mereka lebih bervariasi dan dapat besaing di pasar. Rini mengaku sudah mendatangi Rumah Kreatif BUMN di Nabire dan melihat berbagai macam hasil kerajinan masyarakat Papua.

"Ke depan pelatihan-pelatihan harus banyak dilakukan," ujar Rini Soemarno, di Nabire dalam rangka mendampingi Presiden Joko Widodo, Rabu (20/12/2017)

Ia menilai banyak pengrarin, termasuk mereka yang menggunakan bahan baku dari kulit kerang, tapi modelnya masih perlu ditambah. Menteri Rini berencana mendatangkan mentor yang sebelumnya telah berhasil memasarkan hasil kerajinan tangannya.

"Nanti kita undang pengrajin dari Cirebon (Jawa Barat) untuk berbagi ilmu," ujarnya Rini menjelaskan .

Kementerian BUMN juga akan membantu pemasaran, salah satunya melalui situs www.belanja.com. Kebijakan  dilakukan di luar pendampingan pada hasil karya pengrajin. Program pendampingan melibatkan dengan BRI dan Telkomsel agar mereka bisa masuk ke e-comerce.

Minimnya perhatian diakui para pengrajin produk tradisional di Kabupaten Kaimana  yang ingin pendampingan untuk megembangkan produksi dan pemasaran secara luas. Keinginan itu terkait dengan  sejumlah hambatan yang membuat produk mereka kurang diminati publik.

“Selama ini belum ada ruang yang disediakan pemerintah daerah bagi kelompok pengrajin. Sehingga produk yang dihasilkan oleh anggota kelompok, tidak bisa dipasarkan,” kata Kans Taran, seorang pengrajin hiasan kepala dari bulu Kasuari, yang berdomisili di Kaimana, saat mengikuti pameran Pesparawi yang digelar oleh pemerintah daerah setempat.

Kans mengaku selama ini kesempatan menjual hasil kerajinan hanya melalui pameran. Itu pun pameran yang diadakan oleh Pemerintah dan hanya sekali dalam setahun. “Kalau untuk memasarkan keluar, masih agak sulit,” kata Kans menambahkan.

Ia menjelaskan, hambatan yang dialami  selain tidak ada operasional, tapi juga hasil kerajinan yang dibuat belum bagus. Kondisi itu akibat pembinaan, pelatihan di luar Kaimana belum diadakan. Bahkan, menurut Kans, nilai jual produk yang dibuat belum memiliki daya saing yang bagus.(*)

loading...

Sebelumnya

Kopi Dogiyai diharapkan menjadi prioritas pembangunan ekonomi

Selanjutnya

Musim buah mangga, pedagang musiman mulai bermunculan di pasar Pharaa

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe