Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. 2018, diharapkan masyarakat sipil waspada, institusi keamanan kendalikan diri
  • Senin, 08 Januari 2018 — 16:37
  • 1472x views

2018, diharapkan masyarakat sipil waspada, institusi keamanan kendalikan diri

Selanjutnya ada anggota TNI post Napua, Kodim 1702 Jayawijaya yang diduga telah menyiksa 15 orang pria, tiga ibu, tiga remaja dari Yigi, Nduga, dalam perjalanan ke Wamena pada 3 Januari 2018.
Aksi protes masyarakat asli Papua untuk mengakhiri kekerasan di Tanah Papua - Dok. Jubi
Benny Mawel
Editor : Dominggus Mampioper
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Kasus kekerasan dan penembakan di tanah Papua tak pernah berhenti dari tahun ke tahun. Pasalnya kasus satu belum tuntas muncul pula yang lainnya, begitu gampangkah nyawa manusia ditembusi timah panas.

Rentetan peristiwa kekerasan dari era Daerah Operasi Militer (DOM) sampai reformasi dan berlakunya UU Otonomi Khusus di Papua tak pernah hilang dari penembakan dan pembunuhan. Baik oknum aparat negara sampai mereka yang disebut orang tak dikenal. Paniai berdarah belum tuntas, kini muncul pula noda awal di tahun baru, kasus Nduga.

Anggota Komisi I DPR Papua yang membidangi hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa mengatakan, kasus meninggalnya seorang pemuda di Kabupaten Nduga, Papua, Anekanus Kemaringi karena diduga dianiaya oknum TNI, merupakan noda Papua di awal tahun ini.

Ia khawatir, kasus Nduga akan menjadi awal kelam di Papua tahun ini. Tidak menutup kemungkinan, ke depan akan banyak lagi darah masyarakat sipil Papua yang tertumpah di atas tanah ini.

"Saya khawatir tahun ini banyak kejadian, apalagi ini tahun politik. Awal tahun sudah seperti ini. Saya minta masyarakat Papua waspada, kepada semua institusi negara, harap dapat mengendalikan diri," kata Kadepa kepada Jubi, Jumat (5/1/2018).

Kejadian-kejadian ini lanjut Kadepa merupakan bagian dari peristiwa lainnya di tanah Papua. Namun kata dia dalam kasus Nduga juga ada perbedaan kronologis antara pihak Kodam dengan masyarakat. Pihak Kodam menyatakan karena ada penyerangan, sementara masyarakat menyampaikan hal sebaliknya.

"Saya turut berbelasungkawa terhadap korban. Perbedaan kronologis Kodam dan masyarakat, itu sudah sering terjadi, bukan hal baru," ujarnya.

Katanya, sejak dulu semua kasus yang melibatkan oknum TNI-Polri, kronologisnya selalu berbeda. Kronologis versi kepolisian dan TNI, selalu saja berbeda dengan laporan masyarakat atau saksi.

"Saya pikir, ke depan apa pun yang dikerjakan, masyarakat tidak akan percaya lagi. Ini masalah kepercayaan," katanya.

Ia juga pesimis, kasus ini dapat dituntaskan, meski pihak terkait, termasuk DPR Papua turun lapangan.

"Akan seperti berbagai kasus lainnya, tidak ada kepastian penyelesaian. Saya mau, secara lembaga DPR Papua mengundang Kodam XVII/Cenderawasih, membicarakan masalah ini," ucapnya.

Aktivis Hak Asasi Manusia di Nduga, Wene Talenggen mengatakan, anggota TNI Pos Maleo yang bertugas di wilayah itu menganiaya Anekanus Kemaringi hingga akhirnya kehilangan nyawanya.

Jasad korban berusia 22 tahun itu sempat disembunyikan di pos jaga, bahkan sempat ditolak saat keluarga meminta jasad korban.

"Anggota mau tembak, mulai memberikan tembakan tetapi komandan pos bilang pukul saja. Mereka memukuli hingga korban babak belur," ujar Wene kepada Jubi, Selasa (2/1/2018)

Saat kejadian, kata dia korban berusaha menyelamatkan diri dengan cara berlari sejauh lima meter dari pos, namun komandan pos dan satu anggotanya yang bertugas, menarik korban ke pos.

"Korban sudah tidak berdaya ada di depan pos. Saat itu enam anggota TNI dari Koramil Nduga datang menganiaya korban hingga meninggal dunia," ucapnya.

Selanjutnya ada anggota TNI post Napua, Kodim 1702 Jayawijaya yang diduga telah menyiksa  15 orang pria, tiga ibu, tiga remaja dari Yigi, Nduga, dalam perjalanan ke Wamena pada 3 Januari 2018.

Peristiwa ini selang sehari kematian Anekanus Kumarigi 22. Kumaringgi tewas diduga akibat penyiksaan berat  anggota TNI Pos Maleo di Kenyam, Nduga pada 1 Januari sore. Peristiwa ini ujung dari open houses tahun baru anggota TNI pos Maleo.

Dianiaya dan disiksa
Abualak Kogoya 28 tahun, korban diduga mengalami penyiksaan anggota Pos TNI Napua. Ia mengatakan  terjadi penyiksaan terhadap 15 pria dewasa, tiga remaja dan tiga ibu di pos Napua hingga halaman Kodim 1702 Jayawijaya.

“Tiga ibu itu turut dipukul pakai kabel saja. Kalau laki-laki, dewasa sampai Remaja itu disiksa. Kena pukul ana kurang lebih 10 anggota. 6 orang berseragam dan bersenjata. Tiga atau empat itu preman,”kata Kogoya.  

Kata dia, kronologis penyiksaan. Pukul 10:00, Dua mobil Estrada penumpang  ke distrik Jigi, Nduga. Dia bersama warga jasa angkutan itu menuju Wamena dengan tujuan Wamena dan Jayapura.

“Ada yang mau antar anak pulang libur sekolah. Ada yang pelajar dan ada yang mahasiswa jadi tujuan Jayapura,”ungkapnya kepada jurnalis Jubi, Jumat (5/1/2018).

Dua mobil itu membawa warga menuju Wamena, ibu kota kabupaten Jayawijaya. Kurang lebih, pukul 15:30, arak-arakan dua mobil itu memasuki pos Napua. Anggota TNI yang bertugas menghentikan dua kendaraan itu.

"Empat anggota, bersenjata menuju mobil di belakang mobil saya. Anggota TNI itu masukan kepala saja ke dalam mobil. Dia macam pura-pura ambil, tarik badan lagi baru teriak-teriak siapa yang bawa peluru ini,"katanya.

Mereka mulai melepaskan tembakan lanjut dia dan bunyi tembakan banyak sekali." Padahal di taxi itu kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak. Semua jadi panik dan takut,"katanya.

"Kami disuruh mengaku. Kami dipaksa mengaku siapa pemilik peluru. Kami tidak tahu, tidak mengaku. Mereka makin emosi karena tidak ada yang mengaku karena memang tidak tahu,"katanya.

Wene Tabuni, aktivis  Hak asasi manusia kabupaten Nduga yang berhasil menemui korban  dan mengakui  ada 11 Warga yang mengalami luka.

" Ada yang luka sobek di punggung, dahi, tagan memar, punggung memar,"kata Alumni Sekolah HAM di ElSAM Jakarta ini.

Menurut dia, ada kemungkinan tangan dari beberapa korban patah. Hanya tidak bisa pastikan karena tidak menjalani pemeriksaan medis lantaran tidak nyaman.

"Mereka ketakutan karena ada beberapa anggota sampai kejar ke UGD Wamena ketika mau berobat. Mereka takut jadi pulang. Tidak berobat,"katanya.

Warga yang mengalami kekerasan mengatakan sejumlah orang terluka dan sejumlah uang lenyap. Diduga uang yang raup sekitar 3,4 juta rupiah.

“Mereka ambil barang berharga macam HP, dan uang. Ada beberapa orang yang terluka,”ungkap Wene Tabuni, aktivis HAM dari Nduga ini.

Abualak Kogoya, korban penyiksaan mengatakan ada beberapa nama ini masing-masing.Sarian Wasiangge, kepala luka sobek kena popor senjata. Tadanus Tabuni, remaja 15 tahun, alis mata kiri sobek kena popor senjata. Lau Ngiyangge 30 tahun, luka sobek dipunggung kena popor senjata.

Bareta dan 150 butir peluru
Sementara itu Kapendam Kodam XVII Cenderawasih, Kol Inf Muhammad Aidi saat dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. Peristiwa itu berawal dari penangkapan seorang yang membawa senjata.

“Pasca penangkapan seorang warga yang membawa senjata pistol jenis Bareta dan 150 butir amunisi di Kampung Ikelik,"katanya.

"Aparat TNI Pos Napua melaksanakan sweeping kendaraan yang lewat di pos tersebut,”ungkap Aidi membalas pesan jurnalis Jubi, Jumat (5/1/2018).

Kata dia, saat itu, melintas kendaraan strada Triton warna hitam dengan nomor polisi  DS 7517 Z . Ketika anggota melakukan pemeriksaan dan penggeledahan  ditemukan 30 butir munis campuran dibawa jok depan mobil.

“Tidak lama kemudian datang lagi dua unit mobil Triton lainnya dari Arah Mbua menuju ke Wamena mengangkut masyarakat dan semuanya dihentikan,”katanya.

Menurut dia, seluruh penumpang ditanya asal usul, tujuan mau ke mana dan kenapa ada amunisi tapi semuanya tutup mulut.

“Sehingga mereka ada yang di suruh jungkir dan beberapa yang dipukul ringan ditempeleng tapi tidak ada yang cedera atau lebam apalagi luka robek,”tegasnya.

Tindakan fisik itu tidak membuat warga mengaku. Karena itu, menurut Aidi, warga itu dibawa ke Kodim 1702/JYW. Ketika tiba di Kodim, kebetulan di Kodim sedang ada staf Bupati Nduga.

Setelah ditanya oleh staf Bupati ternyata mereka semua adalah Warga Yigi Nduga yang mau berangkat ke Timika lewat Bandara Wamena. Menurut mereka di Timika akan ada Perang Suku akibat tewasnya seorang warga Nduga yang kena puluhan anak panah. Namun mereka tetap tidak mengaku dan tidak tahu menahu tentang keberadaan amunisi tersebut.

“Atas jaminan Bupati Nduga Jerius Gwijangge seluruh warga dikembalikan ke kampungnya. Sementara keberadaan amunisi masih dalam penyidikan,”ungkap Aidi.(*)

Arjuna Pademme berkontribusi dalam laporan ini.

loading...

Sebelumnya

Besok, KPU mulai buka pendaftaran pasangan calon gubernur 

Selanjutnya

Pergub HAM Papua tersandung Biro Hukum

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat