Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. UNIPA gelar Simposium Internasional Bentang Laut Kepala Burung dan Konektivitas Pan-Pasifik
  • Sabtu, 29 Oktober 2016 — 12:13
  • 802x views

UNIPA gelar Simposium Internasional Bentang Laut Kepala Burung dan Konektivitas Pan-Pasifik

“Selain spesien hewan, 75% masyarakat yang hidup di kawasan ini juga sangat bergantung pada sumberdaya laut, dan kerusakan lingkungan laut akan mempengaruhi sumber penghidupan masyarakat,” kata Ricardo terkait sekitar 800 ribu masyarakat dari berbagai suku dan ragam budaya yang mendiami kawasan BLKB.
Dua anak lelaki dari Kampung Wombu menuju ke Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, yang terletak di kawasan Teluk Cenderawasih, Propinsi Kepala Burung – Jubi/Zely Ariane
Zely Ariane
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Sebuah simposium internasional terkait konservasi perairan dan keanekaragaman hayati bentang laut di wilayah Kepala Burung Papua akan diselenggarakan di Manokwari, Papua Barat, 2-4 November mendatang.

Simposium ini diselenggarakan oleh Universitas Papua (UNIPA) bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat, The Nature Conservancy (TNC), Conservation International (CI), dan World Wildlife Fund (WWF) dengan tema Memperkuat Konektivitas Konservasi Perairan Pan-Pasifik.

Menurut ketua panitia penyelenggara, Ricardo F. Tapilatu, tema konektivitas konservasi Pan-Pasifik dipilih memang bertujuan untuk penguatan keterhubungan Pasifik bagian barat.

“Mewakili Pasifik akan ada peserta dari Selandia Baru dan Australia. Ini untuk membantu perkuat Pan-Pasifik, seperti dilakukannya sebelumnya di Hawaii,” ujar Ricardo kepada Jubi via telpon, Jum’at (28/10/2016).

Menurut dia Papua Nugini sebelumnya diharapkan hadir, namun tidak bisa oleh karena hambatan teknis. Sementara negara-negara Pasifik Selatan, lanjut Ricardo, tidak terlibat karena sudah melakukan kegiatan serupa di kawasannya sendiri.
Simposium yang akan membahas semua aspek penelitian keanekaragaman hayati dan konservasi perairan di wilayah bentang laut kepala burung itu, menurut Ricardo, akan diikuti oleh peneliti dari dalam negeri maupun mancanegarajuga, pemerhati lingkungan ekosistem pesisir, praktisi konservasi dan mahasiswa.

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) terletak di bagian barat laut Pulau New Guinea, Provinsi Papua Barat, membentang dari Teluk Cendrawasih di bagian timur hingga Kepulauan Raja Ampat di bagian barat dan Fakfak-Kaimana di pantai selatan dengan luasan 22.5 juta ha.  Kawasan-kawasan konservasi perairan yang ada di Bentang Laut tersebut adalah Teluk Cenderawasih, Tambrauw, Raja Ampat dan Kaimana.

Segitiga Karang Dunia
BLKB ini dikatakan menjadi rumah bagi lebih dari 1.700 spesies ikan karang dan 600 spesies karang keras yang merupakan 75% dari total spesies karang di dunia dan menjadikannya sebagai lokasi dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi yang pernah tercatat di dunia. Karena itu BLKB menjadi episentrum segitiga karang dunia.

Selain ekosistem terumbu karang, BLKB juga memiliki dua ekosistem pesisir terluas di dunia yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem padang lamun.  Kedua ekosistem pesisir ini mendukung kehidupan larva ikan, buaya air asin, serta menyediakan perlindungan dan pangan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah ini.

Ancaman yang ada di depan mata, menurut panitia, adalah spesies kharismatik yang terancam punah, padahal itulah yang menjadikan BLKB punya kekhasan sendiri. Spesies-spesies itu antara lain 17 species paus dan lumba-lumba, tempat peneluran penyu belimbing terbesar yang masih tersisa di Pasifik, penyu hijau, penyu lekang, dan penyu sisik.

“Selain spesien hewan, 75% masyarakat yang hidup di kawasan ini juga sangat bergantung pada sumberdaya laut, dan kerusakan lingkungan laut akan mempengaruhi sumber penghidupan masyarakat,” kata Ricardo terkait sekitar 800 ribu masyarakat dari berbagai suku dan ragam budaya yang mendiami kawasan BLKB.

Pemerintah Provinsi Papua Barat mengatakan sangat mendukung penyelenggaraan simposium internasional ini.

“Keberhasilan pengelolaan kawasan Bentang Laut Kepala Burung yang berkelanjutan memerlukan sinergi semua pihak, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat, selaras dengan visi Provinsi Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Drs. Nataniel D. Mandacan.

Sementara Rektor UNIPA, Dr. Ir. Jacob Manusawai, MH. berharap simposium tersebut dapat menjadi media pertukaran informasi, pengalaman dan pengetahuan bagi seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan pengelolaan BLKB.
“Kami juga harapkan ini akan dapat memperkuat hubungan antara para peneliti dengan pengambil kebijakan dalam mengelola BLKP,” ujar Rektor UNIPA Dr. Ir. Jacob Manusawai, MH.(*)

 

loading...

Sebelumnya

Bupati Paniai: Penuntasan kasus Paniai Berdarah adalah tugasnya negara

Selanjutnya

Bawa 14 kasus, 21 Anggota DPR Papua Barat temui KOMNAS HAM

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe