Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Saireri
  3. Sejumlah band legendaris Papua hibur masyarakat Nabire
  • Senin, 15 Januari 2018 — 14:14
  • 991x views

Sejumlah band legendaris Papua hibur masyarakat Nabire

"Senin untuk menghibur resepsi pernikahan keluarga Pak Peter. Sementara Selasa untuk menghibur masyarakat Kota Nabire," kata Sandi, saat ditemui di salah satu hotel di Nabire, Minggu (14/01/2018).
BCB saat latihan di Nabire, Senin (08/01/18) - Jubi/Titus Ruban
Titus Ruban
Editor : Galuwo
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Gabungan grup band legendaris asal Papua, Black Colection Band (BCB), yang terdiri dari band-band lawas seperti Black Brothers, Black Papas, Black Sweet, Black Coconuts, dan Abreso, akan tampil di Kota Nabire, Senin (15/01/2018) dan Selasa (16/01/2018).

Sandy Betay yang didapuk untuk memimpin BCB, mengatakan kedatangan mereka ke Nabire awalnya atas undangan Peter Worabay.

"Senin untuk menghibur resepsi pernikahan keluarga Pak Peter. Sementara Selasa untuk menghibur masyarakat Kota Nabire," kata Sandi, saat ditemui di salah satu hotel di Nabire, Minggu (14/01/2018).

Pada kesempatan itu, Sandy pun singkat mengisahkan perjalanan karir para band legendaris Papua tersebut.

"Zaman kami, alat musik sangat terbatas. Tapi kami bisa membuktikan bahwa orang Papua bisa bersaing di dunia musik," katanya.

Demi karir, kata dia, mereka terpaksa harus meninggalkan tanah Papua dan hijrah ke ibu kota Jakarta. "Karena kalau hanya bertahan di Papua, keinginan kami untuk bisa dikenal tidak bisa terwujud."

Kata Sandy, tembang-tembang dari grup band asal Papua, seperti Black Brothers dan Black Papas, banyak mengangkat fakta kehidupan saat itu.

"Apa yang kami saksikan saat itu, kami jadikan lagu. Misalnya pada zaman Orde Baru, perbedaan antara si kaya dan si miskin sangat tampak. Kehidupan orang miskin juga semakin terpuruk,” kisah Sandy.

"Kenapa orang kaya tidak perduli dengan orang miskin? Lalu kami menciptakan lagu untuk menggerakan hati para orang kaya, agar peduli," tambahnya.

Salah satu tembang dari Black Brothers yang berisi kritikan, kata dia, seperti lagu Hari Kiamat. "Itu berisi kritikan agar yang kaya peduli kepada si miskin."

Sandy mengaku, pada zaman Orde Baru, lagu-lagu berisi kritikan memang sangat sensitif. "Kami pernah diteror. Tapi tidak sampai ada penangkapan."

Ia berharap, saat ini dan ke depan, ada generasi muda Papua yang menggantikan posisi mereka menyuarakan isi hati dengan lagu.

"Kami ingin ada grup-grup band baru asal Papua, yang bernyanyi tentang tanah Papua," katanya.

Sementara itu, Ian Ulukyanan, salah seorang anggota grup band Black Sweet, mengatakan andil Black Brothers untuk mereka cukup besar.

"Kami terinspirasi dari Black Brothers. Kendati saat itu alat-alat musik cukup mahal, tekad kami sangat besar," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Biak prioritaskan pengembangan sektor pariwisata

Selanjutnya

Ratusan guru kontrak di Biak setahun tak terima honor

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe