Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Blackbirding: Sejarah penipuan dan penculikan orang Kepulauan Pasifik ke Australia
  • Rabu, 27 Desember 2017 — 18:21
  • 1486x views

Blackbirding: Sejarah penipuan dan penculikan orang Kepulauan Pasifik ke Australia

Sekarang keturunan mereka, komunitas Australian South Sea Islander, menyerukan agar sejarah leluhur mereka yang tragis diakui.
Buruh laki-laki dan perempuan dari Pasifik selatan bekerja di salah satu perkebunan di Australia pada tahun 1890. - ABC/Perpustakaan Negara Queensland.
Elisabeth Giay
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi - Sejak 1860an, puluhan ribu orang Kepulauan Pasifik dibawa ke Australia untuk bekerja di perkebunan di Queensland, seringkali melibatkan kekerasan atau tipu daya dalam prosesnya.  

Berbagai kuburan massal tanpa bertanda, penuh dengan buruh kasar yang meninggal selama waktu bekerja di perkebunan-perkebunan tersebut, masih ditemukan hingga sekarang.

Sekarang keturunan mereka, komunitas Australian South Sea Islander, menyerukan agar sejarah leluhur mereka yang tragis diakui.

Apa itu blackbirding?

Meskipun sudah ada bukti bahwa sedikit dari 62.000 orang Pasifik yang dikirim ke Australia datang dengan sukarela setelah menandatangani kontrak untuk bekerja di perkebunan, banyak lainnya ditipu atau dibawa secara paksa ke kapal-kapal.

Praktik ini dikenal sebagai blackbirding. Mayoritas buruh adalah laki-laki, tapi perempuan dan anak-anak juga dibawa secara paksa.

Sebagian besar mereka berasal dari Vanuatu dan Kepulauan Solomon, namun para pekerja juga “direkrut” dari Kepulauan Loyalty (bagian dari Kaledonia Baru), Papua Nugini, Tuvalu, Kiribati dan Fiji.

Batch buruh pertama dari Pasifik untuk bekerja di Queensland sampai di Moreton Bay di kapal Don Juan pada tahun 1863, dan bekerja di sebuah perkebunan kapas.

Emelda Davis, presiden organisasi Australian South Sea Islanders - Port Jackson, mengatakan bahwa kakeknya diculik dari Pulau Tanna di Vanuatu saat ia masih berusia 12 tahun.

“Amerika (saat itu) telah selesai perang saudara untuk mengakhiri perbudakan sementara di Pasifik program buruh paksa ini baru saja dimulai”.

Apakah blackbirding termasuk perbudakan?

Nah, fakta bahwa pekerja-pekerja tersebut dibayar membuat sulit untuk mengklasifikasikan mereka sebagai budak, namun perlu dicatat bahwa gaji yang dibayarkan jauh lebih rendah dari gaji yang diterima pekerja Eropa.

Pekerja-pekerja tahun pertama menerima gaji sesuai tingkat dan standar enam pound per tahun, dan nominal gaji itu tetap bertahan selama 40 tahun tanpa kenaikan meskipun terjadi inflasi upah di tempat lain di Queensland.

Demikian juga, karena buruh-buruh itu telah menandatangani kontrak, mereka secara teknis telah terikat sebagai buruh bayaran.

Kerajaan Inggris juga telah mengakhiri perbudakan saat Kapal Don Juan tiba di Queensland.

Namun, definisi hukum ini tidak berarti buruh-buruh tersebut tidak mengalami “perlakuan dan kondisi seperti budak.”

“Setelah perbudakan dihapuskan, para orang Inggris yang sebelumnya melakukan ini mulai bertanya kepada diri mereka sendiri ‘bagaimana kita bisa mendapatkan tenaga kerja buruh yang sama dengan yang kita gunakan sebelumnya,’ maka mereka menggunakan sistem kontrak yang tidak umum itu,” kata Profesor Clive Moore, seorang peneliti terkemuka sejarah South Sea Islander di Universitas Queensland.

“Apakah Anda menyebutkan mereka sebagai budak atau tidak, yang pasti adalah mereka bekerja dalam kondisi yang sama seperti budak. Itu seringkali sangat mengerikan.”

Davis mengatakan keadaan suram itu tercermin dalam sejarah lisan keluarganya tentang apa yang terjadi pada kakeknya.

“Mereka mengalami segregasi dari masyarakat luas, sama seperti orang Afrika-Amerika  di AS.”

Para buruh juga mengalami tingkat kematian yang tinggi. Sekitar 30 persen dari mereka yang datang meninggal di perkebunan karena terkena penyakit asal Eropa, malnutrisi dan penganiayaan.

Kapan ini berhenti?

Program buruh kontrak dari kepulauan Pasifik berakhir pada saat era lain yang sama tidak nyamannya dimulai dalam sejarah Australia.

Undang-undang Pekerja Pulau Pasifik tahun 1901 memerintahkan deportasi massal dari sebagian besar 10.000 atau lebih pekerja di negara ini.

Perundang-undangan tersebut merupakan bagian dari reformasi yang kemudian dikenal sebagai kebijakan White Australia Policy.

Berdasarkan UU tersebut, buruh Pasifik yang diizinkan tinggal di Australia adalah mereka yang tiba sebelum tanggal 1 September 1879, bekerja di kapal-kapal, atau menerima pengecualian tertentu.

Cara pemerintah mendanai deportasi massal tersebut, menurut standar modern, sangat mengganggu.

Ketika parah buruh meninggal upah mereka dimasukkan ke dalam akun yang digunakan untuk mengirim barang-barang dagang kembali ke pulau mereka, sebagai kompensasi atas kematian.

Ini hanya terjadi sekitar 16 persen, Pemerintah Queensland menyerap sisa dana tersebut.

Pemerintah Queensland memberikan dana itu kepada Persemakmuran untuk membiayai deportasi massal tersebut.

Hanya sekitar 2.500 dari mereka yang berhasil menghindari deportasi, keturunan mereka sekarang dikenal sebagai komunitas South Sea Islanders.

Apa yang terjadi sejak itu?

Nah, jawaban dari pertanyaan ini sangat tergantung kepada siapa Anda menanyakannya.

Pada tahun 1994, Pemerintah Persemakmuran Commonwealth mengakui South Sea Islanders (orang asal Kepulauan Laut Selatan) sebagai kelompok budaya yang berbeda dan berterima kasih atas jasa mereka kepada ekonomi Australia.

Queensland menyusul setelah itu dan secara resmi mengakui komunitas itu pada bulan Juli 2000, sementara  New South Wales melakukannya pada tahun 2013.

Profesor Moore mengatakan walaupun pengakuan itu adalah langkah yang menjanjikan pada saat itu, hanya sedikit yang telah dilakukan sejak itu.
diakui di Australia.

“Sejarah ini adalah sejarah kita semua dan supaya kita bisa maju sebagai satu bangsa kita benar-benar perlu para pemimpin untuk memilikinya, mengakuinya dan kemudian datang ke meja kami, bekerja dengan kelompok pemimpin kami  untuk membantu memperbaiki kesalahan ini.” (*)

loading...

Sebelumnya

Ada apa dengan penjualan paspor Kepulauan Pasifik?

Selanjutnya

Nelayan PNG diduga berburu dugong di perairan Australia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe